Rabu, 19 September 2018 04:16 WIB
pmk

Megapolitan

Lima Proyek TOD Sudah Berjalan

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Dampak pembangunan transportasi masal light rail transit atau LRT oleh pemerintah pusat, membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi membangun fasilitas pendukung. Salah satunya, proyek Transit Oriented Development (TOD) yang bakal dibangun di empat titik di kota tersebut.

Kabid Penataan Ruang pada Dinas Tata Ruang (DTR) Kota Bekasi, Dzikron mengatakan lokasi empat titik yang bakal dibangun TOD diantaranya Jatibening Baru, Cikunir I, Cikunir II dan Bekasi Barat.”Proyek itu bekerjasama dengan pengembang atau pemilik modal dan tengah berjalan,” terangnya.

Dia juga mengatakan, ada lagi satu TOD di Bekasi Timur tapi pembangunannya dilakukan oleh PT Adhi Karya selaku BUMN konstruksi. ”TOD itu dibangun di tiap-tiap stasiun LRT yang ada di Kota Bekasi," terangnya juga.

Dia juga mengatakan, pembangunan TOD sangat dibutuhkan guna menunjang warga dalam memperoleh kemudahan dalam transportasi umum. Menurut Dzikron juga, di lokasi TOD selain untuk naik dan turun penumpang juga bakal disediakan gedung parkir dan pusat perbelanjaan.

Bahkan, kebanyakan TOD juga dibangun hunian vertikal berupa apartemen. ”TOD bukan hanya untuk LRT tapi berbagai transportasi masal,” paparnya.

Dengan kata lain, ujarnya juga, TOD merupakan pengembangan kota yang mengadopsi tata ruang campuran karena terdapat berbagai macam fasilitas di dalamnya yang terintegrasi dengan transportasi umum seperti LRT, kereta commuter line dan bus.

”Bila ditotal investasinya cukup besar, namun sebagai gambaran satu apartemen saja biayanya bisa Rp 1 triliun. Belum pembangunan gedung park and ride, pusat perbelanjaan dan hunian," katanya lagi.

Dzikron mencatat, konstruksi di dua lokasi proyek pembangunan TOD sudah mulai dilakukan seperti di Jatibening dan Cikunir I. Sementara pengembang di lokasi proyek Cikunir II tengah menyelesaikan site plan atau perencanaan pembangunan dan segera dibangun.

”Sedangkan pembangunan di Bekasi Barat baru akan dimulai, sudah terlihat alat berat masuk ke dalam lokasi proyek,” cetusnya juga. Dia juga menambahkan, empat proyek TOD sudah mengantongi izin yang dikeluarkan pemerintah daerah.

Izin tersebut seperti Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) proyek, Amdal lalu lintas, izin prinsip dan berbagai izin lainnya.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PKK) LRT pada Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Jumardi mengatakan, jika ditotal kebutuhan lahan untuk pembangunan LRT di wilayah Bekasi mencapai 60 hektare. Kebutuhan lahan yang paling luas berada di wilayah Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Di sana, kata dia juga, dibutuhkan lahan seluas 11 hektare untuk membangun depo LRT atau tempat garasi kereta. Enam hektare di antaranya lahan milik PT Adhi Karya, sedangkan lima hektare lagi milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Berdasarkan data yang diterima INDOPOS,  ada dua tahap pembangunan LRT dengan total panjang lintasan mencapai 81,6 kilometer (km). Untuk tahap satu dari Cawang sampai Bekasi Timur sedang dikerjakan. Sedangkan tahap kedua dengan lintasan Dukuh Atas - Palmerah – Senayan dan Cibubur - Bogor dan Palmerah - Grogol akan dimulai 2020 mendatang.

Dia mencatat, progres fisik pengerjaan pembangunan LRT sampai saat ini mencapai 41,102 persen. Rinciannya, lintas pelayanan I Cawang-Cibubur mencapai 61,625 persen, lintas pelayanan II Cawang-Dukuh Atas mencapai 26,395 persen dan lintas pelayanan III Cawang-Bekasi Timur mencapai 48,528 persen.

Adapun nilai investasi dari pembangunan LRT sekitar Rp 30 triliun. Dana itu bukan diperoleh dari APBN saja, tapi dari pinjaman yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai operator. Dari nilai itu, pemerintah menyuntikan dana penyertaan modal negara (PMN) Rp 7,6 triliun, dan sisanya dicarikan dari pinjaman lembaga lain.

Sementara itu, Ketua Dewan Transportasi Kota Bekasi, Harun Alrasyid mengatakan, adanya pembangunan TOD bisa memudahkan masyarakat untuk memperoleh akses moda transportasi publik. "Masyarakat berhak mendapat alternatif dalam penggunaan moda transportasi. Tidak hanya terminal saja," ujarnya.

Harun berharap adanya fasilitas pendukung seperti bus feeder, akses pejalan kaki, dan sepeda yang menuju TOD. Tujuannya masyarakat bisa terjamin mendapatkan transportasi masal yang murah dan baik. "Kalau jaminan transportasi masal baik pasti warga mau beralih dari angkutan pribadi ke angkutan umum," tandasnya. (dny)

Proyek LRT Jabodetabek


- Trase LRT sesuai Perpres No 98 tahun 2015
- Panjang trase mencapai 81,6 km
 
- Tahap I (43,1 km)
1. Cawang-Cibubur 14,3 km
2. Cawang-Kuningan-Dukuh Atas 10,5 km
3. Cawang-Bekasi Timur 18,3 km
 
- Tahap II (38,5 km)
1. Dukuh Atas-Palmerah-Senayan 7,8 km
2. Cibubur-Bogor 25 km
3. Palmerah-Grogol 5,7 km
 
Lintas Pelayanan
- Cawang-Cibubur 14,3 km terdapat 4 stasiun
- Cawang-Kuningan-Dukuh Atas 10,5 km terdapat 8 stasiun
- Cawang-Bekasi Timur 18,3 km terdapat 6 stasiun

 

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #lrt 

Berita Terkait

MRT Diingatkan Tidak Molor Seperti LRT

Jakarta Raya

Dua Hari Jelang Berakhir, Ini Catatan Ujicoba LRT

Jakarta Raya

Ingin Naik Ujicoba LRT, Warga Jakarta Rela Antre

Jakarta Raya

Wali Kota Bogor Tolak LRT Masuk Terminal Baranangsiang

Megapolitan

LRT Berbayar Mulai 3 September

Nusantara

LRT Gagal, DPRD Diminta Tak Diam

Jakarta Raya

IKLAN