Jumat, 16 November 2018 10:40 WIB
pmk

Nasional

Sekretaris harus Beradaptasi dengan Perkembangan Teknologi

Redaktur: Ali Rahman

INDOPOS.CO.ID - Ikatan Sekretaris Indonesia (ISI) menilai automasi (industri 4.0) di lingkungan profesi semakin terasa nyata. Untuk itu, asosiasi ini turut berbenah agar keterampilan/hard skills tidak sewaktu-waktu dapat dengan mudah digantikan oleh tehnologi.

Ketua Umum ISI Sukma Pratiwi menyatakan saat ini, globalisasi penduduk dunia dan percepatan teknologi menyebabkan persoalan yang dihadapi profesi sekretaris akan menjadi kompleks. Sebagai organisasi yang memiliki maksud dan tujuan di dalam bidang pendidikan, ISI akan turut membenahi mutu dan kecakapan profesi dengan memberikan kecakapan/soft skills yang mendampingi ketrampilan/hard skills.

“Kami membenahi mutu dan kompetensi profesi dengan kecakapan/soft skills. Di era indutri 4.0, yang diperlukan adalah kemampuan profesi/individu secara sosial untuk menangani persoalan yang kompleks,” kata dia di sela acara pelantikan dewan pengurus pusat perkumpulan ISI periode 2018 - 2021 di Jakarta, Minggu (15/7).

Ditambahkan, berbagai tantangan tengah dihadapi profesi sekretaris di era industri 4.0. Misalnya, approval yang saat ini banyak dilakukan melalui sistem. Mau tidak mau, sekretaris saat ini harus dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan memiliki kemauan untuk belajar terus menerus. Ketidakmampuan untuk beradaptasi dapat menyebabkan profesi ini dapat tergerus dan tersingkir.

Menurut dia, dalam revolusi industri 4.0, penggerak perubahan adalah sifat pekerjaan itu sendiri. Dengan tehnologi baru, membuat pekerjaan kapan saja dan dimana saja dimungkinkan. Perusahaan memecah tugas dengan cara baru, yang mengarah pada pekerjaan yang menggunakan tehnologi dengan layanan berbasis internet.

Sifat pekerjaan administratif yang membantu operasional perusahaan di dalam profesi sekretaris diprediksi akan menghilangkan beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh para sekretaris.

Salah satu contoh pekerjaan yang menjadi rentan terhadap otomotisasi adalah sekretaris dalam bidang hukum dan keuangan. Disini mesin sudah mulai mengambil alih sejumlah tugas yang dilakukan oleh sekretaris dalam bidang hukum dengan memindai ribuan dokumen untuk membantu dalam penelitian hukum, juga di bidang keuangan dimana tehnologi algoritma sudah mengambil alih layanan perbankan, membuat rentan posisi sekretaris di bidang keuangan.

"Posisi pekerjaan yang melibatkan empati, dan memerlukan kecerdasan sosial dan ketrampilan berinteraksi dan bernegosiasi adalah pekerjaan yang masih berada di luar jangkauan outomasi di masa mendatang," tambah Sukma.

Isu automasi menjadi salah satu concern ISI. Selain itu, beberapa hal juga menjadi concern ISI seperti pembenahan organisasi sesuai dengan anggaran dasar perkumpulan, bersinergi dengan pemerintah (regulator), pengguna (perusahaan) dan mitra (lembaga pendidikan dan lain-lain), mengaktifkan kembali kegiatan-kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi soft skills disamping kompetensi hard skills yang harus selalu diasah demi kemajuan anggota perkumpulan. Berdiri pada 7 Juli 1972, saat ini ISI beranggotakan lebih dari 1000 sekretaris di seluruh Indonesia. (jaa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #ikatan-sekretaris-indonesia #sukma-pratiwi #industri-40 

Berita Terkait

IKLAN