Rabu, 14 November 2018 10:54 WIB
pmk

Kesehatan

Ganguan BAB, Waspadai Kanker Usus Besar

Redaktur:

SPESIALIS- Dokter spesialis bedah digestif dr Wifanto Sadityo Jeo, Sp B-KBD.FOTO:IST

INDOPOS.CO.ID – Kanker usus besar atau kanker kolorektal adalah jenis kanker yang sering dijumpai hampir di semua kalangan usia, terutama pada usia lanjut. Tetapi dalam satu dekade terakhir terjadi peningkatan sebesar 30-35 persen penderita kanker usus besar di usia muda (kurang dari 50 tahun).

Dokter spesialis bedah digestif Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ) dr Wifanto Sadityo Jeo, Sp B-KBD  mengatakan kanker usus besar diawali dengan pertumbuhan sel pada lapisan usus paling dalam (mukosa) yang disebut polip adenoma. ”Pada stadium awal, polip adenoma dapat diangkat dengan mudah, namun seringkali tidak menampakkan gejala apapun pada penderitanya. Sehingga semakin lama pertumbuhan sel kanker berubah menjadi penyakit yang ganas dalm kurun waktu 5-10 tahun,” ungkap Wifanto di SHKJ, Jakarta Barat, kemarin.

Dikatakan, gejala kanker usus besar biasanya dimulai dari gangguan pola buang air besar (BAB), berupa diare kronis atau sulit BAB. Gejala lain bisa berupa BAB darah, sakit perut, kembung, penurunan berat badan, bahkan benjolan dalam perut. Pada tahap awal, tidak terlalu tampak gejalanya. Hal ini membuat banyak penderita kanker usus besar datang ke rumah sakit ketika penyakit sudah kronis dan upaya pengobatan pun menjadi sulit.

”Padahal kunci utama keberhasilan penanganan kanker usus besar adalah ditemukannya kanker dalam stadium awal, agar terapi dan tindakan dapat dilaksanakan secara kuratif,” jelas dokter yang juga praktik di RSCM itu. Deteksi dini kanker usus besar bisa dilakukan dengan beberapa pemeriksaan. Dengan CT Scan pada bagian perut untuk membantu menilai bagian luar usus dan organ dalam perut yang berkaitan dengan benjolan. Selain itu dengan pemeriksaan tinja. Ada juga metode kolonoskopi yaitu tindakan memasukkan kamera ke dalam usus untuk mengevaluasi lapisan paling dalam pada usus besar kemudian dilakukan tindakan biopsi bila diperlukan.

Sedangkan di SHKJ menyediakan pilihan prosedur tindakan. Bisa melalui prosedur laparotomi kolektomi yang merupakan pendekatan untuk mengangkat bagian tertentu diusus besar. Metod ini dokter bedah perlu membuat irisan panjang di perut untuk mendapatkan akses ke usus besar. Selain itu pilihan prosedur tindakan yang lainnya adalah dengan pendekatan laporoskopi minimal invasive. ”Dokter hanya perlu membuat sayatan kecil untuk memasukkan instrumen bedah khusus melalui pembedahan modern yang dikenal dengan Minimal Invasive Surgery Center (MISC),” ucapnya.

Salah satu instrumen yang dimaksud adalah cannula atau port yaitu sebuah tabung kecil yang bisa masuk kedalam sayatan, ukurannya hanya 1-1,5cm. Kemudian dihubungkan dengan alat pompa berisi gas karbondioksida. Melalui cannula, rongga perut dikembangkan untuk menciptakan ruang, agar dapat mengangkat tumor/ kanker melalui sayatan yang minimal. Setelah itu, dokter bedah memasukkan kamera laparoskopi, berupa tabung tipis dengan kamera video kecil yang terpasang pada salah satu ujungnya, sementara dokter bedah mengendalikannya dengan bantuan monitor sebagai panduan.

Keuntungan paling signifikan dari prosedur laparoskopi MISC adalah sayatan yang dibuat lebih kecil maka rasa sakit yang dialami pun semakin minimal, kebutuhan untuk obat nyeri setelah operasi tidak dalam dosis yang besar sehingga mengurangi efek samping yang umum. “Adhesi perlekatan dalam perut akan lebih minimal karena manipulasi usus lebih sedikit dibandingkan dengan operasi biasa. Lama rawat di rumah sakit juga semakin singkat karena pemulihan paska operasi lebih cepat.”(dni)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Hampir Capai Seratus Persen

Jakarta Raya

Anak Sering Mual dan Muntah, Waspadai Ginjal

Jakarta Raya

Radang Sebabkan Gigi Cepat Ompong

Jakarta Raya

Kuncinya, Gizi Seimbang Ditambah Susu

Jakarta Raya

Dehidrasi Sebabkan Batu Ginjal

Jakarta Raya

Pasien Tinggal Datang, Tak Perlu Antre

Jakarta Raya

IKLAN