Rabu, 21 November 2018 03:12 WIB
pmk

Jakarta Raya

Kurang IPAL, Kali Jakarta Tercemar

Redaktur:

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID - Miskinnya kesadaran pengusaha membuat Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) berimbas pada pencemaran kali. Kini banyak kali yang tercemar karena buruknya penanganan limbah di Jakarta, Senin (30/7) siang kemarin.

Disisi lain Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games semestinya bebas dari limbah kali. Sebab limbah yang bertebaran, tak hanya membuat kali tak enak dipandang, melainkan bau tak sedap yang muncul di sejumlah titik. 

PD PAL Jaya mencatat sedikitnya hanya satu zona di Jakarta yang terbangun Infrastruktur IPAL. Kondisi ini tak cukup menampung aliran air ke sembilan kali.

Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH), Ali Maulana tak menampik dengan kondisi kali tercemar. Bahkan di akuinya dari sekian banyak limbah yang ada, banyak bersumber dari limbah domestik. Sebab, beberapa pemukiman tidak memiliki septictank atau IPAL komunal. 

“Kebanyakan dari limbah domestik. Karena saluran air hujan dan limbah di Jakarta jadi satu semuanya larinya ke kali. Warga juga tidak punya septictank dan IPAL jadi dibuang ke saluran perkotaan limbah bersatu semua,” kata Ali, pada wartawan, Senin (30/7). 

Mantan Camat Cengkareng itu mengatakan, kondisi muara cukup buruk. Sebab 13 sungai besar semuanya tertuju ke sembilan muara. Terlebih, limbah domestik Jakarta bisa juga disebabkan sudah tercemarnya air bawaan dari hulu. Kondisi ini membuat pencemaran di kali Jakarta kian parah. Kali menjadi hitam dan berbau.

Ali menolak, bau dan hitamnya kali karena sampah. Menurutnya, dibanding beberapa tahun lalu, kali Jakarta jauh lebih bersih. Sebab setiap hari petugas prasarana dan sarana umum (PPSU) Dinas LH yang tersebar di kelurahan-kelurahan bertugas menjaring sampah di badan air. 

Pantauan di lokasi, sungai yang tercemar sampah kebanyakan terjadi di sekitaran pasar, seperti Pasar Kemayoran, Jalan Kemayoran Gempol, Kemayoran, Jakarta Pusat. Sampah-sampah plastik tampak menumpuk di pinggir badan air. Bau tak sedap tercium dari sungai yang tidak mengalir itu.

Tahun ini, Dinas LH melakukan pemantauan kualitas air sungai di 90 titik sampel. Pemantauan dilakukan periode 21 Maret sampai 12 April lalu. Ada 20 sungai yang diambil samplenya, di antaranya Sungai Ciliwung, Sungai Sunter, Sungai Pesanggrahan dan Sungai Blencong. 

Penilitian itu menggunakan parameter kunci yang digunakan ialah Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxigen Demand (BOD), Methylene Blue Active Substance (MBAS) atau detergen, bakteri ecoli dan fenol sesuai PP No 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Dari hasil pemantauan, pemenuhan baku mutu BOD Sungai Sunter hanya 33,3 persen, untuk BOD terpenuhi 50 persen, 100 persen untuk MBAS, dan 50 persen untuk Fenol. Di Sungai Ciliwung, kadar  BOD seluruhnya tidak memenuhi baku mutu. Namun, dalam hal COD dipenuhi 68,8 persen, MBAS 75 persen dan Fenol 56,3 persen.

Ecoli tinja paling banyak di Sungai Cideng, Jakarta Pusat. Jumlah ecoli tinja di sungai itu lebih fantastis lagi. Dari tiga titik pantau di tempat itu, ditemukan sebanyak minimum 21 miliar- maksimum 3,6 triliun per 100 mili liter.  

Urutan kedua dialami Sungai Mampang, dari tiga titik pantau ditemukan minimum 2,9 miliar ecoli tinja sampai maksimum 290 miliar per 100 mili liter.

Sungai Cideng, Sungai Mampang, dan Sungai Mampang, berdasar data Dinas LH, tidak memenuhi seluruh parameter kunci baku mutu. 

“Sungai yang sebagian besar tidak memenuhi baku mutu di antaranya Sungai Angke, Sungai Mookevart, Sungai Petukangan, Sungai Cakung, Sungai Cideng, Sungai Mampang dan Sungai Kamal,” ucap Ali mengutip dari Laporan Dinas Lingkungan Hidup. (ibl)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kali-jakarta-tercemar #kali-item 

Berita Terkait

Optimistis Masalah Kali Item Beres

Jakarta Raya

Bau Kali Item Berkurang Setelah Ditebar Pengharum

Jakarta Raya

Pewangi Akan Disemprotkan ke Kali Item

Jakarta Raya

IKLAN