Sabtu, 17 November 2018 01:30 WIB
pmk

Nusantara

Penjual Cappucino Cincau yang Berhasil Jadi Sarjana

Redaktur:

SARJANA- Kirom memetik hasil kerja kerasnya. Penjual cappucino cincau ini dinyatakan lulus, Senin (9/7) tadi. AHMAD MUBARAK/RADAR BANJARMASIN/jpg

INDOPOS.CO.ID - Zainul Kirom. Mahasiswa Fakultas Pertanian. Mengambil Program Studi Agronomi Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Dia baru saja dinyatakan lulus dan berhak mendapat gelar Sarjana Agronomi. Di balik keberhasilan itu, ada jalan beliku yang ia lewati.

Selasa (10/7) siang, langit Banjarbaru begitu terik. Tenggorokan dibuat kering. Memaksa penulis untuk berteduh di tepi Jalan Intansari. Kebetulan di sana ada penjual Kapucino Cincau. Cukup menjanjikan bagi mereka yang kehausan.

Tapi ini bukan soal Capucino Cincau. Karena, dilihat dari sudut manapun ceritanya begitu-begitu saja. Warnanya tetap coklat. Tak ada yang luar biasa. Kecuali si penjualnya. Dialah Zainul Kirom. Di sinilah perbincangan dimulai. Sembari penulis menikmati es cincau yang benar-benar segar kala itu, obrolan pun mengalir. Kirom bercerita banyak hal. Tentang pekerjaan, hingga kehidupannya.

Kirom ternyata adalah anak rantauan. Dia berasal dari Jember, Jawa Timur. Di Banjarbaru hidup sebatang kara. Tak ada keluarga ataupun kerabat dekat. Yang mengejutkan, Kirom merantau ke Banjarbaru bukan untuk menjadi pedagang. Tapi kuliah. Dia ingin mengubah nasib. Orang tuanya di jember hanya petani dan buruh pembuat genteng.

Perjuangan dimulai 2013 silam. Ketia ia memberanikan diri mendaftar kuliah. Tapi sayang, kala itu keberuntungan tak berpihak. Pemuda 25 tahun ini gagal. ”Jalur SNPTN dan SBNPTN sudah dicoba tapi tidak masuk. Terpaksa satu tahun tidak melanjutkan kuliah,” ungkapnya

Kirom memang mengimpikan pendidikan tinggi. Dia tak puas hanya dengan ijazah Paket B dan Madrasah Aliyah Hasyim Balum Jember. Itulah yang memotivasinya untuk kembali memberanikan diri mendaftar kuliah.

2014 adalah tahun yang menggembirakan baginya. Dia ditawari oleh salah satu gurunya untuk mendaftar di ULM. Kala itu sang guru memberitahu. Tak jauh dari universitas, ada daerah yang dikenal sangat religius, Martapura.

Kirom begitu tertarik dengan tawaran itu. Tanpa mengetahui di mana universitas tambatan impiannya tersebut. Sepekan sebelum SMBPTN dilaksanakan, dia baru tau jika ULM berada di pulau Kalimantan. Jauh dari tempat tinggalnya.

Tekad Kirom bulat; menuntut ilmu. Bermodalkan sedikit uang yang diberikan orang tuanya, dia berangkat ke Kalsel. Tujuannya adalah Banjarbaru. Sesampainya di sana, lantaran penasaran, ia kemudian bertandang ke Martapura. Tempat yang disebut gurunya adalah daerah religius.

Jauh sebelu itu, Kirom pernah bermimpi. Jalan-jalan di suatu tempat asing yang sama sekali belum pernah ia kunjungi. Dan Martapura membuatnya kaget. Suasana Kota Serambi Mekkah itu seperti gambaran di mimpinya. "Mungkin ini takdir saya, yang telah ditakdirkan kuliah di Banjarbaru," ceritanya.

Kali ini Kirom memang beruntung. Usahanya tak sia-sia. Dia diterima masuk sebagai mahasiswa melalui jalur SBNPTN. Dan yang paling menyenangkan, ia mendapat beasiswa Bidik Misi. Dengan beasiswa itu, ia tak perlu membayar UKT. Bahkan uangnya masih tersisa sebesar Rp3,6 juta per semester. Yang digunakannya untuk keperluan kuliah dan kebutuhan hidup.

Semester 1 hingga 3, Kirom sempat enam kali berpindah tempat kos. Ditanya kenapa, dia melempar senyum. Lantas menjawab, “Saya mempaskan dengan kontong. Mencari kos-kosan yang paling murah. Dari Rp 450 ribu sampai dengan Rp 250 ribu," ungkapnya.

Hidup sebagai perantau, tentu saja tak mudah. Uang sisa beasiswa tak benar-benar cukup menopang kehidupannya sehari-hari. Kirom pun memilih bekerja sambil kuliah. Dia tak pernah berharap kiriman orang tua.

