Sabtu, 17 November 2018 02:41 WIB
pmk

Nusantara

Guru Salbilah Menangis Kenang Dua Muridnya yang Meninggal Karena Gempa

Redaktur: Ali Rahman

Salbilah dan Siti (berkerudung) saat berbincang dengan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah bersama dua anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) NTB Gede Syamsul Mujahidin dari Fraksi Hanura dan Muhammad Syafruddin dari Fraksi PAN menyalurkan bantuan DPR RI kepada masyarakat yang menjadi korban gempa Lombok Nusa Tenggara Barat, Rabu (1/8). Foto: Indra Bonaparte/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Air mata menetes di wajah Salbilah, 52, yang merupakan Kepala SD Negeri 3 Obel-Obel Lombok Timur.

Ia menangis tatkala mengingat dua muridnya yang meninggal dunia lantaran tertimpa tembok rumah saat gempa 6,4 SR mengguncang desa mereka pada Minggu (29/7) pagi itu.

"Aduh Pak, dua murid saya jadi korban gempa, anak kelas 1 dan kelas 3 yang meninggal. Mereka meninggal," ujarnya lirih di Desa Obel-Obel, Rabu (1/8).

Ia menuturkan, saat kejadian di Minggu pagi itu, dua anak didiknya, yaitu Firdaus, 6, dan Isnu, 12, sedang asyik menonton televisi. Goncangan keras selama 7 detik membuat tembok rumah dengan fondasi sederhana itu langsung roboh seketika.

"Saya kalau ingat kejadian itu benar-benar trauma. Apalagi kalau ingat dua murid saya itu," katanya.

Ia menambahkan, meskipun anggota keluarganya tidak menderita luka, namun rumahnya pun mengalami rusak berat.

Namun Salbiah berusaha tegar, dan tetap menyemangati murid-muridnya yang belajar di tenda-tenda bantuan pemerintah. Sementara bangunan sekolah mereka yang hancur belum tersentuh perbaikan dari pemerintah.

Hingga saat ini, sebanyak 80 murid dari kelas 1 sampai kelas 6 SDN 3 Obel-Obel masih belajar di tenda-tenda. "Sekarang kita belajar di tenda," ujar salah seorang guru Siti Musannadah.

Hingga Rabu, semua murid tanpa seragam di sekolah itu tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar meski di dalam tenda peleton yang terpasang di depan sekolah mereka. Sejumlah kegiatan untuk menghilangkan trauma akibat gempa digelar di sana.

"Murid saya tidak menggunakan seragam serta tidak memiliki alat tulis, karena seragam dan peralatan tulis mereka hancur tertimpa bangunan yang roboh," kata Siti.

Ia pun menegaskan, seragam dan alat tulis yang paling dibutuhkan saat ini. "Untuk belajar sementara bisa di tenda saja," imbuhnya.

Selain itu, ia berharap murid-muridnya mendapat bantuan atau pendampingan untuk pemulihan pasca-trauma. "Saya dengar di sekolah dusun sebelah sudah ada Kak Seto," lontar Siti merujuk pada pegiat perlindungan anak Seto Mulyadi.

Diketahui, gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter yang berpusat di kedalaman 24 km mengguncang Pulau Lombok yang getarannya terasa hingga ke Pulau Sumbawa dan Pulau Bali.

Gempa itu menyebabkan 17 orang meninggal dunia dan 300 orang terluka, serta menyebabkan ribuan bangunan rumah penduduk dan fasilitas publik rusak. (ind)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #fahri-hamzah #lombok-timur-ntb #operasi-penyelamatan-pendaki-gunung-rinjani #gempa-lombok #salbilah #kepala-sd-negeri-3-obel-obel-lombok-timur 

Berita Terkait

CBA Minta Pemerintah Tidak PHP Korban Gempa Lombok

Nasional

Gelar Acara Mewah, PHP Korban Gempa

Nasional

Kemensos Kehabisan Dana untuk Lombok

Headline

200 Unit Rumah Tahan Gempa Dibangun di Lombok

Nasional

Gerindra Pertanyakan Kelanjutan Bantuan Gempa Lombok

Nasional

IKLAN