Selasa, 25 September 2018 04:38 WIB
pmk

Kesehatan

Kecanduan Gadget, Waspada Neuropati

Redaktur:

PENCERAHAN-Para dokter spesialis saraf dalam acara ”Kenali Gejala Neuropati dan Risiko Dampak Permanen pada Tubuh” di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (31/7). Foto: DEWI MARYANI/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Neuropati atau gangguan sistem saraf sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang para lansia. Padahal, fakta menunjukkan, risiko neuropati bisa terjadi pada siapa saja, tanpa memandang usia.

Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Pusat, Dr Manfaluthy Hakim, SpS(K) menyampaikan, sekarang, gejala neuropati sudah dirasakan oleh mereka yang berusia di bawah 30 tahun. ''Jadi sekarang memang usia kelompok 26-30 tahun banyak yang sudah terlihat gejala neuropati atau satu dari tiga orang di usia muda mempunyai gejala neuropati,'' ujarnya dalam acara ”Kenali Gejala Neuropati dan Risiko Dampak Permanen pada Tubuh” di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (31/7).

Pertanyaannya, mengapa neuropati kini justru banyak dirasakan anak muda? Menurutnya, hal itu dipicu beberapa faktor, terutama gaya hidup.
''Hal ini ditunjang oleh faktor gaya hidup dengan aktivitas keseharian yang terus-menerus dan berulang. Seperti beraktivitas menggunakan gadget dengan persentase mencapai 61,5 persen,'' urainya.

Faktor lainnya, lanjut dia, mengendarai motor atau mobil menyumbang 58 persen. Sementara duduk dengan posisi sama dalam waktu yang lama sekitar 53,7 persen dan mengetik dengan komputer menyumbang 52,8 persen.

Karena itu, tidak heran jika kecenderungan tingginya prevalensi neuropati banyak terjadi di kota besar atau lebih dari 50 persen. Jakarta sendiri menempati peringkat pertama dengan jumlah penderita neuropati terbanyak. Diikuti Surabaya, Palembang, dan Medan.

Manfaluthy menjelaskan, neuropati diawali dengan gejala kesemutan. ''Berlangsung setiap waktu sepanjang hari dan kadang lebih berat lagi,'' tukasnya.

Selain kesemutan dan kebas, gejala lain dari kelainan saraf tepi ini diantaranya, timbul rasa kram, rasa nyeri terbakar, dan otot-otot yang kaku di bagian-bagian rusaknya saraf tepi. ''Kulit kering dan mengkilat, bersisik, lalu mati rasa. Itu adalah gejala neuropati. Artinya, kalau mati rasa, sarafnya sudah hilang, tak ada hantaran lagi, sama seperti listrik,'' imbuhnya.

Saraf yang telah rusak 50 persen, sulit untuk diregenerasi. Hal ini, lanjut dia tentunya bisa berdampak pada menurunnya kualitas hidup seseorang.
Neuropati sendiri sebetulnya dapat dicegah dan diobati sebelum menjadi fatal. Tapi sayangnya, kebanyakan masyarakat tidak tahu bagaimana mencegahnya.

Lantas, bagaimana cara pencegahan neuropati? ''Untuk upaya pencegahan, jalani gaya hidup sehat, olahraga teratur, istirahat yang cukup, pola makan dengan gizi seimbang,'' sarannya.

Dia menekankan, mereka yang terkena diabetes sebaiknya juga melakukan pemeriksaan sarafnya. ''Penderita diabet juga harus periksa sarafnya. Krn 70 persen penderita diabet terkena neuropati,'' katanya.

Sementara itu, Medical Manager Merck Consumer Health dr Yoska menambahkan, dengan merujuk pada Asian Journal of Medical Sciences 2018, konsumsi vitamin neurotropik tidak hanya mencegah, namun juga bisa mengurangi gejala kerusakan saraf tepi. Kesemutan dan kebas bisa ditekan hingga 62,9 persen dalam 3 bulan periode konsumsi.

''Vitamin neurotropik terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 yang berfungsi memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf. Sekaligus memberikan asupan yang dibutuhkan supaya saraf dapat bekerja dengan baik,'' kata dr Yoska.

Dengan demikian, hal tersebut bisa mengurangi risiko terjadinya neuropati, khususnya pada anak muda. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Lawan Stigma dengan Lari Marathon

Lifestyle

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

IKLAN