Selasa, 13 November 2018 11:22 WIB
pmk

Headline

Gerhana Bulan, Awas Gelombang Tinggi

Redaktur:

WASPADA-Gelombang tinggi menerjang karang di Pantai Sembukan, Paranggupito, Wonogiri, Jawa Tengah, Rabu (25/7). ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO/JPG

INDOPOS.CO.ID – Gelombang tinggi menghantam Pantai Selatan Jawa kemarin (25/7). Ini  sesuai perkiraaan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Di beberapa daerah, dilaporkan terjadi kerusakan rumah dan bangunan. Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, melaporkan bahwa ombak telah naik jauh ke pantai dan membuat 114 orang atau 33 Kepala Keluarga (KK) mengungsi sementara ke gedung-gedung sekolah.

Warga yang mengungsai berasal dari Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung dan Desa Kuranji, Kecamatan Labu Api, Lombok Barat. Lebih dari 64 rumah terendam air di Kecamatan Gerung dengan tinggi rata-rata 30 hingga 60 sentimeter. Sementara kerugian di Kecamatan Labu Api masih dalam penghitungan. 

Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa BPBD setempat telah menerjunkan 24 personel yang dibagi dalam 2 regu berkoordinasi dengan Tagana Dinas Sosial dan TNI/Polri untuk mengevakuasi warga ke tempat yang aman, yakni Gedung Sekolah SDN  04 Taman Ayu. ”Gelombang masih terus menghantam perumahan, bapak-bapak berjaga di sekitar rumah, sementara ibu-ibu mengungsi,” kata Sutopo, kemarin (25/7).

Hantaman gelombang tinggi hampir merata di selatan Jawa. Di Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) saja, gelombang tinggi yang menghempas pantai merusakn puluhan Gazebo, rumah makan, lapak, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan fasilitas-fasilitas di pantai wisata. Kerusakan terjadi di 3 kabupaten, yakni di Gunung Kidul, Bantul, dan Kulon Progo.

Di pesisir Jawa Barat, gelombang tinggi menghantam pantai dan merusak puluhan perahu nelayan di Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran. Tinggi gelombang bervariasi mulai dari 2 hingga 6 meter. Air laut juga menggenangi lahan-lahan persawahan. Petugas setempat telah berkoordinasi untuk mendirikan posko siaga. Sutopo menghimbau masyarakat untuk selalu waspada dan hati-hati saat beraktivitas di laut dan pantai ”Pantau terus update peringatan dini dari BMKG,” katanya. 

Para nelayan juga diharapkan untuk selalu memantau kondisi laut dan cuaca. Jika secara visual gelombang tinggi dan membahayakan, jangan memaksakan diri berlayar atau melaut.

Begitu juga dengan syahbandar atau pemilik kapal penumpang hendaknya mencermati peringatan dini. Laksanakan sesuai SOP dan ketentuan yang ada. Jika memang membahayakan jangan memaksakan berlayar. ”Seringkali kecelakaan kapal disebabkan ketelodoran dan tidak taat azas,” jelasnya. 

Untuk sementara, masyarakat umum diharapkan untuk menghindari aktivitas di pantai. Seperti berenang atau hal-hal lain yang membahayakan. Pengelola pantai wisata juga harus benar-benar memperhatikan ancaman ini. ”Jika perlu ditutup sementara waktu. Lakukan patroli atau memberikan informasi kepada masyarakat yang hendak berkunjujg ke tempat wisata pantai,” katanya.

Sementara bagi masyarakat yang membuka usaha di pantai seperti berjualan dan penginapan, hendaknya mengutamakan keselematan dirinya. ”Tempatkan barang-barang berharga ke tempat aman. Jangan tetap berada di rumah yang posisinya berbahaya dengan gelombang pasang. Banyak warung-warung  yang dijadikan tempat tinggal di pantai,” kata Sutopo.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, gelombang tinggi yang berlangsung di wilayah selatan Jawa akan berlangsung hingga Oktober mendatang. Besok (27/7), diprediksi akan menjadi puncaknya. "Itu sudah mulai tumbuh Mei dan puncaknya itu Juli, 27 Juli puncaknya," ujarnya di Kantor Kepala Staf Kepresidenan, Jakarta, kemarin (25/7).

