Kamis, 15 November 2018 10:06 WIB
pmk

Lifestyle

Logika Berpikir Ilmiah Tangkal Hoax

Redaktur:

SERU-Belajar harus dilakukan dengan cara yang fun, supaya mudah dipahami siswa. Foto: JOESVICAR IQBAL/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID – Persoalan pendidikan di tanah air rata-rata terkendala akses, kurangnya buku, dan tidak adanya standardisasi kurikulum yang jelas. "Masalah sistem pendidikan di Indonesia tak hanya soal akses, tetapi mengenai kualitas pendidikan itu sendiri," kritik Founder Zenius Education Sabda PS di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (19/7) lalu. 

Oleh sebab itu, perusahaan education technology Zenius Education mencoba berkontribusi menyajikan pendidikan berkualitas dengan dukungan teknologi. Menurutnya, harus ada logika dasar yang kuat dalam materi ajar.

"Sebab, tanpa logika dasar yang kuat, generasi muda kita mudah terpengaruh hoax. Bahkan, penyebaran terorisme yang sudah masuk ranah sekolah dan kampus adalah bukti, bahwa generasi muda kita belum sampai tahap berpikir dengan logika," paparnya.

Sabda menambahkan, ukuran capaian tingkat pendidikan formal di Indonesia bisa mengacu pada tes tiga tahunan, yaitu, Programme for Internasional Student Assessment (PISA), sebuah sistem ujian yang diinisiasi oleh Organization for Economic Co-Operation and Development (Oecd).

Sejak mengikuti tes tersebut di tahun 2010, Indonesia selalu berada di peringkat 10 terbawah dari 72 negara yang disurvei. Hasil UN 2018 menunjukkan bahwa 63-79 persen siswa memiliki rata-rata nilai diatas 55. 

Dunia termasuk Indonesia menyambut datangnya era industri 4.0. Disaat mesin akan menggantikan beberapa fungsi pekerjaan manusia. 

Secara estimasi, sekitar 400-800 juta individu akan tergantikan pekerjaannya oleh automatisasu di tahun 2030 (McKinsey,  2017).

"Tantangan pendidikan Indonesia di masa depan adalah mencetak generasi muda untuk memahami ilmu yang diajarkan. Bukan sekedar mengingat informasi," tambah Sabda. 

Maka itu, pihaknya menawarkan sebuah ekosistem belajar digital yang fokus pada materi belajar konsep dan penalaran ilmiah. Tidak ada lagi metode hafalan.

"Nah, Zenius berupaya mengubah pola pikir pelajar Indonesia untuk mengerti satu konsep ilmu ketimbang menghafal," tambah Sabda. Tidak hanya itu, sambung dia, dengan berpikir ilmiah, maka akan membangun rasa ingin tahu siswa.

CEO Zenius Wisnu Subekti menambahkan, dulu sebelum teknologi digital berkembang seperti saat ini, pihaknya pernah mengembangkan metode ajar dengan CD. Namun sayang, banyak dibajak.

Dengan dikembangkannya EdTech, pihaknya memberikan bahan ajar lewat website. "Saat ini, sebagai market leader diindustri EdTech bidang pendidikan dasar dan menengah, kami berkomitmen untuk terus memegang kendali pendidikan berbasis teknologi di Indonesia," ungkapnya.

Targetnya, 60 juta pelajar di Indonesia memiliki pengalaman dan penalaran yang baik kedepannya. "Inilah yang mendorong kami untuk melakukan ekspansi," tutupnya. (ibl) 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #berpikir-ilmiah #zenius-education 

Berita Terkait

IKLAN