Kamis, 15 November 2018 12:58 WIB
pmk

Nasional

Sehari, Dua Pamen Polri Dicopot

Redaktur:

AKBP M Yusup saat diperiksa propam Polda Jawa Barat.

INDOPOS.CO.ID - Bisa jadi ini kado HUT ke-72 Bayangkara paling tak mengenakkan bagi Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Dua anggotanya, perwira menengah (Pamen), dicopot karena kasus yang berbeda. Satu anggota dicopot karena memukuli ibu-ibu yang mencuri di minimarket miliknya. Sementara satu lagi, buntut heboh kantor polisi bersama dengan negara Tiongkok. 

Kapolri Tito Karnavian marah besar. Terutama saat melihat video pemukulan anggotanya, terhadap seorang ibu-ibu yang mencuri di minimarket miliknya. “Terkait dengan video pemukulan itu, Kapolri marah besar. Kapolri marah dan akan mencopot AKBP Y hari ini juga," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal kepada wartawan, Jumat (13/7).

Tak lama kemudian, kabar pencopotan AKBP M Yusuf pun disampaikan Kapolda Bangka Belitung, Brigjen Syaiful Zachri. Iqbal mengatakan, tindakan AKBP M Yusuf tidak mencerminkan polisi yang profesional, modern, dan terpercaya (Promoter). Seperti apa yang diperintahkan Kapolri. Padahal selama ini Kapolri selalu menekankan hal tersebut.

Iqbal juga menyampaikan soal pencopotan pamen lainnya, yakni AKBP Sunario. Ia dibebastugaskan dari jabatannya sebagai Kapolres Ketapang. “Hari ini juga (Jumat, 13/7), Kapolres Ketapang dibebastugaskan dan dimutasi sebagai Pamen di Polda Kalbar," kata dia kepada INDOPOS, Jumat (13/7).

Iqbal melanjutkan, apa yang dilakukan Kapolres Ketapang tersebut tidak sesuai dengan mekanisme yang ada di Polri. "Kerjasama dengan negara lain atau polisi negara lain merupakan kewenangan Mabes Polri," tegas dia.

Sunario, sang Kapolres yang dicopot, membantah rencana pihaknya bekerja sama dengan kepolisian China untuk membangun kantor bersama. Dia menuturkan, plakat tersebut merupakan contoh yang akan diberikan oleh pihak kepolisian Shuzou setelah kerja sama dengan Polres Ketapang nantinya terjalin.

Menurutnya, kerja sama antara Polres Ketapang dan kepolisian Shuzou belum terjalin hingga saat ini. Sunario mengaku pihaknya menolak ajakan kerja sama kepolisian Shuzou karena menunggu persetujuan Mabes Polri.

Plakat tersebut, lanjut dia, hanya sebagai contoh yang diberikan oleh pihak kepolisian Shuzou saat melakukan kunjungan ke PT BSM, Kamis (12/7).

"Sekarang plakat ini ada di Polres Ketapang, karena kesepakatan antara kedua belah pihak itu belum ada atau kami tolak," kata Sunario menjelaskan.

Kapolri pun harus ikut menanggung ‘beban’. Komisi III DPR RI bakal memanggil Tito, guna mempertanyakan foto dengan plang bertuliskan 'Kantor Polisi Bersama' dengan bendera Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Anggota Komisi III DPR RI, Teuku Taufiqulhadi menilai, tidak boleh ada Kantor Polisi Bersama. "Nggak boleh terjadi itu," tegas Taufiqulhadi saat dihubungi, Jumat (13/7).

Taufiqulhadi melanjutkan, nantinya Komisi III DPR berencana menanyakan langsung ke Kapolri, Jenderal Tito Karnavian terkait 'Kantor Polisi Bersama'

"Kalau ini kecolongan, akan kita tanyakanlah nanti. Tapi, kami akan mempertanyakan juga Kapolri apakah sering terjadi hal-hal seperti itu dan kenapa bisa terjadi? Kenapa juga anak buahnya terlalu gegabah," tegasnya.

Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane memberikan dukungan. Menurutnya, Komisi III DPR RI tidak hanya memanggi Kapolri, namun mengusut rencana kerja sama Kepolisian Resor (Polres) Ketapang, Kalbar dengan Biro Keamanan Publik Republik Rakyat Tiongkok Provinsi Jiangzu Resor Suzhou mendirikan Kantor Polisi Bersama.

"Komisi III DPR perlu mengusut kasus ini dan memanggil Kapolri (Jenderal Tito Karnavian, red) untuk menjelaskan kasus ini," kata Neta dalam keterangan tertulis, Jumat (13/7).

Menurut Neta, rencana pendirian kantor bersama itu sebuah langkah yang salah kaprah dan tidak bisa ditolerir. Kerja sama antara Polri dengan kepolisian negara lain dalam pembangunan kantor polisi seharusnya tidak menggunakan plang nama atau label yang menunjukkan keberadaan kepolisian negara lain di wilayah kedaulatan NKRI.

"Ini sebuah langkah intervensi negara lain ke Indonesia. Intervensi polisi China terhadap Polri. Ini tidak boleh dibiarkan," ujarnya.
Neta mengambil contoh, kerja sama antara Polri dan kepolisian Jepang dalam pembangunan sejumlah kantor polisi percontohan seperti di Bekasi, Jawa Barat. Menurutnya, plang atau label yang digunakan di markas tersebut hanya menampilkan Polri.