Hal itu tidak lepas dari adanya fenomena gerhana bulan cukup lama yang terjadi pada 28 Juli mendatang. "Karena kan bulan penuh. Kan mau ada gerhana bulan, itu kan nanti pasang. Itu gerhana bulan terpanjang," imbuhnya.

Setelah gerhana bulan berlalu, BMKG memprediksi gelombang akan perlahan mulai normal. Dan diperkirakan selesai secara total pada oktober mendatang. "Setelah itu berangsur-angsur turun lagi. berakhir nanti oktober," tuturnya.

Dwi menambahkan, gejala meningkatnya gelombang laut di Pantai Selatan terjadi cukup merata. bahkan, tidak hanya di Pulau Jawa, melainkan juga hingga Pulau Sumatera. Oleh karenanya, saat ini, pihaknya sudah menerbitkan surat peringatan kepada masyarakat untuk tetap waspada.

Terkait tingginya gelombang di perairan selatan Jawa, di antaranya di provinsi Jogjakarta Selasa malam (24/7) sudah diprediksi oleh BMKG. Kabag Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko menyebutkan, untuk periode 24-25 Juli, tinggi gelombang di selatan Pulau Jawa memang bisa sampai sembilan meter.

Gelombang mencapai 9 meter juga berpotensi terjadi di perairan barat Pulau Enggano, perairan barat Lampung, selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Banten, kemudian perairan selatan mulai Jawa Barat sampai Jawa Timur.

Sementara itu untuk peringatan dini tinggi gelombang periode 25-26 Juli, tinggi gelombang mulai turun. "Maksimal enam meter," kata Hary kemarin (25/6). Gelombang setinggi enam meter tetap menyambangi perairan selatan pulau Jawa sampai perairan barat pulau Sumatera.(tau/far/wan/JPG)

Prakiraan Tinggi Gelombang 26 – 27 Juli 2017

26 Juli

Tinggi maksimal 6 meter

Di antaranya terjadi di : Bengulu, Lampung, Selat Sunda bagian selatan, selatan Jawa, selatan Bali sampai NTB

27 Juli

Tinggi maksimal 6 meter

Terjadi di : Perairan selatan Banten, Lampung, dan selatan Jawa

28 Juli

Tinggi maksimal  6 meter

Di antaranya terjadi di : Bengkulu, Lampung, Selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Jawa

 

29 Juli

Tinggi maksimal 6 meter

Di antaranya terjadi di : Bengkulu, Lampung, Selatan Jawa, Selatan Bali dan NTB

30 Juli

Tinggi maksimal 6 meter

Di antaranya terjadi di : Kepulauan Nias, perairan selatan Jawa, selatan Bali hingga NTB

31 Juli

Tinggi maksimal 4 meter

Terjadi di : Bengkulu, Lampung, selatan Jawa, selatan Bali, NTB, sampai perairan pulau Sabu dan pulau Rote

Klasifikasi risiko

Perahu nelayan : waspadai kecepatan angin di atas 15 knot dan ketinggian gelombang di atas 1,25 m

Kapal tongkang : waspadai kecepatan angin di atas 16 knot ketinggian gelombang lebih dari 1,5 m

Kapal Ferry : waspadai kecepatan angin di atas 21 knot dan ketinggian gelombang lebih dari 2,5 m

Kapal ukuran besar : waspadai kecepatan angin di atas 27 knot dengan ketinggian gelombang lebih dari 4 m

Keterangan

Setiap puncak musim kemarau, tinggi gelombang berada di 2,5 meter sampai lebih dari 4 meter

Sumber : BMKG


TOPIK BERITA TERKAIT: #gerhana-bulan #cuaca-ekstrem #gerhana-bulan-total 

Berita Terkait

Waspada Peralihan Cuaca Ekstrem di Kabupaten Bogor

Megapolitan

Topan Mangkhut Hantam Tiongkok, 2,4 Juta Warga Mengungsi

Internasional

Gempa Bumi Susul Badai Jebi

Internasional

Badai Jebi Seret Tanker 2.591 Ton

Internasional

IKLAN