Rabu, 19 September 2018 08:39 WIB
pmk

Kesehatan

Awas, Bisa Kena Jantung di Usia Muda

Redaktur:

PADAT-Masyarakat perkotaan rentan terkena penyakit jantung. Tingginya tingkat stres karena pekerjaan dan kemacetan menjadi salah satu pemicunya. Foto: DOK/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Penyakit jantung menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Belakangan, pasien penyakit jantung tidak lagi didominasi orang tua. Bahkan, usia penderita penyakit ini kian hari semakin muda.

Merujuk pada SRS (Sample Registration System) Survey 2014 dan Riskesdas 2013, sebanyak 22 persen dari pasien masih berusia antara 15-35 tahun. Hal itu, mematahkan anggapan bahwa penyakit jantung hanya milik kelompok berusia diatas 40 tahun saja. Atau wanita yang sudah menginjak masa menopause. 

Jika pada 10 tahun lalu kematian akibat penyakit jantung pada usia muda adalah dikarenakan aritmia (gangguan irama jantung), saat ini trennya berubah. Penyempitan koroner menjadi penyebabnya. 

Di Amerika Serikat saja, sekira 600 ribu orang meninggal akibat penyakit ini setiap tahunnya. Itu berarti 1 dari setiap 4 kematian yang ada. 

Penyakit jantung koroner, menghabiskan biaya hingga USD 108,9 miliar setiap tahun. Jadi, kenapa saat ini penyakit ini menyerang anak muda, bagaimana serangan jantung itu terjadi dan apa penyebabnya? 

Dr Johan Winata, Sp.JP (K), FIHA Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi dari RSPI Pondok Puri Indah dalam acara diskusi media yang diadakan RSPI Group menjelaskan, jantung memiliki beberapa jenis pembuluh. Diantaranya yang paling penting adalah arteri koroner. 

''Pada arteri ini terdapat sirkulasi darah kaya oksigen ke semua organ dalam tubuh, termasuk jantung. Bila arteri ini tersumbat atau menyempit, aliran darah ke jantung bisa turun secara signifikan atau berhenti sama sekali. Hal ini bisa menyebabkan serangan jantung,'' katanya.

Ada tiga faktor risiko utama seseorang terkena serangan jantung, yaitu, riwayat keluarga, diabetes, dan kebiasaan merokok. ''Ketiganya dapat meningkatkan peluang serangan jantung karena mempercepat perlemakan darah yang menyumbat pembuluh darah,'' terangnya. 

Hipertensi dan kolesterol, sambungnya, juga menjadi faktor risiko lainnya termasuk gaya hidup. Gaya hidup yang dimaksud disini adalah minim aktivitas fisik. 

Tubuh yang kurang bergerak, ditambah dengan pola makan yang buruk dapat memicu timbulnya kolesterol tinggi. Kadar kolesterol tinggi terutama bila angka LDL di atas 180 dapat berdampak pada aritmia atau gangguan irama detak jantung sehingga menjadi sangat cepat.

Aritmia juga merupakan penyebab nomor satu terjadinya serangan jantung. Maka dari itu, penting untuk mengontrol irama detak jantung dengan cara berolahraga. 

''Minimal itu seribu kalori perminggu yang dibakar saat olahraga. Pilihan olahraganya juga kalau bisa yang mencapai target irama detak jantung,'' saran dr Johan. 

Disamping membakar lemak, olahraga juga dapat mengontrol tingkat stres. Masalah stres ini jangan dipandang sebelah mata. 

Sebab stres dapat memicu tekanan darah tinggi yang pada akhirnya menyebabkan serangan jantung. Selain berolahraga, perlu juga konsumsi makanan yang baik, seperti yang mengandung omega-3 dan omega-6 untuk menurunkan angka kolesterol jahat (LDL) di tubuh. 

Penderita gangguan ginjal menurutnya perlu lebih mawas diri. Nyatanya, pada beberapa pasien penyakit ginjal, risiko penyakit jantung lebih tinggi. 

Dia menambahkan, sakit ginjal disebabkan karena gula darah dan tekanan darah tinggi. Jadi sebelum sakit ginjal sudah ada faktor risiko (serangan jantung).

Ditambahkan, dr Marsel Luntungan Sp, Jp, risiko penyakit jantung juga lebih tinggi terjadi kepada pasien yang memiliki riwayat dari keluarga pengidap sakit jantung, perokok, hipertensi dan diabetes. Berkaca dari hasil penelitian, diketahui bahwa sebanyak 50 persen penderita jantung mewarisi dari keluarga. 

''Apabila ada salah satu keluarga yang mengidap sakit jantung, sebaiknya sejak dini menjaga pola hidup sehat dan mengurangi konsumsi makanan atau kebiasaan buruk yang berisiko terhadap kinerja organ jantung,'' imbaunya. Maka itu, menerapkan gaya hidup sehat sudah tidak dapat ditawar lagi. 

Gaya hidup sehat termasuk pola makan bergizi seimbang dan olahraga secara rutin. Dengan cara ini dapat membantu mengontrol tekanan darah, kadar gula, dan jumlah kolesterol di tubuh. 

''Dengan begitu, risiko komplikasi termasuk serangan jantung dapat diminimalisir,'' tutupnya. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan #risiko-jantung 

Berita Terkait

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

Mengetahui Manfaat Daun Kelor

Kesehatan

Krisis Obat Ancam Keselamatan Pasien

Jakarta Raya

Jauhi 5 Makanan yang Membuat Kulit Rusak dan Berjerawat

Kesehatan

Awas, Gula Berlebih Merusak Gigi

IKLAN