Sabtu, 22 September 2018 04:55 WIB
pmk

Nasional

Empat Pemilik Startup Unicorn Masuk Jajaran Orang Terkaya di Indonesia

Redaktur:

SUKSES-Ferry Unardi (dua dari kiri), Achmad Zaky dan Nadiem Makarim. Foto: Ismail Pohan/INDOPOS

Sejumlah nama menasbihkan diri termasuk orang terkaya di Indonesia. Yang menarik, muncul nama-nama sosok yang memiliki perusahaan startup unicorn. Unicorn adalah istilah bagi startup yang secara valuasi bisnis sudah mencapai angka USD 1 miliar.

-----

INDOPOS.CO.ID - Nama-nama lama memang belum tergeser, masih sebagai orang terkaya di Indonesia. Setidaknya itu terungkap oleh Global Asia edisi Juni 2018 yang merilis 150 richest Indonesian (orang terkaya di Indonesia). Di urutan-urutan teratas, masih dihiasi nama-nama lawas seperti Robert dan Michael Hartono sebagai pemilik grup Djarum berada di peringkat  pertama dengan kekayaan USD 21 miliar. Disusul Eka Tjipta Widjaja, pemilik grup Sinar Mas dengan kekayaan USD13,9 miliar. Sedangkan posisi ketiga ditempati oleh klan Salim lewat bisnis First Pasific dengan kekayaan USD11,5 miliar. 

Hanya, ada sejumlah pengusaha muda startup unicorn yang masuk jajaran orang terkaya di Indonesia. Empat bos startup unicorn itu adalah Ferry Unardi, 30, founder Traveloka, menempati urutan 146 dengan kekayaan USD145 juta. Menyusul di posisi 148 ada nama William Tanuwidjaya, 36 founder Tokopedia, dengan kekayaan USD130 juta. Pemilik e-commerce Bukalapak yang jadi pesaing Tokopedia, Achmad Zaky, 31, ada di posisi 149 dengan kekayaan USD105 juta. Dan Nadiem Makarim, 33, pemilik Gojek, ada diposisi 150 dengan kekayaan USD100 juta.

Menariknya lagi, keempat founder ini termasuk orang termuda dari daftar 150 orang kaya di Indonesia yang rata-rata sudah berusia lebih senior dari mereka. Ferry Unadi dari Traveloka bisa dibilang sebagai orang kaya termuda yang ada dalam daftar ini.

Kiprah Ferry membesarkan Traveloka dimulai pada 2012, saat layanannya mulai dibuka. Ferry tidak sendirian dalam membangun layanan ini, ia bekerja sama dengan Derianto Kusuma dan Albert Zhang. ''Selama delapan tahun di Amerika, terbang dari Amerika ke Indonesia itu sudah jadi bagian dari aktivitas saya. Ya karena kan saya juga mesti mengunjungi tanah air di kala libur kuliah. Selain itu kan nggak seterusnya saya menetap di sini. Saya juga mesti rekreasi di beberapa tempat, termasuk tanah air. Oleh karena itu saya sering bersinggungan dengan urusan tiket pesawat. Nah sayangnya pada saat itu saya sering mengalami kesulitan dalam mencari tiket pesawat yang sesuai dengan keinginan saya. Ketika saya cari tiket pesawat di Indonesia lewat website - website penyedia layanan tiket pesawat, saya sering mengalami putus informasi,'' ujar pria kelahiran Padang, 16 Januari 1988 itu.

Di situ dia melihat ada sebuah peluang. ''Saya merasa jika kita bisa mengolah sistem ini dengan lebih baik ini bisa menjadi peluang emas. Artinya kita kuatkan dari segi websitenya mulai dari maintenance, layout, dan fitur-fiturnya. Ditambah lagi kita kuatkan juga di segi layanannya, lalu buka customer officer selama 24 jam,'' ujar sarjana matematika dan ilmu komputer dari Universitas Purdue itu.

