Kamis, 20 September 2018 07:53 WIB
pmk

Nasional

Mengenal Ali Mochtar Ngabalin: Diplesetin Nyebelin, Tapi Sebenarnya Sosok yang Hangat

Redaktur: eko satiya hushada

URUS UMAT – Walau semakin sibuk, Ali Mochtar Ngabalin selalu ke Masjid Cut Meutia, Cikini, bertemu dengan pengurus Bakomubin. Foto : Istimewa

INDOPOS.CO.ID - SOSOK Ali Mochtar Ngabalin tiba-tiba menjadi semacam petir di siang bolong. Setiap bicara dengan media, mengundang pro dan kontra. Belum redah soal komentar-komentarnya setelah diangkat menjadi juru bicara istana, muncul kabar Ali Mochtar diangkat menjadi komisaris di Angkasa Pura. Siapa sebenarnya Ali Mochtar Ngabalin, yang sering diplesetin namanya menjadi Ali Mochtar Nyebelin? Berikut catatannya;

“Tolong Abang Ali. Jangan tinggalkan abang. Bantu Abang,” begitu pesan dari Ali Mochtar Ngabalin (AMN) di WhatsApp Group (WAG) PP Badan Koordinasi Mubaliqh se-Indonesia (Bakomubin) yang dipimpinnya, dua hari setelah ia diangkat menjadi Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP) pada Rabu 23 Mei 2018 lalu.

AMN selalu menyebut dirinya dengan sebutan Bang Ali. Khususnya kepada yang lebih muda. Bisa jadi, AMN sadar bakal terjadi pro dan kontra di organisasi mubaliqh yang dipimpinnya itu. Maklum, organisasi ini tempat berkumpulnya para pendakwah, yang jauh dari urusan politik.

Sebelum diumumkan sebagai orang Istana Presiden, AMN memang mengumpulkan sejumlah pengurus harian PP Bakomubin. Ia minta pendapat dan dukungan.

“Insha Allah kami akan selalu mendukung Ketum, sepanjang Ketum tetap di jalur perjuangan dakwah,” kata Ade Irfan Pulungan, salah seorang ketua di PP Bakomubin, kepada INDOPOS.

Kepada pengurus harian Bakomubin, AMN menyampaikan alasannya menerima tawaran untuk masuk ke Istana. “Abang Ali ingin suara mubaliqh, ulama, itu tidak hanya sampai di mimbar dakwah. Tidak menembus dinding istana. Abang Ali yang akan membawa suara itu masuk istana untuk umat,” kata AMN.

Jauh hari, AMN memang sudah cerita ditawarin menjadi juru bicara Istana, membantu presiden. “Ini barang (tawaran ke istana) sudah setahun dibicarakan. Tapi Abang fikir-fikir dulu,” jelasnya.

Kabarnya, Presiden Joko Widodo kepincut dengan AMN, karena ia cerdas dan mampu berkomunikasi baik dengan presiden. “Saya belum pernah melihat Presiden bicara dengan posisi yang sangat dekat, lama dan tertawa terbahak-bahak. Itu hanya terjadi pada Ali Mochtar Ngabalin,” kata seorang Menteri Kabinet Kerja, yang enggan disebutkan namanya, kepada INDOPOS beberapa waktu lalu.

AMN yang ditanyai kebenaran cerita itu tak membantahnya. “Ya Alhamdulillah, Pak Presiden tak sekedar bicara soal pekerjaan dengan saya. Tetapi juga banyak bicara soal Al qur an dan hadist. Alhamdulillah,” kata AMN, putera kelahiran Fakfak, Papua Barat pada 25 Desember 1968 itu.

Kedekatan AMN dengan Presiden memang tampak jelas. Bahkan, di sejumlah acara, AMN sering jalan beriringan dengan Presiden Jokowi. Sementara pejabat lainnya berada di belakang AMN.

