Selasa, 13 November 2018 07:49 WIB
pmk

Nusantara

Awas Topan Son Tinh, Tinggi Ombak Bisa Capai Enam Meter

Redaktur:

Sugeng Dwi Nur cahahyo/Radar Pacitan/jpg

INDOPOS.CO.ID - GELOMBANG tinggi menghantam kawasan pesisir pantai selatan tak terkecuali di Pacitan, Jawa Timur. Tinggi gelombang dua hingga empat meter itu, membuat nelayan enggan melaut. Mereka memilih melabuhkan kapalnya di dermaga Tamperan guna menghindari kerusakan akibat diterjang ganasnya gelombang. “Dua hari ini adalah puncaknya gelombang tinggi,” terang Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Pacitan, Windarto, kemarin (19/7).

Menurut dia, gelombang tinggi adalah dampak dari angin topan Son Tinh yang berada di laut China Selatan atau tepatnya di barat laut Filipina. Keberadaan putaran angin itu, kini bergerak ke arah barat mendekati wilayah Indonesia. Kecepatannya 37 km/jam hingga mengakibatkan gelombang tinggi.

Bahkan, di titik pusarannya kecepatan mencapai 65 km/jam. “Kondisi ini berdampak pada peningkatan kecepatan angin. Juga peningkatan tinggi gelombang laut di pesisir selatan Yogyakarta. Termasuk, perairan Pacitan,” jelasnya.

BMKG memprediksi, hari ini (20/7), puncak gelombang di Pacitan. Hal itu tak lepas dari semakin dekatnya pusaran angin di perairan samudera Hindia. Gelombang puncak diprediksi mencapai dua hingga enam meter. Alhasil, Windarto meminta kepada nelayan untuk menunda keberangkatan ke laut. “Setelah angin mulai reda, gelombang sekitar dua hingga tiga meter,” terangnya.

Sementara, Munarji, salah seorang nelayan mengungkap tingginya deburan ombak membuat kapal jukung miliknya rusak. Pasalnya, kerasnya gelombang membawa sampah kayu dari laut hingga mengikis lambung kapal miliknya.

Tak hanya itu, kerasnya ombak kemarin malam juga membuat salah satu kapal rekannya tenggelam hampir setengahnya. Diparkir di samping pemecah ombak, tinggi gelombang membuat air masuk ke kapal. “Belum di angkat masih kemasukan air kapalnya,” ujar Munarji

Munarji mengaku sudah seminggu lebih cuaca buruk terjadi di Pacitan. Gelombang tinggi dan angin kencang diakuinya membuat nelayan sementara waktu melabuhkan kapal. Dia memilih menyandarkan kapal saat gelombang dirasa tinggi. Sedang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dirinya mengaku memilih mencari ikan di sekitar dermaga. “Kadang mancing. Ya, seadanya dulu,” jelasnya.

Tidak hanya nelayan, gelombang tinggi akibat pengaruh angin topan Son Tinh berimbas pada objek wisata pantai di Pacitan. Setidaknya tiga pantai yang diketahui terkena dampak. Ketiga pantai itu, antara lain, Klayar, Soge, Pidakan, serta pantai Taman. Termasuk, beberapa pantai lain yang semuanya dipantau Pemkab Pacitan.

Di pantai Klayar, misalnya. Kerasnya gelombang membuat beberapa kios di bibir pantai mengalami kerusakan. Meski tak begitu parah, namun di sebagian kios, ombak merusak hingga kanopi pada kedai milik pedagang.

Hingga, tak sedikit warga yang memilih menutup lapak mereka dan mengungsikan dagangan. “Kurang lebih ada sepuluh kios yang rusak terkena ombak,” ungkap Eko Rias Pramono, salah seorang penjaga pantai Klayar, kemarin.

Deburan ombak setinggi dua hingga tiga meter juga menerjang karang di sekitar pantai. Kerasnya gelombang membuat air terpental menabrak karang. Hal itu membuat para pedagang dan pengunjung di sekitar pantai khawatir air laut menerjang bibir pantai. Kondisi ini membuat pantai Klayar sepi. “Klayar tetap terbuka untuk wisatawan. Tapi, pengunjung kita berikan pengawasan ekstra,” aku Eko melalui sambungan telepon.

Di pantai Pidakan, kondisi serupa juga terjadi. Pantai yang didominasi bebatuan di tepinya itu juga turut porak-poranda. Bahkan, bongkahan batu seukuran bola bisbol terpental hingga jalan di sepanjang pantai.

Sama seperti di Klayar, gelombang tinggi bahkan mencapai empat meter. Pun gelombang juga merusak sebagian fasilitas di pantai, seperti hiasan dan spot selfie. “Siang hari paling tinggi, kalau pagi masih sekitar dua meteran,” ungkap Trinoto, salah seorang warga.

Serupa dengan pantai Klayar, ia mengaku tak ada larangan dari pengelola pantai untuk masuk ke area pantai. Meski diakuinya kondisi objek wisata saat itu tak layak jika digunakan para pengunjung. Pasalnya, jika mendekati pantai deburan ombak dipastikan bakal menyapu wisatawan yang mendekat. “Rusaknya paling cuma model ikan itu karena tiangnya kecil dan batu-batu ini yang naik ke jalan,” jelasnya.

Di pantai Soge, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, kerusakan bahkan terjadi hingga pertanian milik warga. Pasalnya, deburan ombak selain merusak beberapa tempat istirahat seperti warung dan sawung di tepi pantai juga menutup saluran irigasi para warga.

Hingga air sungai yang langsung menuju laut tertutup pasir dan berbalik membanjiri pertanian. Alhasil, tanaman kedelai warga turut terendam air. Beruntung hal itu cepat diketahui warga hingga pasir yang menutup saluran irigasi langsung dibersihkan dan air dapat mengalir. “Kemungkinan risikonya mati karena tercampur air asin,” ungkap Siti Nurwayah, salah seorang petani. (mg6/rif/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #cuaca-buruk 

Berita Terkait

IKLAN