Saat ingin memulai bisnis, ia pun melanjutkan kuliah untuk mendapatkan gelar MBA di Harvard University. Namun, siapa sangka, dia ternyata tidak menyelesaikan kuliahnya tersebut dan keluar untuk memulai bisnis.

Sama seperti startup lain, perjalanan Traveloka memang tidak mulus di awal kelahirannya. Ketika itu, tidak ada maskapai penerbangan yang ingin bekerja sama dengan Traveloka. Namun, itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus mengembangkan layanan Traveloka. Ini terbukti dengan capaian yang sudah diperoleh startup tersebut sekarang.

Saat ini, bukan hanya melayani pembelian tiket, Traveloka kini sudah menawarkan beragam lain, mulai pemesanan hotel hingga pembelian pulsa. Tim kecil Traveloka yang awalnya beranggotakan 10 orang, kini juga sudah mencapai ribuan karyawan.

Pada 2015, aplikasi Traveloka sudah diunduh hingga 6 juta kali. Pada 2016, mereka melebarkan bisnis di enam negara; Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Kini mereka sudah diunduh lebih dari 10 juta.

Ini membuat Traveloka sebagai perusahaan internet pertama dari Indonesia yang melakukan ekspansi bisnis di kawasan Asia Tenggara. Traveloka sudah menjalin kerja sama dengan ratusan ribu hotel di berbagai belahan dunia.

Meski sudah sukses, Ferry terus melakukan inovasi. ''Untuk produk yang terpenting kami akan terus satisfied customer. Tadinya kami menyediakan layanan tiket pesawat dan hotel, sekarang menyediakan layanan pemesanan taksi dan review restoran. Kami ingin membuat Traveloka menyediakan layanan yang sangat lengkap dengan memberikan rekomendasi yang tepat. Ini yang tidak dipunyai oleh produk lainnya,'' tuturnya.

Selain Ferry, ada  William Tanuwijaya. Mungkin tak pernah bermimpi Tokopedia sukses luar biasa dan menjadikannya kini salah satu orang terkaya di Indonesia. Pria kelahiran Pematangsiantar 36 tahun lalu ini mendirikan Tokopedia bersama Leontinus Alpha Edision. Kehadiran e-commerce tidak terlepas dari pengalaman hidup William yang sempat bekerja di forum jual beli. Dia kerap mendapati banyak komplain dari pengguna yang mengalami penipuan transaksi. Akhirnya timbul ide untuk membuat sebuah tempat yang terpercaya untuk jual beli online.

Akhirnya pada pada 6 Februari 2009, ia bersama Leon mendirikan Tokopedia. Dan pada 17 Agustus 2009, e-commerce itu resmi diluncurkan. ''Saya cuma lulusan pekerja warnet, benar-benar jarang ke kampus, kalau ke kampus pas ujian saja. Belum pernah pengalaman bangun bisnis, track record belum ada, jadi modalnya semangat bambu runcing,'' akunya.

Pada bulan pertama berdiri, Tokopedia baru berhasil menggaet 509 merchants dengan 4.560 member. Jumlah transaksi yang dibukukan hanya Rp 33 juta. Setahun berdiri, Tokopedia mengalami perkembangan signifikan. Mereka berhasil mengandeng 4.659 merchant dengan 44.785 anggota. Transaksi yang didapat mencapai Rp 5,954 miliar. Dan sekarang, Tokopedia telah menjelma menjadi salah satu e-commerce raksasa di Indonesia.

Kerja keras dari nol juga dirasakan sang pendiri sekaligus CEO Bukalapak, Achmad Zaky. Pria asal Sragen, Jawa Tengah ini mengaku untuk mendirikan e-commerce dan memboyong Bukalapak ke fase yang sekarang tidaklah mudah.

