Sabtu, 22 September 2018 02:33 WIB
pmk

Fokus

Gempa Lombok, 16 Orang Meninggal-266 Pendaki Terjebak 

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Nusa Tenggara Barat (NTB) berduka. Gempa bumi berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR) memporak-porandakan sebagian Lombok dan Pulau Sumbawa, Minggu (29/7) pagi. Sebanyak 16 orang meninggal dunia, 162 lainnya luka-luka dan ribuan rumah warga rusak. Gubernur NTB pun menetapkan status tanggap darurat selama lima hari.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Muhammad Rum menjelaskan, selama tanggap darurat, semua proses evakuasi dan pengiriman bantuan logistik akan dilakukan. Tim BPBD akan membantu korban bersama tim dari kepolisian, TNI, Dinas Sosial, pemerintah kapaten dan lainnya.

Tiga truk BPBD berisi logistik bantuan dikirim ke lokasi bencana di Lombok Timur. Semua peralatan bencana, seperti dapur umum, tenda pengungsian, makanan siap saji, pakaian anak-anak, selimut dan sebagainya diangkut ke lokasi bencana.

Bila tanggap darurat lima hari belum cukup, bisa diperpanjang lagi sesuai kondisi di lapangan. Setelah itu, baru masuk masa transisi menuju pemulihan. ”Sampai benar-benar normal,” kata Kepala Bidang Kedaruatan dan Logistik BPBD NTB Agung Pramuja.

Rum menyebutkan, jumlah korban yang meninggal sebanyak 16 orang, empat orang diantaranya merupakan warga Lombok Utara. Sementara 10 lainnya warga Lombok Timur. Sedangkan satu korban lagi, Isma, 30 tahun, mahasiswa, warga negara Malaysia yang sedang melancong di Sembalun.

Secara keseluruhan dampak gempa di Lombok Utara empat orang meninggal,  5 orang luka berat, dan 41 orang luka ringan, sehingga total korban 50 orang. Di samping itu, juga terjadi kerusakan materil berupa rumah rusak berat 41 unit, 74 unit rusak sedang, rusak ringan 255 unit. Masjid rusak 4 unit, musalla 4 unit, sekolah 2 unit, dan Pura 3 unit.

Kerusakan materil juga banyak menimpa warga di Lombok Timur. Seperti di Desa Dara Kunci dan Desa Sagian Kecamatan Sembelia 114 rumah rusak ringan sedang dan rusak berat. Kemudian di Desa Obel-obel 144 rusak berat, dan 110 rusak ringan. Di Desa Belanting 170 unit rusak berat, dan 95 unit rusak ringan. Sementara di Kecamatan Sembalun, rumah rusak berat 25 unit, dan 100 unit rusak ringan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menerangkan, dampak terparah terjadi di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara. Tapi selain itu, laporan kerusakan rumah juga terjadi di Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Sumbawa Barat, dan Kota Mataram.

Secara umum, infrastruktur seperti komunikasi, jalan, listrik dan lainnya masih baik. Kementerian Komunikasi dan Informatika memastikan layanan telekomunikasi di kawasan terdampak seperti Kecamatan Sambelia, Kecamatan Sembalun dan Kecamatan Bayan masih aman.

Operator Telkomsel dan XL Axiata melaporkan layanan komunikasi seluler tetap dapat digunakan. Sementara jaringan Indosat dan H3I tidak dapat digunakan akibat padamnya aliran listrik. Akibat gempa, PLN perlu melakukan perbaikan jaringan.

Hingga Minggu (29/7) pukul 15.00 Wita, gempa masih terus terjadi. Badan Meteorologi, Klimatalogi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadi 133 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar 5,7 SR. Karena itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta masyarakat waspada terhadap ancaman gempa susulan meskipun dengan intensitas dan magnitude yang kecil.

”Kami meminta masyarakat tetap waspada namun tetap tenang dan jangan panik,” imbuh Dwikorita, Minggu (29/7).

Gempa bumi tektonik mengguncang Lombok, Bali dan Sumbawa pada Minggu pagi  dengan kekuatan 6,4 SR. Gempa yang terjadi pukul 06.47 Wita tersebut terletak pada koordinat 8,4 LS dan 116,5 BT. Tepatnya berlokasi di darat pada jarak 47 km arah timur laut Kota Mataram, pada kedalaman 24 km.

Dwikorita meminta masyarakat tidak mempercayai berita hoax pasca gempa. Hingga saat ini BMKG terus memantau perkembangan gempa dari Pusat Gempa Nasional (PGN) Jakarta. Guna mengantisipasi munculnya informasi simpang siur, BMKG melalui akun twitter akan terus menginformasikan perkembangan gempa.

