Selasa, 25 September 2018 06:27 WIB
pmk

Jakarta Raya

Festival Condet Lestarikan Budaya Setempat

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Festival Condet bakal digelar di sepanjang Jalan Raya Condet, pada Sabtu-Minggu (28-29) Juli, dimulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Puluhan sanggar tari hingga pawai obor bakal ditampilkan, sehingga diperkirakan penyelenggaran festival tahunan ini akan ramai dikunjungi oleh warga Jakarta. Untuk menghindari terjadinya kemacetan, sejumlah rekayasa atau pengalihan arus lalu lintas sudah dipersiapkan oleh pihak kepolisian.

Berikut adalah rute pengalihan arus lalu lintas saat Festival Condet, yakni dari arah PGC menuju Condet, arus lalu lintas akan dialihkan ke Simpang Budaya-ke kiri ke Perempatan Budaya-Jalan Batu Ampar 3-Pertigaan Kelurahan Batu Ampar-belok kanan ke Jalan Batu Ampar 2-pertigaan lalu ambil kiri masuk jalan raya Condet.

Atau dari Jalan Batu Ampar 3 lurus menuju Kampung Tengah hingga lampu merah Caglak dan masuk TB Simatupang.

Dari arah PGC menuju Rindam, melalui Kalibata, belok kiri sebelum perlintasan kereta menuju Jalan Rawa Jati Timur hingga Jalan Raya Pasar Minggu.

Sedangkan dari PGC menuju Rindam bisa ditempuh melalui Jalan Raya Bogor-lampu merah Hek-lampu merah Pasar Rebo, belok kiri ke Jalan TB Simatupang-lampu merah Rindam, dan masuk ke Condet.

Jika melalui Rindam menuju PGC melalui Jalan Raya Condet-Perempatan Gardu, belok kanan masuk ke Batu Ampar 2-pertigaan Batu Ampar, belok kiri ke Batu Ampar 3-Perempatan Budaya, belok kanan menuju Jalan Batu Ampar 1-Pertigaan Ayama, belok kiri ke Jalan Raya Bogor-Pasar Kramat Jati-lampu merah PGC.

Dari TB Simaptupang menuju lampu merah Caglak-lampu merah Pasar Rebo, belok kiri masuk ke Jalan Raya Bogor-Pasar Induk Kramat Jati- lampu merah Hek-lampu merah PGC.

Rindam menuju PGC, lurus hingga pertigaan Batu Ampar-masuk ke Jalan H Tabri-Jalan Batu Ampar 2, belok kanan menuju Kampung Tengah-Puskesmas Batu Ampar, belok kiri masuk ke Jalan Albariyah hingga Jalan Raya Bogor, belok kiri menuju lampu merah Hek-Pasar Kramat Jati-lampu merah PGC.

Sementara itu, mengomentari penyelenggaraan festival Condet, Pengamat Perkotaan dari Universitas Trisakti Nirwono Jugo menegaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI harus lebih fokus pada program pelestarian budaya secara berkelanjutan. Khususnya kebudayaan tradisional Condet. Pasalnya, sejumlah ikon Condet kini menghilang, seperti: dukuh Condet, Salak Condet hingga dodol Condet.

“ Pelestraian kawasan Condet tidak hanya seremonial dengan penyelenggaraan festival Condet, tapi harus berkelanjutan,” ujar Nirwono Jogo kepada INDOPOS, Jumat (27/7).

Nirwono menyebutkan, upaya pelestarian kawasan Condet dengan melibatkan warga, perguruan tinggi dan petani buah. Penanaman tanaman ikon Condet, menurutnya bisa dilakukan di bantaran Kali Ciliwung. “ Bisa saja kawasan Condet dijadikan laboratorium kehidupan masyarakat Betawi asli,” terangnya.

Sementara, pelestarian kebudayaan tradisional Condet, masih ujar Nirwono dengan merangkul sanggar budaya, sekolah-sekolah hingga para pegiat seni. “ Harus ada upaya regenerasi, agar generasi muda mengenal dan cinta dengan budaya Betawi. Caranya ajak sekolah di kawasan Condet untuk belajar kebudayaan tradisional asal Condet,” ungkapnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan, festival Condet potensial menciptakan ekonomi kreatif. Berbagai festival seni dan budaya dapat menumbuhkan ekonomi dan lapangan pekerjaan.

“Ada 20 situs sejarah di Condet. Ini punya potensi mengangkat kearifan lokal wilayah sungai Ciliwung khususnya Condet,” ungkapnya.

Sandiaga menyebutkan, salah satu kuliner betawi yang sangat banyak diminati adalah dodol Condet dan salak Condet, serta dukuh Condet. Dari potensi yang ada, menurutnya Pemprov DKI akan mendorong kegiatan ekonomi.

“Dari festival Condet, kami ingin masyarakat lebih menggiatkan ekonomi dan lapangan kerja,” ucapnya. (nas)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #festival-condet #kesenian-betawi 

Berita Terkait

Kesenian Betawi Butuh Perhatian

Jakarta Raya

IKLAN