Semester 3, dia mendapat pekerjaan di Jalan Unlam Satu. Tepatnya depan musium. Tempat penjualan tanaman dan pupuk organik. Di sana dia disediakan tempat tinggal, uang makan dan gaji Rp 350 ribu per bulan.

Di sana pekerjaannya hanya menunggu pembeli tanaman dan membuat pupuk kompos. Waktu bekerjanya fleksibel. Sehingga tak mengganggu jadwal perkuliahan. Rutinitas itu dilakoninya hingga semester 8.

Demi mengejar tambahan ongkos kuliah dan hidup sehari-hari, Kirom tak cuma bekerja di satu tempat. Dia juga sempat bekerja di fakultas tempatnya menimba ilmu sebagai tukang sapu. Pekerjaan itu dilakoninya hingga semester 6.

”Pekerjaan itu saya lakukan setelah pulang kuliah sekitar pukul 17.00 Wita. Menerima gajih Rp 350 ribu per bulan untuk membersihkan empat ruangan kuliah. Saya bekerja di sana dua semester,” cerita Kirom. Kirom sama sekali merasa tak malu. Apapun pekerjaannya, yang penting halal. “saya menanamkan pepatah jawa; jangan malu, nanti tidak makan,” ucapnya.

Jalan berliku tak cuma dia lalu di luar kampus. Dalam perkuliahan Kirom sempat dibuat galau. Pada semester 6, nilainya anjlok. IPK-nya hanya 2,8. Penyebabnya pekerjaan yang menumpuk, plus berbarengan dengan masa ujian.

"Saat itu saya pernah berpikir berhenti bekerja. Karena sudah terlalu lelah. Biaya hidup dan menyewa tempat tinggal setelah keluar dari tempat itu menjadi pikiran saya. Sehingga mengurungkan niat untuk berhenti,” tuturnya.

Saat kuliahnya sudah memasuki semester 8, dia memilih untuk bekerja sendiri. Tak terikat lagi dengan siapapun. Dia kemudian menyewa kos di Jalan Intansari, Kelurahan Sungai Besar, Banjarbaru Selatan. Sembari menyelesaikan skripsi, Kirom mencoba peruntungan baru. Berjualan capucino cincau di lokasi yang tak jauh dari kosnya. Kebetulan, ia mendapat modal Rp 3,7 juta dari komunitas Entrepreneur Success Community (SCO). Setelah memberanikan mengajukan proposal bisnis.

Dana tersebut digunakannya untuk membeli grobak setra alat penunjang lainnya. ”Komonitas SCO hanya meminta Rp 10.000 untuk satu hari berjualan," sebutnya. Kebetulan, ia juga tergabung dalam komunitas itu.

Dibandingkan bekerja dengan orang lain, pendapatannya dari berjualan capucino cincau jauh lebih besar. Dari Rp 20 ribu hingga Rp 150 ribu sehari. Dari hasil berjualan, Kirom akhirnya bisa membeli sepeda. Untuk ia gunakan membeli bahan jualannya. Karena, selama ini dirinya tak punya alat transportasi pribadi. Untuk kuliah, ia hanya berjalan kaki.

Kirom mengaku, bekerja adalah bagian dari hidupnya. Saat SD dia sering membantu orang tuanya bekerja di sawah. Sedangkan waktu SMP, itulah saat terberat baginya. Dia harus berhenti sekolah, hanya sampai kelas dua saja. Ikut bekerja membantu orang tua membuat genteng di Dusun Gumuk Rase, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember. Dusun itu adalah tempat tinggalnya.

”Satu tahun saya berkerja membuat genteng. Suatu ketika timbul dalam pikiran; apakah aku sampai tua nanti bekerja seperti ini terus? Pertanyaan tersebut membuat saya melanjutkan sekolah Paket B,” ceritanya.

Tapi itu cerita masa lalu. Kirom sudah melangkah jauh ke depan. Move on dari keterpurukan menuju kehidupan yang lebih baik. Langkah itu ia mulai dengan mengejar ilmu setinggi-tingginya. Singkat cerita, tepatnya 9 Juli, Kamis tadi Kirom dinyatakan lulus. Dia berhak menyandang gelar sarjana. S1 Ilmu Agronomi.

Dinyatakan lulus, adalah hadiah yang luar biasa dalam hidupnya. Kirom begitu senang. Dia bahkan terharu. Perjuangannya merantau ke tanah asing dan jauh dari keluarga tak sia-sia. Setelah ini, Kirom berencana untuk pulang ke kampung halamannya. Dia ingin membuka usaha sesuai ilmu yang telah didapatkanya selama kuliah. Biar tahu saja. Kirom adalah lulusan pertama Ilmu Agronomi angkatan 2014. (*/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks 

Berita Terkait

IKLAN