Kamis, 20 September 2018 04:20 WIB
pmk

Fokus

TGB Cawapres Jokowi, Demokrat Bangga

Redaktur:

KOALISI JOKOWI - Joko Widodo menerima enam ketua umum partai pendukungnya, di Istana Bogor, Senin (23/7) malam. HUMAS ISTANA PRESIDEN

INDOPOS.CO.ID – Kabar mengejutkan tersiar Senin (23/7) malam. TGH Zainul Majdi atau yang juga dikenal dengan Tuan Guru Bajang (TGB), mengundurkan diri dari Partai Demokrat. Langsung saja muncul spekulasi, bahwa Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) itu mundur karena akan menjadi calon wakil presiden (cawapres) Joko Widodo.

TGB telah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Ketua Dewan Kehormatan PD Amir Syamsuddin. Sementara Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon menilai bagus, bila faktanya memang Jokowi menjadikan TGB sebagai cawapres. Dengan demikian, Jokowi secara tidak langsung mengakui kader binaan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu seseorang yang layak mendampinginya.

"Bagus dong (jadi cawapres). Itu artinya Demokrat berkontribusi terhadap pencapresan itu, kalau misalnya anak didik kita diambil partai orang. Ya itu bagus dong," ungkap Jansen saat dihubungi INDOPOS di Jakarta, Senin (23/7).

Hanya saja, menurut dia, partai berlambang mercy tersebut belum tentu akan bergabung dengan koalisi partai politik pendukung pemerintah. "Demokrat dukung apa nggak, ya kita tunggu keputusan majelis tinggi," katanya.

Jansen menegaskan, SBY sendiri belum mengarahkan para kadernya untuk membicarakan soal koalisi dengan pemerintah maupun dengan cawapres TGB. Jansen tegaskan, partainya sedang fokus dengan Partai Gerindra, di mana pada Selasa (24/7) SBY dengan Prabowo akan melakukan pertemuan.

"Nggak ada fokus lain. Kita lihat lah, politik ini kan malam ini bisa naik, malam nanti bisa beda. Cuma fokus kita sekarang hanya kepada pertemuan Demokrat dengan Gerindra," ungkapnya.

Terkait kemunduran TGB dari Demokrat, Jansen mengaku telah mendengar kabar tersebut. Tetapi menurutnya, Badan Pembinaan Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (BPOKK) Partai Demokrat belum menerima surat pengunduran diri gubernur NTB itu.

"Per-siang tadi, saya tanyakan kepada BPOKK partai, surat pengunduran dirinya belum ada,"  tegasnya.

Sementara, TGB yang dihubungi lewat telepon tadi malam mengakui bahwa dirinya benar mundur dari partai besutan SBY tersebut. Pertimbangannya, karena alasan pribadi. Ia tak berkenan menjelaskan, apa yang dimaksud dengan alasan pribadi tersebut.

“Iya benar, saya mundur dari Demokrat,” kata TGB melalui telepon, Senin (23/7) malam.

Ketika ditanya apakah ia mundur karena Jokowi memilihnya sebagai cawapres di pilpres 2019 mendatang, TGB lagi-lagi mengatakan, bahwa ia mundur karena alasan pribadi. Menurut TGB, sejauh ini tidak ada pembicaraan dengan Jokowi untuk menjadikannya sebagai cawapres.

“Saya mundur karena alasan pribadi. Tidak pernah ada pembicaraan apapun, tentang jabatan apapun dengan Bapak Jokowi. Apalagi Cawapres,” tegas TGB.

Beberapa waktu belakangan ini, TGB disebut-sebut sebagai salah satu dari lima nama yang masuk sebagai bakal cawapres Jokowi. TGB sendiri secara terbuka menyatakan mendukung dua priode Jokowi.

TGB menilai, Jokowi perlu memimpin dua periode untuk menuntaskan pembangunan insfrastruktur yang sudah berjalan selama ini. Pernyataan dukungan itu menuai kritik dari sejumlah pihak. Sebelumnya, TGB mendukung Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa di pilpres 2014. Di sisi lain, partai tempat TGB bernaung, yakni Demokrat, hingga kini belum menentukan pilihan politiknya di pilpres 2019. Demokrat getol mendorong Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk menjadi cawapres, siapapun presidennya.

TGB mengatakan, dukungannya kepada Jokowi bersifat personal. Dia mengaku mendukung setelah melihat kinerja Jokowi selama dua tahun menjabat presiden. Politikus Partai Demokrat ini menilai Jokowi konsisten dan berkomitmen mengeksekusi rencana pembangunan. "Saya melihat beliau konsisten dan tekun melaksanakan pembangunan, termasuk di NTB," kata TGB.

