Rabu, 26 September 2018 02:03 WIB
pmk

Headline

Turunkan Harga, Atau Lo yang Turun!

Redaktur:

SUARA EMAK-BEM Indonesia dalam aksinya di Monas, Rabu (18/7). ISMAIL POHAN/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - APA jadinya jika emak-emak yang biasanya hanya urusan di seputar dapur, turun ke jalan menggelar aksi unjukrasa. Ancamannya pun sungguh bikin tembok Istana Presiden ‘bergetar’; Turunkan Harga, Atau Lo yang Turun.

Dengan membawa sejumlah peralatan dapur,  ratusan ibu rumah tangga menggelar aksi unjukrasa di kawasan silang Monas, Jakarta Pusat, Rabu (18/7). Mereka juga menggunakan baju berlogo #2019GantiPresiden. Hebatnya lagi, para emak-emak ini mengendarai mobil komando yang biasa dipakai untuk aksi demo. Berdiri di atas mobil komando, para emak-emak teriak lantang. "Lihat sapi makan pepaye. Jokowi jangan mimpi dua priode. Mimpi kali yee…," kata orator di atas mobil komando.

Beberapa hari sebelumnya, mereka yang menyebut dirinya sebagai Barisan Emak-Emak Militan (BEM) Indonesia, menyebarkan undangan ajakan untuk bersama-sama menggelar aksi tersebut. “Mengajak emak-emak yang masih peduli terhadap situasi kita saat ini, untuk mengikuti aksi turun ke jalan.”

Mereka menuntut agar pemerintah segera menurunkan harga pangan. Tingginya harga bahan pokok menurut mereka, membuat  masyarakat semakin sulit. "Karena yang ngerasain pertama itu emak-emak. Kami merasakan betapa sulitnya ekonomi saat ini,” kata Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Asmailzulfi, dalam orasinya. 

Menurut dia, massa aksi yang dimulai pukul 10.00 WIB itu, datang dari berbagai wilayah di Jabodetabek. Semua peserta aksi membawa peralatan dapur, seperti teflon, kuali, panci, telenan hingga centong, sebagai simbol urusan dapur sudah terganggu dengan situasi ekonomi saat ini.

Asmailzulfi berharap, kebutuhan bahan pokok bisa terpenuhi dengan harga yang relatif terjangkau. "Kami maunya yang nyata saja. Kami yang merasakan di rumah. Kami tidak perlu angka-angka statistik lah. Kita maunya belanja ke pasar, harganya turun," teriak Asmailzulfi.

Sementara, Sekjen BEM Indonesia, Sria Asiah, menyesalkan kenaikan harga kebutuhan pokok saat ini. Dengan upah minimum yang hanya Rp3 juta, tidak seimbang dengan situasi harga bahan pokok.

"Beras sudah 10 ribu. Harga cabai sudah mahal. Jadi tolong kepada Pemerintah, kepada Presiden, kalau Anda ingin menjabat yang kedua kali, tolong turunkanlah harga sembako," tegas Sri Asiah.

BEM Indonesia menilai, pemerintahan Joko Widodo gagal dalam mensejahterakan rakyatnya. Salah satu indikatornya adalah, hara bahan pokok yang mahal. "Keluhan emak-emak, makin hari, harga sembako makin mahal," sambung Sria Asiah.

Menariknya, emak-emak ini berhasil mencuri perhatian Istana Presiden. Melalui Sekretariat Negara, perwakilan BEM Indonesia diterima untuk menampung aspirasinya. Pertemuan berlangsung sekitar 30 menit. Namun sayangnya, mereka tak mencatat nama pihak Sekretariat Negara yang menerima mereka.

Hasil dari pertemuan tersebut, kata Sria, pemerintah berjanji akan mengkaji untuk membuat kebijakan agar menurunkan harga bahan pokok. "Kita waktu satu minggu. Kita lihat, ada perubahan atau enggak. Kalau engga turun-turun juga, nanti akan ada aksi lanjutan," tambah Korlap Aksi, Asmailzulfi.

Aksi yang berlangsung hingga pukul 13.10 WIB itu, berlangsung aman dan damai.

Mereka juga sempat menyoal komentar Menteri Perdagangan, Enggartriasto Lukita yang membenarkan laporan kementeriannya, bahwa lonjakan harga telur sejak setelah Lebaran Idul Fitri hingga beberapa hari belakangan, terutama gara-gara gelaran Piala Dunia 2018 pada 14 Juni-15 Juli 2018.