Dia bahkan sempat menyebut, untuk membangun suatu usaha, terutama startup, seseorang harus memiliki mental kecoak. Mental kecoak yang dimaksud adalah mental di mana harus berani memperjuangkan sesuatu dengan kondisi seadanya. ''Bedanya, di sini harus memiliki keinginan untuk survive layaknya kecoak yang jika dibunuh tetap meronta-ronta bergerak. Paradigma orang soal membangun usaha harus diubah. Saya ingat, saat membangun Bukalapak itu berdarah-darah. Kita semua harus punya mental fighter (petarung), nah mental kecoak juga berlaku. Kita bisa seperti saat ini, karena melalui proses yang panjang,'' kata Zaky.

Zaky sempat tak percaya diri ketika ingin mendirikan e-commerce. ''Jujur saya memang resah saat mau mendirikan Bukalapak. Orang-orang kira saya bakal gelar lapak di pinggir pasar. Saya sih, enggan bilang ke keluarga, apalagi orangtua saya itu guru. Nah, saya di situ coba untuk lawan, makin percaya diri. Tidak apa-apa gagal, yang penting prosesnya,'' katanya.

Dia bertekad ingin memajukan UKM Indonesia. Berbagai inovasipun dilakukan salah satunya menggelar Puncak Badai Uang Bukalapak, beberapa hari lalu. ''Acara ini kami dedikasikan untuk para UKM di seluruh Indonesia. Melalui program Badai Uang Bukalapak ini, para UKM di seluruh Indonesia berkesempatan untuk meningkatkan penjualannya dan dengan kualitas produk yang kompetitif. Mudah-mudahan semakin banyak para UKM yang berkembang pesat,'' harapnya.

Hingga kini, Bukalapak mencatat 50 juta pengguna aktif setiap bulannya dan menghubungkan lebih dari 3 juta pelapak dengan para pengguna Bukalapak di seluruh Indonesia.

Mendirikan Go-Jek pada 2010 silam, Nadiem Makarim tak pernah mengira bahwa industri transportasi yang ia bangun mampu sebesar saat ini. Lulusan Harvard tersebut mengaku ingin menciptakan transportasi ojek yang lebih efisien dan juga efektif. Dia juga berharap ojek dapat berlaku sebagai profesional bisnis kedepanya. ''Saya rasa banyak orang-orang yang dulu tidak percaya bahwa ojek bisa se-profesional sekarang dan juga terpercaya saat ini,'' tutur Nadiem. 

Bermula dengan 20 mitra pengemudi (driver), kini gojek menjelma dengan menciptakan lapangan pekerjaan bagi jutaan orang di Indonesia. Bahkan, Gojek telah mengumumkan ekspansi layanannya di Vietnam dan Thailand. Namun di dua negara tersebut, layanan Gojek menggunakan nama lain, yakni Go-Viet di Vietnam dan Get di Thailand. 

Nadiem berujar, jika pendiri startup unicorn lain mengatakan kunci sukses adalah tim hebat, maka dia berpikir lain. ''Yang tidak pernah diomongin itu faktor keberuntungan, just luck,'' akunya.

Nadiem mengungkapkan, bagi yang ingin menjadi founder startup, Nadiem berpesan harus cukup 'gila' untuk menerima tantangan. Tantangan itu, dengan melihat banyaknya startup-startup lain yang sudah bermunculan. Menurutnya, pendiri startup harus menerima kenyataan 90 persen dari total startup bakal collaps. ''Sebagai founder kita harus bisa nerima peluang 1/10 persen keberhasilan,'' kata pria berkacamata itu.

Berbagai upaya terus dia lakukan untuk kesejahteraan mitra pengemudinya, beberapa hari lalu, pihaknya menggandeng Promogo. Melalui kerja sama ini, mitra pengemudi bisa mendapatkan penghasilan tambahan hingga Rp 2 juta. Caranya dengan memanfaatkan kendaraannya sebagai media promosi. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #feature 

Berita Terkait

Ketika Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan

Nasional

Bayi Satu Mata Lahir di Mandailing Natal

Nusantara

Bayi Satu Mata Lahir di Mandailing Natal

Nusantara

IKLAN