Siapa sebenarnya TGB? Pria kelahiran Pancor, Selong, 31 Mei 1972 ini adalah Gubernur NTB dua periode, masa jabatan 2008-2013 dan 2013-2018. Pada periode pertama dia didampingi oleh Wakil Gubernur Badrul Munir, sedangkan di periode kedua, didampingi oleh Wakil Gubernur Muhammad Amin.

Sebelumnya, Majdi menjadi anggota DPR RI masa jabatan 2004-2009 dari Partai Bulan Bintang yang membidangi masalah pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian dan kebudayaan (Komisi X). Ia adalah putra ketiga dari pasangan HM Djalaluddin SH, seorang pensiunan birokrat Pemda NTB dan Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Madjid.

Ibu kandung TGB adalah putri dari TGH M Zainuddin Abdul Madjid (Tuan Guru Pancor), pendiri organisasi Islam terbesar di NTB, Nahdlatul Wathan (NW) dan pendiri Pesantren Darun-Nahdlatain.

Pada tahun 1997, Majdi menikah dengan Hj. Robiatul Adawiyah, SE, putri KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i, pemimpin Ponpes As-Syafiiyah, Jakarta. Pernikahan cucu ulama besar di NTB TGH. KH. Zainuddin Abdul Majid dan cucu ulama besar kharismatik Betawi itu telah dikaruniai 1 putra dan 3 putri, yaitu Muhammad Rifki Farabi, Zahwa Nadhira, Fatima Azzahra dan Zayda Salima.

Dr TGH Muhammad Zainul Majdi mengenyam pendidikan dasar di SDN 3 Mataram (Sekarang SDN 6 Mataram), lulus tahun 1986. Ia melewati jenjang SLTP di Madrasah Tsanawiyah Mu'allimin Nahdlatul Wathan Pancor hanya selama 2 tahun, dan lulus Aliyah di yayasan yang sama tahun 1991. Sebelum memasuki perguruan tinggi, ia menghafal Al-Qur'an di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits Nahdlatul Wathan Pancor selama setahun (1991-1992).

Kemudian pada tahun 1992 Majdi berangkat ke Kairo guna menimba ilmu di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Universitas Al-Azhar Kairo dan lulus meraih gelar Lc. pada tahun 1996. Lima tahun berikutnya, ia meraih Master of Art (M.A.) dengan predikat Jayyid Jiddan.

Setelah menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di Al-Azhar selama 10 tahun, Majdi melanjutkan ke program S3 di universitas dan jurusan yang sama. Pada bulan Oktober 2002, proposal disertasi Majdi diterima dengan judul Studi dan Analisis terhadap Manuskrip Kitab Tafsir Ibnu Kamal Basya dari Awal Surat An-Nahl sampai Akhir Surat Ash-Shoffat di bawah bimbingan Prof. Dr. Said Muhammad Dasuqi dan Prof. Dr. Ahmad Syahaq Ahmad.

Ia berhasil meraih gelar Doktor dengan predikat Martabah EL-Syaraf El Ula Ma`a Haqqutba atau Summa Cumlaude pada hari sabtu, 8 Januari 2011 dalam munaqosah (sidang) dengan Dosen Penguji Prof. Dr. Abdul Hay Hussein Al-Farmawi dan Prof. Dr . Al-Muhammady Abdurrahman Abdullah Ats-Tsuluts.

Makan Malam Koalisi Jokowi

Sementara dari Istana Bogor dikabarkan, Presiden  Jokowi bertemu dengan para ketua umum partai politik pendukungnya, Senin (23/7) malam. Belum diketahui apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan yang berlangsung tertutup tersebut.

Humas Kepresidenan hanya mengirim foto pertemuan yang berlangsung sejak pukul 19.00 WIB itu. Tanpa ada keterangan apapun soal isi pertemuan. Dari foto yang dikirim kepada wartawan itu, tampak para ketua umum parpol yang hadir adalah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang (OSO), Ketua Umum NasDem Surya Paloh, dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Rommy).

Sumber INDOPOS di istana ketika ditanya apakah pertemuan tersebut membahas soal pilihan cawapres Jokowi, termasuk TGB, enggan menjawabnya. “Nanti Pak Presiden langsung yang akan menjelaskan,” kata sumber tadi.  (esa/jaa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #menanti-cawapres-jokowi #pilpres-2019 #pemilu-2019 #partai-demokrat 

Berita Terkait

IKLAN