Selasa, 20 November 2018 03:11 WIB
pmk

Indotainment

Hariyanto Boejl Pewarta Foto yang Banting Setir ke Panggung Musik

Redaktur:

BANTING SETIR - Hariyanto Boejl menghibur dengan konser Kontemplasi. IWAN TW/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Ada kejutan baru di dunia fotografi, bukan tentang peralatan fotografi, tehnik pengambilan foto yang menarik ataupun juara lomba foto, namun Hariyanto Boejl, seorang wartawan foto senior yang sebelumnya dikenal dari karya foto serta tulisan buku tentang fotografi itu kini merambah ke dunia tarik suara.

Perwujudan dan peneguhan kehadiran Hariyanto Boejl di dunia musik ditandai dengan acara temu awak media untuk peluncuran  mini albumnya dan Konser Kontemplasi di Amigos, Jakarta, Selasa malam (24/7). Sambutan hangat melalui tepuk tangan meriah diberikan oleh ratusan pengunjung, yang sebagian besar rekan-rekannya sesama pewarta foto, kalangan media, musisi, kerabat dan -tentu saja sponsor saat Boejl menceritakan tentang perjalanannya menuju dimensi lain dalam kehidupannya.

Termasuk juga saat dia memulai dan setelah tampil di panggung untuk mendendangkan lagu-lagu dalam mini albumnya yang menjadi prolog kehadirannya di belantika musik nasional. Keberaniannya untuk melangkah lebih jauh, keluar dari zona nyaman, tentu layak diapresiasi.

Pilihannya untuk bermusikalisasi puisi, yang sudah lama jarang terdengar, tentu bukan tanpa pertimbangan matang. Bagaimanapun juga, Hariyanto Boejl yang kesehariannya lebih disibukkan sebagai pewarta foto di sebuah harian besar sudah membuat kejutan.

“Saya menulis lirik lagu berjudul Kontemplasi dan membuat Konser Kontemplasi  dengan tujuan  saya tidak ingin salah melangkah dalam menjalani kehidupan. Sebab, usia terus bertambah dan ajal pun tidak tahu kapan tiba. Semoga lagu Kontemplasi bisa memberikan inspirasi bagi semua orang yang terjun dalam berbagai profesi,” tutur Hariyanto Boejl.

Sebagai manusia biasa, pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 26 September 1972, itu pun berharap bisa memperbaiki diri sendiri dan mengajak orang lain untuk menebarkan virus kebaikan. Dalam Konser Kontemplasi, Boejl, panggilan akrab Hariyanto, juga meluncurkan mini album yang terdiri atas tiga lagu, yaitu  Kontemplasi, Introspeksi, dan Negeri Pelangi.

Sepak terjang Boejl, dalam blantika musik nasional memang tergolong baru. Namun, suami dari Etty Novitasari, 44 tahun, tetap memiliki tekad kuat untuk berkreasi dalam dimensi berbeda. “Setelah puluhan tahun malang-melintang di dunia fotografi, saya pun merasa dunia tarik suara bisa menghibur banyak orang sekaligus menebarkan kebaikan,” tutur Boejl.

Boejl memilih untuk serius terjun ke dunia musik setelah ada dorongan semangat dari sahabat, Maxi Bahajjaj, atau biasa disapa Maxi King of Soul. “Usia menua bukanlah pembendung dalam berkarya. Dia hanyalah kerikil yang sedikit melambatkan langkah. Selama keinginan kuat masih menyala, kreativitas akan menemukan jalan lapang yang terang,” tutur Boejl, ayah dari Rinov Fajar Anugerah (19 tahun), Maurivi Putri Islamey (16 tahun), dan Viandryna Qanita Dawama (9 tahun).

Hidup, kata Boejl, harus bergairah apabila ingin menorehkan sejarah. Demi semua itu perjuangan dan kesabaran adalah keniscayaan. “Benar kata Rendra, Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata,’’ tutur Boejl.

Kontemplasi, menurut Boejl, sejatinya ekspresi perenungan dalam bentuk lirik yang diharmonisasikan dengan bunyi-bunyian. “Kontemplasi menjadi ruang evaluasi diri atas laku kehidupan yang telah saya jalani. Kontemplasi ada agar hidup senantiasa terjaga,” kata Boejl.

 Eksistensi kebudayaan, ucap Boejl, akan memberikan arah pada laku kehidupan, juga panduan bertumbuhnya kemajuan zaman. Sebagai anak kandung kebudayaan, harmonisasi lirik dan musik memiliki peran dominan dalam mencatat, merawat, dan mengembangkan tiap-tiap entitas peradaban. Fungsi itu dijalankan sejak masa silam, sekarang, hingga kelak di hari depan. Lirik dan musik akan terus bertemali dengan kebudayaan.

 “Saya amat berhasrat mini album Kontemplasi mampu mengalirkan makna hingga sisi terdalam rasa. Namun, saya menyadari bahwa makna pada lirik dan musik membuka rupa-rupa tafsir dan argumentasi. Semua gading pasti retak. Begitu juga Kontemplasi. Ini hanyalah prolog. Dengan segala keresahan dan totalitas, saya akan terus mengembara hingga kelak bertemu epilog yang indah,” ujar Boejl. (itw)


TOPIK BERITA TERKAIT: #musik #boks 

Berita Terkait

IKLAN