Minggu, 18 November 2018 02:45 WIB
pmk

Internasional

Terjebak di Gua, Personel klub Moo Pa Layani Wawancara Pertama dan Terakhir

Redaktur:

PARA KORBAN - Adul Sam-on (berdiri) menjawab pertanyaan wartawan. Dia adalah korban terperangkap di gua pertama yang menjalin kontak dengan tim penyelamat. Foto; AFP

INDOPOS.CO.ID – Jawaban-jawaban itu akhirnya muncul. Setelah dibuat penasaran sekian lama, media mendapat jawaban langsung dari para personel klub Moo Pa dan asisten pelatihnya yang 18 hari terjebak di Thum Luang Nang Non. Kemarin (18/7) 13 korban yang kesehatannya telah pulih tersebut menggelar jumpa pers. Itu diharapkan menjadi interaksi pertama sekaligus terakhir para korban dengan media.

Bocah-bocah itu tak lagi pucat. Dalam balutan kostum tim mereka, 12 remaja lelaki dan sang asisten pelatih, Ekaphol Chanthawong, terlihat semringah. ’’Ini akan menjadi satu-satunya wawancara resmi mereka dengan media. Setelah ini, mereka tidak akan berbicara dengan pers lagi,’’ ujar Gubernur Provinsi Chiang Rai Prachon Pratsukan yang mendampingi 13 korban tersebut.

Pemerintah Thailand memang sangat menjaga kondisi mental 13 korban tersebut. Perdana Menteri (PM) Prayuth Chan-o-cha pun sudah mewanti-wanti agar media tidak mengusik para korban dan keluarga mereka. Tujuannya jelas, mengusir jauh-jauh trauma mereka. Prayuth maupun Prachon tak mau para korban terus mengingat pengalaman buruk di dalam perut gua.

Kemarin sesi wawancara berlangsung ketat. Hanya awak media yang punya izin yang boleh menghadiri wawancara di Chiang Rai Prachanukroh Hospital. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pun harus diseleksi lebih dulu. Para jurnalis yang hadir wajib mengumpulkan daftar pertanyaan. Lantas, seorang psikiater anak bertugas menyeleksi pertanyaan tersebut.

’’Kami tidak tahu luka apa yang membekas di hati anak-anak itu,’’ ujar Tawatchai Thaikaew, pejabat Kementerian Kehakiman Thailand, sebagaimana dilansir Reuters. Media tahu bahwa anak-anak tersebut baru saja melewati pengalaman yang tidak menyenangkan. ’’Jika Anda melontarkan pertanyaan yang berbahaya, itu berarti Anda melanggar hukum,’’ tambahnya.

Selain 13 korban, pihak rumah sakit menghadirkan beberapa penyelam Thailand Seal. Tim dokter dan psikiater juga terus mendampingi selama wawancara yang disiarkan nasional oleh berbagai saluran televisi itu. Para korban itu siap pulang. Sehari lebih cepat daripada prediksi semula.

Di harapan media, Ekaphol menceritakan kejadian nahas 23 Juni lalu itu. Mereka semua memang sepakat untuk menjelajah gua sebentar setelah latihan. Mereka ke sana tidak sekadar ingin merayakan ulang tahun Night, tapi lebih karena penasaran. Meski gua itu sangat dekat dengan lapangan yang biasa mereka gunakan untuk latihan, sebagian besar di antara mereka belum pernah masuk.

Beberapa anak-anak tersebut mengaku tak diizinkan orang tuanya. Ada yang minta izin tanpa mengatakan bahwa dia akan menjelajahi Thum Luang. Salah seorang anak mengaku takut dihukum ayahnya karena berbohong.

Mereka sadar terperangkap di dalam gua saat melihat genangan air banjir meninggi dengan cepat. Awalnya, mereka yakin bisa keluar dengan bantuan tali penanda di dinding gua, tapi banjir menghanyutkannya. Mereka berjalan lebih ke dalam karena pernah mendengar kabar bahwa ada jalan keluar lain di belakang gua. Tapi, jalan itu tentu saja tak pernah mereka temukan. Mereka terjebak.

Mereka sempat tak yakin saat mendengar suara penyelam Inggris yang mencari mereka. ’’Rasanya seperti sedang mengalami keajaiban,’’ kata Ekaphol. Dia lantas meminta Adul Sam-on untuk berbicara dan menerjemahkan apa yang dikatakan penyelam Inggris tersebut. Bocah yang dipanggil Dul itu memang satu-satunya yang lancar berbahasa Inggris.

Saat penyelamatan dimulai, anak-anak itu tak berebut keluar lebih dulu. Sebab, mereka begitu dekat satu sama lain. ’’Yang rumahnya jauh dari gua keluar lebih dulu,’’ canda Ekaphol seperti dilansir The Guardian.

Pemuda 25 tahun tersebut lantas keluar terakhir bersama Mark. Bocah itu terpaksa keluar belakangan karena tubuhnya paling kecil. Pada dua hari pertama, tak ada masker selam full face yang ukuran pas di wajahnya.

Kemarin para korban mengaku masih shock dengan kematian Saman Gunan. Mereka merasa bersalah. Kemarin mereka membawa gambar Saman untuk ditunjukkan ke media. Ada kalimat-kalimat ucapan terima kasih yang ditulis anak-anak tersebut di sekeliling gambar Saman. Gambar itu akan diberikan kepada keluarga almarhum. (sha/c19/hep/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #thailand 

Berita Terkait

Pesan Yanto Basna dan Ryuji Utomo

Liga Indonesia

Thailand Harusnya Bukan Ganjalan

Liga Indonesia

Akademi Polisi Thailand Tak Rekrut Perempuan

Internasional

Viral, Model Cantik Thailand Pacari Tukang Ojek

Indotainment

IKLAN