Jumat, 14 Desember 2018 03:52 WIB

Kesehatan

Perempuan Lebih Rentan Skoliosis 

Redaktur:

BINCANG SEHAT-Dokter dan pakar kesehatan memberikan edukasi tentang penyakit kelainan tulang belakang yang dikenal dengan istilah skoliosis di Jakarta, Selasa (17/7) lalu. Foto: DEWI MARYANI/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Perempuan lebih rentan mengalami kelainan pada rangka tubuh berupa kelengkungan tulang belakang atau skoliosis dibanding pria. Angka penderita skoliosis makin meningkat yaitu sekitar 3 persen di dunia. Di Indonesia mencapai 4-5 persen.

''Ini terjadi karena jumlah otot perempuan lebih sedikit dan lebih lemah dari laki-laki,'' kata Fisioterapis dari Klinik Scoliosis Care Nistriani T. P Kusaly, Sst,Ft di Jakarta, Selasa (17/7) lalu. Meski demikian, skoliosis pada perempuan juga mudah dikoreksi karena otot yang lemah tadi.

Otot yang lemah itu mudah terbawa saat tulang diluruskan. Karena rentannya perempuan mengalami skoliosis, maka sangat dianjurkan agar melakukan deteksi dini secara akurat. 

Deteksi dini, katanya, bisa dilakukan dengan cara mengecek dari belakang. Apakah adanya tonjolan pada tulang bahu, pinggang, dan pinggul yang memiliki kurva tidak seharusnya.

Sementara itu, ahli fisiologi dan anatomi Labana Simanihuruk, B.Sc., mengatakan, secara genetik, laki-laki lebih aktif ketimbang perempuan. Faktor keaktifan ini berdampak pada kekuatan ototnya.

''Skoliosis bisa dipicu karena faktor genetik, kecelakaan, bawaan lahir, kelainan pembentukan tulang belakang, dan habitual. Makanya, disarankan untuk screening skoliosis pada usia 9-14 tahun,'' ujar Labana.

Pentingnya pemeriksaan atau screening dokter semakin penting karena skoliosis tidak menimbulkan rasa sakit atau tanda signifikan. Apalagi untuk penderita di bawah 17 tahun.

''Di bawah 17 tahun biasanya tidak merasakan apa-apa karena tubuhnya masih kuat dan organnya bekerja optimal. Di bawah 30 tahun pun belum terasa sesak akibat ketindihan tulang. Mulai 40 tahun mungkin terasa,'' paparnya.

Lantas, bagaimana cara mengidentifikasinya? Sebelum pergi ke dokter, pasien bisa mengidentifikasi keadaan tulang belakang dengan meminta pertolongan pada teman atau kerabat terlebih dulu.

Tanda-tanda bentuk tubuh yang mengalami skoliosis misalnya bahu asimetris atau miring, ada tonjolan tulang bahu, kurva yang terlihat atau pinggul atau pinggang miring.

Bisa juga melakukan pengecekan dengan membungkuk. Jika terdapat punuk di punggung atas atau bawah, ada kemungkinan skoliosis.

”Segera pergi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut supaya penyakit tersebut tidak semakin parah. Setiap tahun, kemiringan tulang akan bertambah 1 derajat. Kalau kemiringannya sudah sampai 60 derajat, sudah harus operasi. Dan harus aktif supaya ototnya kuat menahan bentuk tulang supaya tetap lurus,'' sarannya.

Di bawah 60 derajat, penderita skoliosis masih mampu memakai brace yang tepat untuk bentuk tubuh dan tulangnya. Selain itu, pasien juga perlu perawatan psikologis agar terbiasa bergerak dengan bentuk tulang yang tegak.

''Kalau sudah 20 derajat sampai di bawah 60 derajat, sebaiknya pakai brace setiap hari. Biasanya dipantau selama 2 tahun. Dan harus aktif olahraga. Kalau dipijat, hanya bisa menghilangkan rasa sakitnya sementara,'' katanya.

Umumnya operasi dilakukan jika derajat skoliosis sekitar 100 derajat. Jika sudah mencapai 140 derajat bisa menyebabkan seseorang meninggal karena paru-paru kecil sebelah, jantung terganggu, bernapas sudah karena rongga paru menyempit sebelah. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #wanita #kesehatan #skoliosis 

Berita Terkait

Ini Penyebab Anda Mudah Marah saat Kurang Tidur

Kesehatan

Ini Standar ASI untuk Bayi Prematur

Jakarta Raya

Caleg Fogging Ratusan Rumah Warga

Politik

Suka Sulit Bernafas, Waspada PPOK

Jakarta Raya

Perangi ”Helikopter” dengan WC Komunal

Megapolitan

Jangan "Coba-Coba" Sebelum Menikah

Jakarta Raya

IKLAN