Senin, 19 November 2018 06:14 WIB
pmk

Total Sport

Jelang Kejuaraan Dunia, Konsentrasi Pebulutangkis Jangan Terpecah

Redaktur:

Gregoria Mariska.

INDOPOS.CO.ID – Pebulutangkis Indonesia diharapkan menjaga fisik selama tampil di Kejuaraan Dunia BWF 2018 Nanjing, 30 Juli-5 Agustus. Kondisi badan perlu diatur agar tidak terkena cedera menjelang Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.

Tantangan besar dihadapi delapan dari 16 wakil Indonesia  yang bertolak ke Negeri Tirai Bambu. Mereka diminta tampil maksimal pada Kejuaraan Dunia dan Asian Games, dua event yang menjadi milestone Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI).

"Jangan berpikir negatif. Terpenting persiapannya, sebagai atlet elite mereka sudah tahu bagaimana mengatur ritme jelang pertandingan. Jika mendapat cedera, artinya pemanasan mereka tidak maksimal," kata Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susi Susanti di Jakarta, kemarin.

Di samping kesadaran atlet, kata Susi, PP PBSI juga mempersiapkan tim medis khusus sebagai antisipasi jika ada hal-hal tidak diinginkan. Menurutnya, do

kter pelatnas dan fisioterapis juga akan berangkat mendampingi para pebulu tangkis Indonesia ke Nanjing.

Beban PP PBSI memang sulit. Mereka tidak bisa mengabaikan Kejuaraan Dunia, single event tahunan olahraga tepok bulu paling prestisius di dunia, dan Asian Games 2018. Apalagi, multievent terakbar empat tahunan kawasan Asia ini bermain di rumah sendiri. Tantangan terbilang pelik, karena Asian Games hanya berselang dua minggu dari Kejuaraan Dunia.

Menanggapi hal itu, perempuan yang pernah merebut medali emas Olimpiade 1992 Barcelona itu menilai PP PBSI sudah berupaya mengatur jalan terbaik. Ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Ricky Karanda Suwardi/Debby Susanto tidak diturunkan di Kejuaraan Dunia.

"Kami sebenarnya memecah kekuatan juga. Tontowi/Liliyana sudah senior dan penampilan mereka perlu diatur untuk mencapai peak performance. Berbeda dengan sektor lain, di mana semua pemain masih muda," ujarnya.

Tampil di Kejuaraan Dunia, PP PBSI tidak ingin sekadar menguji peta kekuatan Indonesia di kancah tepok bulu internasional. Lebih dari itu, federasi olahraga pimpinan Wiranto ini berharap menjaga tradisi medali emas yang belum terputus pada dua penyelenggaraan terakhir. Tahun lalu, Tontowi/Liliyana yang menyabet gelar juara dunia.

Sementara itu,  tak hanya mengirim pemain andalan yang kini duduk di peringkat satu dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, PBSI juga memberikan kesempatan kepada para pemain muda seperti pasangan ganda putri junior, Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti.

 Agatha/Fadia tahun ini masing-masing berusia 18 tahun. Keduanya masih bertanding di Asia Junior Championships dan World Junior Championships 2018.

"Proses regenerasi itu harus terjadi, menurut kami ini suatu hal yang positif. Kami melihat prospek dan potensi dari si atlet. Kami menilai hasil di Indonesia Open kemarin, dimana Agatha/Fadia bisa memberikan perlawanan dari pasangan terkuat dunia, ini menjadi pertimbangan bahwa mereka sudah waktunya merasakan turnamen di level yang lebih tinggi," kata Achmad Budiharto, Sekretaris Jenderal PP PBSI.

Di babak pertama Blibli Indonesia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 1000, Agatha/Fadia mencuri satu game dari Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang), dengan skor akhir 21-17, 12-21, 11-21.

Hal yang sama diberlakukan kepada Gregoria Mariska Tunjung, pemain tunggal putri yang tahun lalu baru saja menjuarai gelar World Junior Championships 2017. Grafik penampilan Gregoria dinilai mengalami peningkatan sehingga ia dinilai layak untuk tampil di Kejuaraan Dunia 2018 bahkan di Asian Games 2018.

"Setelah dia menjuarai WJC, kami melihat Gregoria memang punya potensi. Segera kami fasilitasi untuk ikut turnamen yang lebih berat. Jujur saja kami memang tidak terlalu memberikan beban kepada dia di kejuaraan dunia, untuk harus menang, yang penting Gregoria berjuang dan bisa merasakan atmosfer di level yang lebih tinggi. Itu yang harus dia dapatkan pembelajarannya," jelas Budiharto.

 Dilanjutkan Budiharto, proses pembelajaran dan menimba pengalaman menjadi objektif utama keikutsertaan para pemain-pemain muda di Kejuaraan Dunia 2018.

"Jadi tidak boleh terlalu memaksakan dan memposisikan seolah-olah ini adalah kejuaraan yang jadi beban mereka. Tidak perlu ditakut-takuti, ini kejuaraan dunia lho, karena kondisi non teknis itu sangat berperan sebelum masuk ke lapangan," kata Budiharto. (bam)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kejuaraan-dunia-bulutangkis #bulutangkis 

Berita Terkait

Bidik Satu Gelar Juara dari Nomor Apa Saja

Total Sport

The Minions Tetap Perkasa

Total Sport

Hadapi 6 Laga Internasional, PABBSI Butuh Dana 6 M

Total Sport

Anthony Siap Revans

Total Sport

IKLAN