Senin, 24 September 2018 04:45 WIB
pmk

Ekonomi

Laba Bank Mandiri Rp 12,17 Triliun

Redaktur:

PAPARAN - Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi (tengah), Direktur Treasury dan International Banking Darmawan Djunaidi (kanan), dan Direktur TI & Operasi Rico Usthavia Frans (kiri) saat menjelaskan kinerja Bank Mandiri semester pertama 2018 di Jakarta, Kamis, (19/7). Foto: Ismail Pohan/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - PT Bank Mandiri (BMRI) mencatat laba bersih Rp 12,17 triliun pada semester pertama 2018, naik 28,7 persen dari edisi sama 2017 hanya Rp 9,46 triliun. Hasil itu, ditopang pendapatan operasional meningkat 8,2 persen menjadi Rp 40,97 triliun dari periode sama 2017 di kisaran Rp 37,87 triliun. Padahal, beban operasional meningkat 8 persen dari Rp 16,06 triliun menjadi Rp 17,34 triliun.

Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi menyebut beban operasional meningkat, tetapi bisa ditekan dengan mengurangi cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN). ”Kami sukses menurunkan CKPN 15,4 persen,” tutur Herydi Jakarta, Kamis (19/7).

Koreksi CKPN diikuti penurunan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) dari 3,82 persen menjadi 3,13 persen. Pendapatan operasional lebih tinggi dari pendapatan bunga meningkat 3,4 persen dari Rp 25,68 triliun menjadi Rp 26,56 triliun. Pendapatan non bunga (fee based income) tumbuh 18,1 persen dari Rp 10,89 triliun menjadi Rp 12,86 triliun.

Sedang pendapatan bunga disumbang pertumbuhan kredit mencapai 11,8 persen dari Rp 682 triliun menjadi Rp 762,5 triliun. Khususnya kredit segmen korporasi tumbuh 22,2 persen mencapai Rp 296,8 triliun. Kredit mikro tumbuh 24,8 persen menjadi Rp 90,6 triliun, kredit ke perusahaan anak naik 19,6 persen menjadi Rp 91,4 triliun, kredit konsumer meningkat 14,1 persen ke Rp 83,3 triliun, dan kredit ke perusahaan asing tumbuh 317,9 persen menjadi Rp 3,3 triliun.

Kontribusi segmen-segmen itu berhasil menutup minimnya sumbangan kredit segmen kecil dan menengah merosot 9,1 persen menjadi Rp 53,7 triliun dan kredit bisnis menengah turun 8,8 persen menjadi Rp 143,4 triliun. Kredit infrastruktur tumbuh 24,1 persen menjadi Rp 165,8 triliun dari limit senilai Rp 255,3 triliun. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah mencapai Rp 8,27 triliun atau 56,79 persen dari target Rp 14,56 triliun.

Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 803 triliun atau masih tumbuh 5,5 persen dari periode sama tahun lalu senilai Rp 760,9 triliun. Sumbangan DPK mayoritas berasal dari dana murah (Current Account Saving Account/CASA), seperti tabungan dan giro mencapai Rp 519 triliun atau 64 persen dari total DPK. Sedang sisanya berupa dana mahal atau deposito mencapai Rp 284 triliun. ”Strategi utama meningkatkan dana murah melalui giro transaksional dan varian produk tabungan," terangnya.

DPK itu lebih banyak disumbang tabunga, giro, dan deposito berdenominasi rupiah, masing-masing tumbuh 9,3 persen, 4,5 persen, dan 2,9 persen. Sedang DPK valuta asing (valas) bervariasi. Tabungan dan deposito valas tumbuh 7,2 persen dan 25,5 persen, namun giro valas turun 7,4 persen. Hal ini karena tekanan pelemahan nilai tukar rupiah, sehingga suplai valas cukup berkurang.

Di sisi lain, meski DPK masih tumbuh, namun rasio volume kredit yang disalurkan dengan penerimaan dana bank (Loan to Deposit Ratio/LDR) justru meningkat dari 89,4 persen ke 94,57 persen. Walhasil, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) turun dari 21,55 persen ke 20,64 persen. Sementara margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) turun dari 5,88 persen ke 5,74 persen. Namun, aset meningkat 8,3 persen menjadi Rp1.155,54 triliun. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #bank-mandiri 

Berita Terkait

IKLAN