Jumat, 16 November 2018 06:28 WIB
pmk

Nasional

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Pertama Indonesia Cicipi Gelar Juara Dunia

Redaktur:

Sprinter Indonesia Lalu Muhammad Zohri.

Atlet atletik Lalu Muhammad Zohri, seharian kemarin, Kamis (12/7), ramai diperbincangkan publik. Lalu mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Atlet asal Lombok Utara ini meraih medali emas. Namun, siapa sangka, ia hidup di bawah garis kemiskinan.

SUHARLI, Lombok Utara

INDOPOS.CO.ID - Atlet asal Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini baru saja mengikuti Asian Junior Athletic yang diselenggarakan di Gifu Jepang belum lama ini. Zohri panggilan akrabnya, sukses meraih medali emas setelah berhasil menaklukkan pelari asal berbagai negara.

Dia menjadi sprinter pertama Indonesia yang mencicipi gelar juara dunia, di Kejuaraan Dunia U-20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia Kamis dini hari (WIB).

Sebelumnya, Zohri merengkuh tiket menuju ajang tahunan itu pada test event Asian Games di Jakarta awal tahun ini. Dengan modal catatan waktu 10,25 detik, Zohri akhirnya mendapatkan slot di kejuaraan dunia. Awal Juni lalu, ia meraih emas Kejuaraan Asia Junior di Jepang.

Saat itu, dia mencatatkan waktu 10,27 detik. Dengan kondisi yang ada saat ini, Zohri mampu mengejutkan dunia. Tampil di final, Lalu menempati line ke-8. Dia memperlihatkan start mulus, berbeda dengan ketika dia menjadi juara Asia junior belum lama ini. Zohri bersaing ketat dengan pelari muda tercepat dari seluruh Indonesia.

Tetapi, pelari yang masih tercatat sebagai siswa SMA Ragunan itu mencatatkan waktu terbaik 10,18 detik. Itu mengungguli dua pelari Amerika Serikat, Anthony Scwartz dan Eric Harrison yang sama-sama mencatatkan waktu 10,22 detik. 

Dengan sederet prestasinya, kehidupan keluarga Johri masih memprihatinkan. Dibutuhkan perhatian pemerintah guna membantu keluarga Zohri. “Johri kalau pulang tidur di rumah bedek peninggalan orang tua kami. Kami sudah usulkan bantuan program rumah kumuh dari pemerintah Lombok Utara, namun belum ada kabar sampai saat ini,” kata Ma’rif, kakak Lalu Muhammad Johri kepada wartawan, yang ditemui di rumahnya, Kamis (12/7).

Rumah berdinding kayu itu hanya dijaga karib Zohri, Zuliadi, teman semasa kecil Zohri. ”Rumah ini saya yang menjaganya. Kakak Zohri sibuk kerja di Gili Trawangan. Kalau Zohri pulang, istirahatnya di sini,” kata Zuliadi.

Rumah dengan panjang 7x4 meter hanya disanggakan kayu balok. Dinding pembatas ruang tamu dan ruang tidur hanya disekat papan.

Di kamar tamu tersisa beberapa perabotan dapur almarhum ibunya, Saeriah. Perabotan itu ditutup menggunakan kardus. Di kamar tidur, beberapa alat pertanian milik almarhum ayahnya, L Ahmad tersimpan rapi di bawah dipan kasurnya yang telah lapuk.

Tempat tidurnya, tak ada kasur empuk. Dipan itu hanya beralaskan tikar lusuh dan selimut. Dinding kamar yang terbuat dari bedek ditempeli koran-koran bekas. Alas dan sekat lemari patah.

Kendati hidup miskin, Zohri tak pernah mengeluh. Bahkan, dia merasa nyaman dengan tempat tidur yang sederhana. “Dulu, kalau dia (Zohri, Red) malas sekolah selalu dicari gurunya. Kalau dicari pasti dia sedang tidur ditempat tidur ini,” bebernya.  

Zohri hidup dengan keterbatasan. Kakak pertamanya, Fadilah rela bekerja keras untuk menyekolahkan Zohri. ”Saya dan adik nomor dua, bertekad untuk terus menyekolahkan Zohri,” kata Fadilah.

Semasa sekolah, Zohri pemalas. Dia sangat sulit bangun pagi. ”Tiap pagi, saya selalu capek membangunkannya. Kalau tidak ada uang saku, dia tidak ingin sekolah,” ujarnya.

Sehingga, beberapa kali dia harus dicari gurunya ke rumah. Namun, setiap gurunya ke rumah, pasti Zohri ditemukan dalam keadaan tidur. “Di sinilah, dia tidur kalau dicari sama gurunya,” kata Fadila sambil merapikan dipan.

Pada 2015, menjadi tahun yang sangat menyedihkan bagi anak bungsu dari empat bersaudara itu. Ibunda tercintanya, Saeriah meniggal dunia karena penyakit types. ”Saya diberikan tanggung jawab sama almarhum Ibu untuk menjaga dan menyekolahkan Zohri,” ujarnya.

