Selasa, 25 September 2018 10:21 WIB
pmk

Nusantara

Sehari, 2 Kapal Terbalik

Redaktur:

MUSIBAH-Detik-detik kapal nelayan dikandaskan ombak di Pantai Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (19/7). Dari 22 awak kapal, enam ABK dan seorang nahkoda tewas, serta 12 lainnya hilang. JUMAI / JAWA POS RADAR JEMBER/jpg

INDOPOS.CO.ID – Laut  selatan Jawa sedang bergolak. Dalam sehari, ada dua kapal yang terbalik dihempas ombak kemarin (19/7).  Pagi hari sekitar pukul 08.15 WIB, sebuah kapal motor nelayan berpenumpang 21 orang terbalik dihempas ombak di perairan selatan Kabupaten Jember. Laporan sementara, 8 orang selamat, 6 orang dipastikan meninggal, sementara 7 lainnya hilang.

Kapal motor bernama “Joko Berek” tersebut tengah dalam perjalanan pulang dari melaut dan memasuki Perairan Pelawangan. Pada pukul 08.15 saat memasuki perariran Pelawangan, Puger, Jember, kapal dibalik oleh gelombang tinggi.  

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jika gelombang pantai selatan Jawa memang sedang tinggi. Hal itu pula yang menyebabkan kapal nelayan di Perairan Pelawangan Puger, Jember, terbalik.

”Tenggelam tadi (kemarin, Red) pada pukul 08.15,” katanya.  Sutopo menyebut kapal terbalik saat akan merapat ke pantai. Akibatnya delapan orang awak kapal selamat dan enam orang awak kapal meninggal dunia.

Sutopo menjelaskan bahwa pihaknya mendapat laporan dari Pusdalops BPBD Provinsi Jawa Timur. Tim evakuasi baru mendapat laporan 15 menit setelah kejadian. ”Tim langsung loading peralatan untuk evakuasi,” ucapnya.

Kecelakaan juga terjadi Perairan Cikeruh Wetan, Lebak Banten pada pukul 14.10. Kapal KM Orange yang mengangkut 24 orang penumpang terbalik. Kapal tersebut mengangkut 20 orang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), dua orang juru masak, dan dua orang awak kapal termasuk nakhoda.

Adapun 20 mahasiswa Pusat Studi Satwa Primata IPB Bogor dan dua orang awak kapal telah dievakuasi dengan selamat. Sedangkan dua orang juru masak yang merupakan bagian dari rombongan IPB tersebut ditemukan meninggal dunia.

Menurut Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Labuan, Endang mengatakan bahwa kapal yang dinahkodai Suhendra tersebut berlayar tanpa Surat Persetujuan Berlayar (SPB). ”Dipelayarannya menghadapi cuaca buruk yang menyebabkan kapal tersebut terbalik akibat terkena ombak dari buritan kapal dan air masuk ke dalam kamar mesin,” ujarnya.

Mahasiswa IPB dalam rombongan tersebut akan menuju Pulau Tinjil. Tujuannya adalah untuk studi satwa primata. Endang menambahkan bahwa pada saat kejadian seluruh penumpang kapal yang berhasil dievakuasi oleh petugas Syahbandar Binuangeun telah menggunakan life jacket. ”Saat ini dua orang yang meninggal dunia telah diambil keluarganya. Sedangkan penumpang yang selamat telah dibawa ke Puskesmas Binuangeun untuk penanganan medis,” kata Endang.

Kepala bagian organisasi dan Humas Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub Gus Rional mengatakan jika maklumat pelayaran terkait cuaca ekstrim rutin selalu dikeluarkan oleh Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.

Maklumat itu berisikan tentang tingginya gelombang laut di perairan di Indonesia yang harus diwaspadai oleh para nakhoda kapal. ”Dalam Maklumat Pelayaran tersebut diingatkan agar selalu memperhatikan faktor cuaca sebelum berangkat dan mengutamakan keselamatan pelayaran tanpa kompromi,” kata Gus saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Sementara itu, Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zulficar Mochtar mengungkapkan, KKP sudah menerbitkan aturan terhadap keselamatan pelayaran. “Tapi kompetensi dan kesadaran nelayan relatif masih rendah,” jelasnya.

Selama ini kata Zulficar masih mengacu ke regulasi internasional, yaitu International Maritime Organization (IMO), International Labour Organization (ILO) dan Food and Agricultural Organization (FAO).  ”Kemenhub yang membuat turunannya untuk safety kerja di laut,” katanya. 

Aturan dari IMO mengatur tentang keselamatan jiwa di laut, kapal, peralatan, serta perlengkapan pendukungnya. Sebagai lembaga internasional, IMO mengembangkan dan menetapkan aturan-aturan tentang transportasi laut dan keselamatan maritim. ”Sementara ILO mengatur tenaga kerja dalam industri perikanan, sedangkan FAO mengatur tentang tata kelola perikanan secara umum,” jelas Zulficar.

Tidak hanya itu, KKP juga sudah mengeluarkan 2 permen yg mendorong juga agar kepatuhan terhadap kontrak kerja ABK kapal ikan dan Hak Asasi Manusia (HAM). ” Ini menjadi bagian yang harus dipenuhi perusahaan perikanan,” jelasnya.

Zulficar menjelaskan, dekerja di laut bagi ABK dan nelayan adalah pekerjaan yang beresiko tinggi. Kecelakaan sangat mungkin terjadi.  Ia menyebut ada tiga faktor utama yang sangat mempengaruhi, yakni faktor manusia termasuk kecakapannya dalam keselamatan pelayaran, faktor cuaca/lingkungan yg perlu diantisipasi, dan faktor teknis termasuk kelengkapan fasilitas dan peralatan.

Sebenarnya, lanjut Zulficar,  konvensi International Labour Organization sudah mengharuskan ABK dan pekerja laut untuk memiliki sertifikat Basic Safety Training (BST). ”KKP dan Kemenhub juga aktif menyelenggarakan pelatihan-pelatihan  terhadap nelayan untuk BST ini di berbagai wilayah,” katanya. 

Dari sisi cuaca, koordinasi intensif dengan BMKG dilakukan dan memberikan info atau warning kepada kapal-kapal  yg ada. ”Tapi nelayan kadang kurang peduli. Perlu diintensifkan degan berbagai pendekatan,” keluhnya. 

Di samping itu,  faktor kelayakan dan kelaikan kapal dan pelayaran harusnya dipertimbangkan oleh  syahbandar ketika memberikan izin melaut. ”Tapi tetap saja, untuk kapal-kapal yang lebih kecil, hal hal terkait keselamatan kadang diabaikan,” jelasnya.

KKP sendiri kata Zulficar sangat concern dengan pekerjaan beresiko tinggi ini. Untuk itulah, KKP sejak 2016 hingga tahun ini meluncurkan program Asuransi Nelayan secara gratis kepada nelayan. Selain itu, Zulficar menghimbau agar perusahaan-perusahaan perikanan juga intensif dan peduli dengan hal-hal ini serta memastikan kompetensi awak/ABK. ”Fasilitas keselamatan, dan koordinasi cuaca dgn pihak terkait dilakukan dengan baik, serta mendorong asuransi bagi awak/ABK-nya,” pungkasnya.(tau/lyn/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kecelakaan #kapal-terbalik 

Berita Terkait

Transjakarta Tabrak Jembatan Penyeberangan

Jakarta Raya

Busway Terguling di Gatsu

Jakarta Raya

35 Tewas gara-gara Penasaran

Internasional

Mesin Mati, Truk Elpiji Disambar Kereta

Nusantara

IKLAN