“Itu yang sering bikin Abang Ali nggak enak dengan menteri atau bahkan Pak Moeldoko (Kepala KSP). Abang suka dipanggil Pak Presiden. Mana Pak Ngabalin? Kemudian beliau tanya ini itu sambil jalan. Abang Ali jadi tidak enak,” kata  doctor dari Universitas Negeri Jakarta itu pada INDOPOS, sambil tertawa.

AMN memang tak sekedar dikenal sebagai politisi. Tapi juga mubaliqh. Ia pernah menjadi anggota DPR RI periode 2004 hingga 2009 dari Partai Bulan Bintang.

Anak Papua-Bugis Makkasar ini lahir dan besar di Fakfak, Papua.  Setelah menyelesaikan sekolah di SD Impres, ia mendalami ilmu agamanya dengan melanjutkan studi ke Madrasah Tsanawiyah, Aliyah di Fakfak, hingga Mualimin Muhammadiyah di Makassar.

Selanjutnya AMN menempuh pendidikan sekolah tingginya di IAIN Alauddin Makassar dan lulus pada tahun 1994. Kemudian mengambil pasca sarjana pada bidang Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia dan meraih gelar doctor dari Universitas Negeri Jakarta pada 18 Maret 2013 lalu.

Ia mulai muncul di panggung politik dengan bergabung di Partai Bulan Bintang. Kemudian menjadi anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan II.

Selain di politik, AMN banyak berkecimpung di dunia pendidikan Islam. Pernah berprofesi sebagai Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di Makassar dan Pimpinan Pondok Pesantren Darul Fallah di Palu. Ia pun pernah menjadi Dosen Luar Biasa Pasca Sarjana Institut Agama Islam Al Aqidah, Jakarta.

Tahun 2010, Ngabalin memilih pindah ke Partai Golkar dengan jabatan Wakil Sekretaris Jenderal. Baru-baru ini, ia pernah ditawari ‘pulang kampung’ ke PBB, dengan jabatan Sekjen di partai yang dipimpin Prof Yusril Ihza Mahendra tersebut. Namun ia lebih memilih tetap di Golkar. Walau kini, ia memilih mundur dari kepengurusan Golkar, sehari setelah diangkat sebagai komisaris di Angkasa Pura.

Dalam kesehariannya, AMN tidaklah seperti yang tampak di layar televisi. Ia selalu garang, bicaranya lantang dan menyerang siapapun yang dianggapnya bicara kurang tepat.

Jika ingin menemuinya, datang saja ke Masjid Cut Meutia di Cikini. Ia sering di sana, yang kebetulan sekretariat PP Bakomubin. Walau semakin sibuk, AMN masih tetap bisa menemui pengurus harian organisasi mubaliqh tersebut.

“Bang Ali orangnya hangat, rendah hati, bersahabat dan suka membesarkan hati orang. Beliau mudah diterima orang,” kata Muhammad Harun Al Rasyid, salah seorang ketua PP Bakomubin, kepada INDOPOS.

Jadi memang, kata Harun yang dipanggil MHR itu, mereka yang kenal dengan Ali Mochtar Ngabalin, hanya tertawa ketika melihat dia ‘berulah’ di televisi dengan komentarnya yang nyebelin sebagian orang. 

“Paling ketawa-ketawa saja. Yang tidak kenal ya memang protes. Saya sering dapat WA dari teman. Tanya, itu kenapa teman mu (AMN) begitu ya?!. Ya saya jawab saja, biar saja. Dia sedang melakukan tugas Negara. Itu pilihannya,” kata MHR yang biasa dipanggil Ama oleh AMN. (esa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #ali-mochtar-ngabalin #boks 

Berita Terkait

Mengunjungi Museum Lukisan Tertua di Bali (2-Habis)

Nasional

Hanya dengan Pejamkan Mata Lahir Karya

Nusantara

Kisah Avanza, Bayi Kembar Tiga yang Lahir di Mobil

Nusantara

IKLAN