Selasa, 25 September 2018 01:10 WIB
pmk

makanmakan

Sensasi Sup Buntut Harris Cafe di Tengah Ibukota

Redaktur:

Foto: Iwan Tri Wahyudi/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Belakangan ini banyak cara yang dilakukan pengusaha kuliner memanjakan lidah pelanggan. Mulai rasa, hingga mencari tempat bersantai dengan kerabat, keluarga bahkan pasangan untuk sekedar berfoto dan menghabiskan waktu bersama.

Salah satunya, Harris café. Café yang berada di harris Hotel ini berdiri sejak April 2017, Harris Café mengusung konsep modern dan kontemporer.  Kombinasi warna coklat dan hijau menyatu dengan meja dan kursi yang berbahan dasar kayu.

“Konsep dari café ini adalah café khas Indonesia, sehingga menu utama adalah menu masakan Indonesia dari berbagai daerah,” ujar Marketing Communnications Officer HARRIS Suites fX Sudirman Biyan Rohmana  Putra kepada INDOPOS, belum lama ini.

Untuk datang ke café ini, Anda tidak perlu repot-repot. Lokasinya cukup populer. Tepat berada di dalam pusat perbelanjaan fX Sudirman di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.

Pengunjung bisa dengan puasnya menikmati hidangan yang ada di café ini. Setiap harinya menu yang disajikan bervariasi,  Senin menu masakan Manado, Selasa bisa menu Jawa Timur.  Setiap menu yang disajikan selalu terlihat cantik dengan kemasan yang menarik. Kemasan pun menjadi faktor penting dalam menarik pelanggan.

Sesuai dengan Temanya All You can Eat dengan menu khas Indonesia. Pengunjung  bisa bernostalgia bersama keluarga menikmati menu olahan beragam daerah di Indonesia dengan sentuhan hotel berbintang.

Salah satu menu favoritnya adalah Sup Buntut. Tak hanya tamu lokal, wisatawan asing yang menginap cenderung ingin mencicipi citarasa masakan lokal yang tidak terlalu pedas itu.

“Sup Buntut ala Harris ini memiliki citarasa yang khas karena dibuat melalui proses yang cukup lama,” ujar Chef Isnaini selaku Excecutive Chef Harris Cafe.

Untuk memasak sup buntut ini dibutuhkan waktu hingga empat jam agar daging yang diproses akan terasa empuk. Dan lemak yang ada pada daging akan terangkat, sehingga bahan utama yang digunakan benar-benar empuk dan bumbu yang digunakan juga meresap.

“Sup Buntut ini kami mengolahnya dengan cara yang berbeda, jika di tempat lain bahan langsung ditumis, kami di sini memproses bahan dengan cara dibakar terlebih dahulu, agar aroma yang dihasilkan akan semakin kuat,” tambahnya.

Proses pembuatannya pun cukup mudah, buntut  direbus selama empat jam untuk mengangkat lemaknya. Kemudian bahan-bahan rempah  yang lain seperti lengkuas, serai, daun jeruk, kapulaga, cengkeh, pala dibakar terlebih dahulu. Untuk menambah citarasa ,  bawang putih juga dibakar  kemudian diblender dan ditumis dengan sedikit minyak hingga berbau wangi.

Setelah itu, bahan yang sudah ditumis tadi dimasukkan ke dalam rebusan buntut  yang sudah bersih dari lemak. Kemudian masak hingga bumbu meresap ke dalam daging buntut.  “Sup buntut ini dihidangkan dalam mangkuk dan dilengkapi dengan nasi putih, sambel, dan jeruk nipis sebagai pendampingnya,”jelasnya.

Kombinasi sambel, dan jeruk nipis menjadikan sup buntut yang dibandrol dengan harga Rp 130 ribu ini terasa berbeda. Saat mencicipi olahan chef Chef Isnaini, kami merasakan sensasi yang sop buntut yang pernah kami rasakan sebelumnya. Kuah yang terasa kental,dengan campuran daging yang direbus bersamaan, menjadikan perpaduan rasa yang berbeda. Lidah dan mulut pun seakan tak kuasa menunggu suapan berikutnya.

Nyaris sempurna, tentunya ada tips yang memang dirahasiakan empunya agar tidak dicuri chef lainnya. Namun, apapun itu, sop buntut ala Harris Cafe memang bantut menjadi rujukan para pencinta sop butut. Sebab, beragam sop buntut memang telah ada sejak zaman dulu kala. Setidaknyada setiap Negara pun memiliki menu yang serupa namun rasanya berbeda.

Sebut saja, sup Buntut Cina, Meski jika diterjemahkan secara harafiah berarti sup (牛尾汤 niú-wěi-tāng), makanan versi ini justru antara sup dan semur. Salah satu karakter utama sup buntut adalah bahan padatnya yang banyak, bertentangan dengan bahan masakan yang telah dipotong dadu atau diiris menurut aturan sup Cina.

Potongan ekor sapi, kentang, wortel, kubis, tomat, dan jamur dicampur di dalam air, kemudian diberi garam. Campuran ini dipanaskan pada suhu didih rendah agar semua bahan dapat memunculkan rasanya. Selain itu, tomat dan kentang dapat larut di dalam air, sehingga memberi warna jingga kemerahan pekat pada kaldu. Minyak dari ekor sapi turut memberikan rasa terhadap sup buntut. Sup ini disajikan dengan semua bahan tersebut.

Sedangkan di Negara Amerika Serikat Selatan, menu ini yang sudah ada sejak periode sebelum perang revolusi. Sup ini terasa kuah tebal dan gurih. Sup buntut Kreol namanya, makanan ini dibuat dari tomat dengan ekor sapi, kentang, kacang hijau, jagung, mirepoix, bawang putih, dan rempah-rempah.

Nah, jika di Indonesia, secara harfiah, Sup buntut ini dibumbui dengan bawang merah, bawang putih, dan rempah-rempah lokal, seperti merica, pala, dan cengkeh. Variasi yang relatif baru disebut "Sop Buntut Goreng" yaitu buntut goreng yang dibumbui disajikan kering, sementara kuah sup kaldunya disajikan dalam mangkuk terpisah.

Tentunya, setiap chef memiliki tips dan trik yang berbeda untuk menghadirkan rasa yang membuat pelangganya tak kecewa. So… mau mencari sensasi berbeda menu sop buntut. Datang dan kunjungi Harris café. (cr3)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kuliner #indoposmakan-makan 

Berita Terkait

WICSF 2018 Padukan Kuliner dan Fashion

Fashion

Makanan Khas Korea Merambah Lidah Pribumi

makanmakan

Makanan Khas Korea Merambah Lidah Pribumi

makanmakan

Ramen Hitam Bisa Jadi Pilihan

makanmakan

Ramen Hitam Bisa Jadi Pilihan

makanmakan

Godaan Kuah Pedas di Menya Musashi Bukotsu

makanmakan

IKLAN