Sebagaimana ramai diberitakan, kepada wartawan, Enggar mengatakan, peningkatan permintaan telur terutama untuk konsumsi rumah tangga. Selama piala dunia, permintaan telur memang meningkat, sebagai makanan instan untuk menemani bergadang sambil menonton sepakbola.

Mendag tak setuju jika disebut momentum pilkada serentak pada akhir Juni lalu juga menjadi pemicu peningkatan permintaan telur ayam. Sebab, saat masa kampanye pun yang dibagikan beras, gula, hingga sirup. "Enggak ada itu telur (yang dibagikan dalam paket sembako)."

Sementara itu, Kementerian Pertanian tidak memungkiri bahwa akibat liburan panjang hingga Piala Dunia, lonjakan permintaan telur mencapai 20-30 persen. Tingkat permintaan di masing-masing daerah memang berbeda tetapi secara umum sama, yakni karena efek Piala Dunia.

"Kalau demand (permintaan) masing-masing tiap daerah akan beda. Adanya pertandingan Piala Dunia ternyata memengaruhi, saya pikir iya juga, ya," kata Fini Murfiani, direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, dalam kesempatang yang sama.

Karena itu, pemerintah akan terus mengevaluasi demi mengantisipasi lonjakan-lonjakan permintaan anomali yang terjadi seperti sekarang. Terutama, menyambut Asian Games pada Agustus 2018.

Sontak pernyataan itu menuai kritikan dari berbagai pihak. Selain BEM Indonesia, sejumlah pengamat ikut bicara. "Buat saya ini pernyataan nyeleneh dari mulut seorang menteri. Dia dapat ilmu darimana menghubungkan nonton bola makan pakai telur sama kelangkaan telur," ucap pengamat kebijakan publik dan keuangan negara Uchok Sky Khadafi kepada INDOPOS di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (18/7).

Direktur eksekutif Center Budget of Analysis (CBA) ini menerangkan, Mendag seharusnya menyalahi Bank Indonesia atau menteri keuangan yang tidak bisa mengendalikan nilai kurs rupiah yang kian jeblok.

"Akibatnya, harga pakan impor menjadi sangat mahal. Ini lah yang membuat harga telur naik," ujarnya.

Selain menyalahkan kinerja BI dan Menkeu, Uchok juga menjelaskan, seharusnya Mendag menegur para pengusaha peternak ayam dan telur.

"Karena mereka juga yang seenak saja menaikan harga telur secara tiba-tiba  tanpa menunggu perintah dari pemerintah," terangnya.

Maka, lanjutnya, dengan menyalahkan piala dunia, maka Uchok mengimbau Presiden Jokowi mengevaluasi keberadaan politisi Nasdem itu di Kabinet.

"Pernyataan itu tidak rasional. Lebih baik dia belajar lagi tentang ilmu ekonomi. Dan selayaknya dicopot saja," tandasnya.

Presidium Persatuan Pergerakan, Andrianto turut mengatakan, pernyataan semacam itu menunjukkan tingkat kapabilitas Enggartiasto yang rendah.

"Saya rasa sudah tabiat para menteri Jokowi ini. Utamanya Enggar, eks Ketua REI dan besar di era Orba. Dulu dia bilang suruh tanam cabai ketika cabai mahal. Kini menyalahkan  Ini menunjukkan kapabilitas yang rendah dari seorang Enggar," katanya kepada INDOPOS.

Makanya, menurut dia, Enggar sudah sangat layak dicopot dari jabatannya sebagai Mendag. Namun, dia menyangsikan keberanian Presiden Jokowi untuk itu.

"Sangat layak (dicopot). Cuma pertanyaannya apakah Jokowi berani melawan politisi Nasdem," cetusnya.

Pendapat lainnya juga diutarakan oleh pengamat ekonomi dari Universitas Paramadina Jakarta, Handi Risza yang menduga pernyataan ini sengaja dilontarkan agar masyarakat tidak terlalu fokus dengan akar permasalahan.

"Setahu saya ini sudah yang kedua kali pernyataan nyeleneh dilontarkan Mendag Enggar. Saya kira pernyataan yang terlalu kreatif dan naif ini sebagai upaya pengalihan. Sehingga dengan adanya berita tersebut jadinya orang lupa dengan masalah ekonomi nasional yang ada," terangnya kepada INDOPOS.