Setelah, ibunya meninggal, pria yang akrab disapa Badok di desanya itu mulai berubah. Tiap azan subuh dia bangun sendiri. ”Saya tidak lelah lagi membangunkannya. Sekolahnya lebih rajin juga,” kata dia.

PRIHATIN – Kakak kandung Lalu Muhammad Zohri, Fazilah, merapikan tempat tidur yang dulu merupakan tempat tidur Zohri sewaktu SMP, di rumah orang tuanya di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Barat

PRIHATIN – Kakak kandung Lalu Muhammad Zohri, Fazilah, merapikan tempat tidur yang dulu merupakan tempat tidur Zohri sewaktu SMP, di rumah orang tuanya di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Barat.

Sebelum ayahnya meninggal pada 2016, guru olahraganya di SMP 1 Pemenang, Rosida pernah datang ke rumahnya. Dia meminta izin kepada bapaknya untuk mendorong Zohri untuk ikut olahraga atletik. ”Kalau dulu, Zohri ini hobinya bermain bola. Namun, setelah mendengar ceramah almarhum bapak, dia ingin terjun mengikuti olahraga atletik,” ujarnya.

Setiap selesai salat subuh, dia selalu menyempatkan diri untuk berlari ke bangsal. Larinya pun tanpa menggunakan sepatu. ”Setelah lari baru dia mandi dan berangkat ke sekolah,” ingatnya.

Dari situ, Fadilah melihat, semangat Zohri untuk menekuni olahraga atletik. Setiap hari, kerjaannya hanya berlari. ”Sebelum  dan sepulang sekolah dia berlari tanpa menggunakan sepatu,” ungkapnya.

Pada 2016, Zohri meminta izin untuk mengikuti kejuaraan atletik antar pelajar tingkat kabupaten/kota di Mataram. Sebelum mengikuti kejuaraan, dia meminta uang ke Fadilah untuk membeli sepatu.

Sayangnya, saat itu, kakaknya tidak memiliki cukup uang untuk membelikannya sepatu. ”Dia minta waktu itu Rp 400 ribu. Tapi, satu sen pun uang saya saat itu tidak ada,” ujarnya.

Syukurnya, guru olahraganya, Rosida yang memberikannya sepatu untuk mengikuti kejuaraan itu. ”Ibu Rosida memiliki jasa yang besar terhadap Zohri,” kata dia.

Dia mendengar kabar, kalau Zohri meraih juara satu di kejuaraan itu. Lalu, dia diminta untuk masuk ke Pemusatan dan Latihan Pelajar (PPLP) NTB.

Tapi, ayahnya sempat menolak. Karena, tidak ada yang menemaninya di rumah. ”Kalau menjadi atlet  PPLP itu kan harus diam di asrama. Nah,ayah saya tidak setuju,” ujarnya.

Lagi-lagi, guru olahraganya Rosida datang ke rumah. Dia meyakinkan ayahnya supaya Zohri diizinkan ke PPLP. ”Saya tidak tahu bahasanya ibu Rosida sehingga ayah saya melunak dan mengizinkan Zohri ke PPLP,” ceritanya.

Zohri pun masuk PPLP pada pertengahan 2016. Dia mendengar, kalau Zohri mendapatkan medali perak di kejuaraan nasional atletik antar PPLP. ”Saya dan ayah, bangga sekali mendengarnya,” ujarnya.

Pada akhir 2016, ayahnya yang terkena sakit sesak menyusul sang istri. Dia dan  Zohri merasa terpukul melihat ayahnya yang terbaring di dipan yang lusuh itu. ”Saya ingat di dipan ini ayahnya saya meninggal. Di sini kedua orang tua saya menghabiskan waktunya bersama,” kata Fadilah dengan perasaan sedih sambil mengusapkan air mata.

Meskipun sederhana, namun rumah reot ini sangat bersejarah bagi Zohri. ”Dari sini Zohri dibesarkan dan kini bisa menjadi juara dunia. Itu sangat membanggakan,” ingat Fadilah yang terus menangis.

Saat ini, katanya, ayah dan ibu pasti tersenyum melihat anaknya yang sudah menjadi juara dunia

Semenjak kematian ayahnya, karir Zohri terus melesat di dunia atletik. Di tiap kejuaraan nasional (kejurnas) atletik tingkat pelajar Zohri selalu menyumbangkan emas untuk NTB. Kerja keras yang dilakukan Zohri membuahkan hasil. Dia menyumbangkan dua medali emas di Pekan Olahraga Pelajar Nasional  (Popnas) 2017 di Jawa Tengah.

Di Popnas, Zohri mencatatkan waktu 10,29 detik. Dia mengalahkan pesaing terberatnya di nomor lari 100 meter Izrak asal Gorontalo Izrak Hajulu yang mencatatkan waktu 10,32 detik. Catatan waktu yang direngkuh Zohri membuat tim talent scoating dari Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) kepincut membawanya ke Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).

Sejak saat itu, torehan medali emas tetap dia persembahkan untuk Indonesia di ajang internasional. Di kejuaraan Asian School Games, tes event Asian Games, dan puncaknya di kejuaraan dunia. (*)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #feature 

Berita Terkait

IKLAN