Dia menambahkan, pihak kepolisian dan para pengusaha asal China harus percaya pada semua sistem keamanan di Indonesia. Meski berinvestasi sangat besar, Neta menegaskan, China harus tetap menyadari Ketapang berada di wilayah Indonesia yang tanggung jawab keamanannya menjadi tugas dan tanggung jawab Polri. "Bukan tugas polisi China," tandasnya.

Polisi Pukul Ibu-Ibu

Sementara dari Pangkalpinang dilaporkan, Kapolda Bangka Belitung, Brigjen Syaiful Zachri akhirnya mengambil sikap tegas. AKBP M Yusup yang melakukan tindak pemukulan terhadap ibu-ibu pelaku pencurian di mini market, akhirnya dicopot. Kebetulan, AKBP M Yusup adalah pemilik minimarket yang dicuri barangnya.

 “Sebagai pimpinan, saya harus bersikap tegas. Yang bersangkutan, AKBP Muhamad Yusuf sudah dinonjobkan dari jabatan sebelumnya sebagai Kasubdit di Pamovit, menjadi Pamen Yanma Polda Bangka Belitung," kata Kapolda dalam Jumpa Pers di Mapolda Babel, Jumat (13/7) kemarin.

Pencopotan itu dikatakannya sesuai dengan surat keputusan Kapolda Bangka Belitung nomor: Kep/ 233/ VII/ 2018 tgl 13 Juli 2018 dan surat telegram Kapolda Babel nomor:ST/ 1786/ VII/ 2018 tanggal 13 Juli 2018. M Yusuf menjadi Pamen Yanma Polda Bangka Belitung dalam rangka pemeriksaan.

Kapolda sangat menyayangkan sikap emosional anggotanya yang telah melakukan pemukulan terhadap pelaku pencurian. Apalagi kasus ini telah menjadi viral sehingga membuat buruk citra Kepolisian.

 “Kita juga tidak membela anggota. Jadi jangan dibilang kita membela anggota yang salah. Dalam hal ini dia sudah melakukan kesalahan makanya dia kita beri sanksi tegas.  Proses pemeriksaan terus berjalan,” ucapnya tegas.

AKBP Yusuf sendiri saat ini dikatakanya tidak berada di Bangka Belitung usai pemukulan yang terjadi.  Dia sedang berada di  Jawa Barat guna  mengurus sekolah anaknya. Tetapi untuk pemeriksaan sendiri sudah terus berlangsung dan akan segera dibawa ke Mapolda Bangka Belitung.

“Berhubung saat ini AKBP Yusuf sedang ijin resmi dari Direkturnya mengantar anaknya sekolah di Bandung,  maka Bidpropam Polda Bangka Belitung telah berkoordinasi dengan Bidpropam Polda Jabar untuk memeriksa AKBP Yusuf di Polda Jabar,” ujarnya.

Sementara satu pelaku pencurian di minimarket milik AKBP Muhammad Yusuf dihukum 1 bulan dengan masa percobaan 3 bulan. Vonis ini dibacakan oleh hakim Iwan Gunawan di Pengadilan Negeri Pangkalpinang, Jumat (13/7).

Desi merupakan pelaku pencurian mini market Apri Marta yang kemudian mendapat kekerasan dari pemilik mini market AKBP M. Yusuf. Pencurian sendiri terjadi sehari sebelumnya, Rabu (11/7), sekitar pukul 19.00 WIB. Sementara satu perempuan lagi yakni saudara Desy, Atmi hanya menjadi saksi. Atmi tidak terbukti mencuri.

Iwan Gunawan menyebutkan, perbuatan pelaku sudah masuk dalam unsur-unsur pencurian. Untuk itu Pengadilan Negeri Pangkalpinang memutuskan vonis tersebut terhadap Desy. Pertimbangannya yakni, pelaku sudah mengalami lebam diduga akibat dianiaya pemilik minimarket.

Di hadapan hakim Desy menagakui perbuatannya. Terdakwa Desy mengatakan, ia bersama Atmi dan seorang anak Atmi bernama AF baru pulang dari pantai. Kepergian mereka diajak oleh teman Desy. Setelah dari pantai, mereka mampir ke minimarket. Desy mendapat permintaan agar mengambil susu dan diminta dimasukkan ke selendang yang ia kenakan.

Sayangnya aksi ini diketahui oleh penjaga mini market yang kemudian melapor ke M Yusuf, sang pemilik yang juga polisi. Ketika digeledah oleh Yusuf, ditemui dua kotak susu dalam selendangnya. Kemudian Yusuf mengitrograsi Desy. Jawaban Desy yang berbelit belit inilah yang memicu M Yusuf marah dan melakukan pemukulan.

Pemukulan ini juga diakui oleh Desy di hadapan hakim. Sementara Atmi dan Anaknya sempat kabur melihat Desy tertangkap. Namun berhasil diamankan oleh Satpam mini market.

"Saya taruh di dalam selendang ada dua kotak susu. Kemudian Pak Yusuf itu menghampiri dan langsung memukul." tutur Desy. (cr-1/aen/eza/tob)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #feature 

Berita Terkait

IKLAN