Secara hukum ekonomi, kata Handi memang berlaku harga akan naik jika permintaan meningkat sedangkan pasokan barang berkurang.

"Tapi jangan serta merta itu menjadi pembenaran alasan  untuk menutupi kegagalan dirinya menjadi seorang menteri. Karena yang menjadi pertanyaan kenapa supply-nya  terbatas? Inilah yang harus dianalisa, bukan malah menyalahkan orang nonton bola," tegasnya.

Menurutnya, dengan naiknya nilai USD hingga mencapai Rp 14.400 maka  membuat seluruh barang-barang impor akan naik.

"Coba kita lihat, pakan ternak, vaksin ternak, vitamin dll yang semuanya impor akan naik hargannya. Dengan naiknya pakan dan suplemen ternak khususnya ayam, maka harga telur dan ayamnya otomatis akan ikut naik. Nah faktor ini yang harus dilihat sebagai penyebab kenaikan harga telur ayam," jelasnya.

Untuk menekan harga telur agar bisa turun, lanjut Handi, maka solusi jangka pendeknya adalah pemerintah harus memberikan  insentif fiskal kepada para pedagang yang punya kaitannya dengan telur ayam.

"Berikan saja insentif fiskal seperti pajak dan bea masuk barang yang kompetitif, sehingga bisa menekan harga," sarannya.

Sekretaris Fraksi PAN DPR RI Yandri Susanto juga menjelaskan bahwa pemerintah jangan selalu menyalahkan adanya permintaan barang yang meningkat dari masyarakat sehingga seenaknya menaikan harga.

"Apalagi harus menyalahkan orang nonton bola (pildun). Itu sama sekali gak ada hubungannya," cetus Yandri kepada INDOPOS di Gedung DPR RI.

Kalau harga telur naik cuma karena orang nonton bola, lanjut Yandri, kenapa Mendag tidak menaikan harga kacang. "Saya kira banyakan orang makan kacang buat menemani nonton bola dibanding makan telur," selorohnya anggota Komisi II DPR RI ini.

Di tempat yang sama, Ketua DPP Gerindra Sodik Mujahid turut mengaku heran atas pernyataan Mendag tersebut. Baginya pernyataan itu justru menunjukkan kelemahan  pemerintahan Jokowi.

"Kalau pernyataan Mendag seperti itu, saya hanya bisa tersenyum. Kok bisa pemerintah lemah dalam memahami kenaikan konsumsi telur yang dihubungkan dengan suatu event," ujar Sodik.

Jika sudah terjadi lemah dalam pemahaman, maka lanjut wakil ketua Komisi VII DPR RI ini, pastinya pemerintah  lambat dalam mengantisipasi produksi dan distribusi telur nya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, peningkatan konsumsi tersebut dipicu adanya sejumlah momentum seperti hari raya, masa libur yang panjang hingga perhelatan pesta sepak sepak bola Piala Dunia.

"Jadi alasannya macam-macam demand meningkat tajam. Baik dari sisi liburan, hingga sepak bola," sebut dia usai menggelar rapat membahas harga telur dengan para pengusaha dan peternak telur di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (16/7).

Ia melanjutkan, perhelatan Piala Dunia yang di Indonesia ditayangkan pada malam hari, mendorong meningkatnya konsumsi telur terutama untuk campuran sejumlah panganan jadi seperti nasi goreng.

"Karena dari tengah malam nasgor pakai telur. Internet Indomie telur dan kornet juga pakai telor. Saya ingat waktu mahasiswa ada fresh telur kita bikin nasgor," sebutnya.

Momentum lain yang disebutnya juga menjadi penyebab naiknya harga telur adalah momentum pelaksanaan Pilkada serentak beberapa waktu lalu. Demikian informasi yang diterimanya dari hasil rapat dengan pengusaha dan peternak.

"Tapi yang saya nggak habis pikir itu pilkada juga dijadikan alasan. Jadi diharapkan kondisi normal dan berjalan baik," tandas dia. (cr-2/dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #demonstrasi #barisan-emak-emak-militan 

Berita Terkait

Rupiah Anjlok, Mahasiswa Gelar Demo

Ekonomi

Rusia Tolak Kebijakan Pensiun

Internasional

Ribuan Mahasiswa Tuntut Jokowi Diturunkan

Nasional

Desak Bebaskan Dua Wartawan, Warga Rohingya Ikut Demo

Internasional

IKLAN