Kamis, 20 September 2018 10:17 WIB
pmk

Hukum

NIlai Proyek Rp 192 M, Fee 2 Persen Rp4,8 M  

Redaktur:

BAJU ORANGE- Johannes Budiarso Kotjo harus menikmati ruang sempit tahanan KPK.

Johannes B Kotjo tercatat sebagai orang terkaya nomor 117 di Indonesia. Majalah Globe Asia edisi 8 Juni 2016 merilis 150 orang terkaya di Indonesia, dan Johannes B Kotjo menduduki rangking 117 dengan kekayaan USD 267 juta atau sekitar Rp 3,73 triliun dengan kurs Rp 14 ribu per USD. Kini ia harus merasakan ‘nikmatnya’ tahanan KPK. Berikut bagian akhir catatan seputar Johannes Budiarso Kotjo.

Indra Bonaparte, JAKARTA

INDOPOS.CO.ID - Kotjo yang kelahiran Semarang 10 Juni 1951 merupakan pemilik APAC Group yang bergerak di bidang tekstil dalam 22 tahun terakhir. Ia juga pemilik usaha Blackgold Natural Resources Limited yang sedang membangun proyel PLTU Riau 1 berkekuatan 2x300 megawatt. 

Diketahui, Blackgold tidak sendiri dalam membangun PLTU Riau 1, namun bersama China Huadian.  Sebagai pemilik PLTU swasta alias Independent Power Plan (IPP), maka Kotjo memerlukan Power Purchasing Agreement (PPA) atau jaminan pembelian dari PT PLN untuk kepastian usahanya. Apalagi PLN sebagai penyedia jasa listrik satu-satunya di Indonesia, maka Blackgold dan kawan-kawan wajib mendapatkan PPA yang berisi perjanjian bahwa PT PLN pasti membeli listrik yang dihasilkan Power Plan yang dibangun Blackgold tersebut. 

Sebab, setiap IPP baru bersedia membangun pembangkit listriknya kalau sudah mendapat PPA dari PT PLN. Setiap IPP pasti ingin mendapatkan PPA dari PT PLN, dan setiap IPP pasti ingin harga beli listrik dari PT PLN sesuai keinginan yang tercantum di dalam proposal IPP, termasuk perusahaan Blackgold milik Kotjo. Di sinilah peluang adanya permainan yang belakangan harus berurusan dengan KPK.

Penggeledahan KPK di rumah Dirut PLN Sofyan Basir lantaran KPK mengendus aliran uang suap sebesar Rp 4,8 miliar yang merupakan fee 2,5 persen dari nilai proyek Rp 192 miliar. Suap diduga untuk memuluskan PPA yang harus diperoleh Blackgold. 

Juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, dalam penggeledahan di rumah Dirut PLN, KPK pada prinsipnya mencari bukti-bukti yang berkaitan dengan dugaan aliran dana suap yang diterima oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih. Ini terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1 di Provinsi Riau.

Tak hanya rumah Dirut PLN, empat lokasi lain yang digeledah yaitu, kediaman Eni Maulani, serta rumah, kantor dan apartemen milik Johannes Budisutrisno Kotjo.

"Kemudian transaksinya bagaimana ini sangat penting juga didalami lebih lanjut terutama terkait kerja sama pada PLTU di Riau-1," ujarnya.

Untuk diketahui pula, pada awal Januari 2018 lalu Blackgold Natural Resources Limited diduga sudah menerima Letter of Intent (LOI) dari PT PLN selaku perusahaan BUMN untuk mendapatkan PPA atau Perjanjian Pembelian Listrik.

Berdasarkan LOI tersebut, maka konsorsium PLTU Riau 1 yang terdiri dari Blackgold, PJB Jawa Bali, PLN Batubara, dan China Huadian akan mendapatkan PPA dari PT PLN setelah PLTU Riau 1 dinilai PT PLN telah memenuhi syarat dan ketentuan sesuai yang diatur di dalam LOI.

Selanjutnya, setelah mengantungi PPA dari PT PLN, maka pemegang PPA yakni Balckgold dkk akan mudah mendapat kredit perbankan. Sebab PPA tersebut menjadi jaminan kepada bank karena listrik yang dihasilkannya pasti dibeli PT PLN. 

Untuk diketahui pula, hingga akhir Januari 2017 lalu, PT PLN diduga setidaknya sudah meneken LOI terkait PPA untuk proyek pembangkit listrik berkekuatan 18.900 megawatt.

PPA yang diduga sudah diterbitkan untuk IPP (pembangkit listrik swasta), diantaranya PLTU Bengkulu (100 MW), PLTU Jawa 7 (1.000 MW), PLTU Batang 2 (950 MW), PLTU Jawa 8 TJ (1.000 MW), PLTU Jawa 8 C (1.000 MW), PLTU Kalteng 1 (100 MW), PLTU Kaltim 4 (200 MW), PLTU Kalbar 1 (200 MW), PLTU Janeponto 2 (125 MW). (*)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #feature 

Berita Terkait

Ketika Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan

Nasional

Ketika Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan

Nasional

Bayi Satu Mata Lahir di Mandailing Natal

Nusantara

Bayi Satu Mata Lahir di Mandailing Natal

Nusantara

Mengunjungi Museum Lukisan Tertua di Bali (2-Habis)

Nasional

Hanya dengan Pejamkan Mata Lahir Karya

Nusantara

IKLAN