Lebih lanjut, Dwikorita menerangkan, hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi yang terjadi di Lombok merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust). Gempa bumi dipicu deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Guncangan gempa dirasakan di daerah Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Timur, Mataram, Lombok Tengah, Sumbawa Barat dan Sumbawa Besar pada skala intensitas II SIG-BMKG (IV MMI). Denpasar, Kuta, Nusa Dua, Karangasem, Singaraja dan Gianyar II SIG-BMKG (III-IV MMI). Sementara di Bima dan Tuban II SIG-BMKG (III MMI), Singaraja pada skala II SIG-BMKG atau III MMI dan Mataram pada skala II SIG-BMKG atau III MMI.

Dengan masih adanya gempa-gempa susulan, masyarakat dihimbau tidak menempati bangunan-bangunan yang kondisinya sudah rusak akibat gempa utama. ”Gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," imbuh Dwikorita.

Pendaki Terjebak di Gunung Rinjani

Sementara dari kaki Gunung Rinjani dilaporkan, Gempa berkekuatan 6,4 SR ini membuat ratusanpendaki terjebak di Gunung Rinjani. Satu orang pendaki dinyatakan meninggal dunia. Dia adalah Muhammad Ainul Taksim, 25 tahun asal Makassar. 

Humas Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Mataram I Gusti Lanang Wiswananda menjelaskan, lokasi kejadian ada di jembatan kedua Pelawangan menuju Danau Segara Anak. Sebelum meninggal korban panik saat gempa terjadi. Korban dan teman-temanya berlarian, ketika gempa sudah mereda, korban ditemukan sudah meninggal. ”Ada perdarahan di kepala,” terang Gusti Lanang.

Gusti Lanang menjelaskan, setelah menggelar rapat koordinasi antara BPBD, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), dan Basarnas di posko Kecamatan Bayan, dipastikan pendakian sudah klir dari pelawangan Senaru sampai jebak gawah. Total pengunjung 820 orang sejak tanggal 27 Juli. Tapi 125 orang pendaki sudah turun. ”Jalur Senaru tertutup,” katanya.

Sementara di Jalur Sembalun, tercatat 362 orang turun dari Sembalun, termasuk wisatawan asing maupun wisatawan nusantara, termasuk para porter. Tapi update hingga pukul 16:40 Wita, pendaki yang sudah turun lewat Sembalun 429 orang. Sehingga tersisa 266 orang dari keseluruhan 820 pendaki. ”Jalur Sembalun disarankan jadi alternatif evakuasi,” jelasnya.

Hal itu dibenarkan Saharudin, salah seorang petugas TNGR. Para pendaki saat itu berada di posisi antara Danau Segare Anak dan Pelawangan Sembalun. Jumlah mereka 266 orang pendaki termasuk korban yang meninggal dunia.

”Jalur turun tertutup karena longsor. Demikian juga dengan jalur puncak terdapat longsoran,” terangnya.

Sementara Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho merilis, berdasarkan data Balai TNGR jumlah pendaki ke Gunung Rinjani tercatat 820 jiwa, baik wisatawan asing dan nusantara. Laporan dari TNGR Resor Senaru  sebanyak 115 orag wisatawan asing sudah turun di Senaru, Kabupaten Lombok Utara. Proses evakuasi pendaki masih dilakukan petugas TNGR, Kantor SAR Mataram, Brimob Polri NTB dan relawan.

Terpisah, Kepala Balai TNGR Sudiyono mebenarkan, evakuasi pendaki akan dilakukan pagi ini. Balai TNGR bersama pemerintah daerah, Basarnas, Polres setempat sudah membentuk tim evakuasi. Tapi pencarian tidak mungkin dilakukan kemarin karena terkendala gempa susulan yang terus terjadi. Selain itu jalur pendakian juga terkena longsoran.

”Evakuasi hanya bisa dilakukan lewat Sembalun karena pintu lain terkena longsor,” ujarnya.

Kendala lain yang dihadapi, banyak guide porter yang keluarganya menjadi korban sehingga tidak bisa ikut melakukan evakuasi. Sehingga evakuasi tidak bisa langsung dilakukan.  

Dengan situasi saat ini, Ia memastikan pendakian ke Rinjani ditutup sementara, sampai kondisi kembali normal. Jika sudah dianggap layak, Balai TNGR akan membuka pendakian kembali. (ili/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #gempa-di-ntb-dan-bali #gempa-bumi #gempa-lombok 

Berita Terkait

IKLAN