Sabtu, 17 November 2018 04:09 WIB
pmk

Nusantara

Dampak Kelangkaan Gas di Daerah, Elpiji 12 Kg Tembus Rp 700.000

Redaktur:

LANGKA-Pangkalan resmi elpiji di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur hanya menyalurkan maksimal lima tabung ke pedagang eceran. FOTO: DOKOUMENTASI SANGATTA POST

INDOPOS.CO.ID - Masyarakat di berbagai daerah didera keresahan atas kelangkaan gas subsidi yang hingga kini belum berakhir. Di pulau lebih parah lagi. Harga elpiji ukuran 12 kg bisa menembus Rp 700.000 per tabung.

Wardiman, warga Pulau Sapuka, Kecamatan Liukang Tangaya, Pangkep, Sulawesi Selatan, menyebutkan harga gas di pulau itu sudah sangat gila. Elpiji ukuran 12 kg yang baru mencapai Rp 700.000. Sementara isi ulang sebesar Rp 200.000.

Ironisnya, elpiji ukuran 3 kg yang merupakan subsidi harganya Rp 50.000 per tabung. "Ini sudah keterlaluan mahalnya. Karena kondisi langka, jadi pedagang menaikkan harga sangat tinggi," kata Wardiman yang dihubungi via ponselnya, Selasa, 31 Juli.

Ansar, warga lainnya mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Pangkep dikabarkan telah mengirim stok elpiji 3 kg sekitar dua pekan lalu. Namun kabar buruknya, elpiji tersebut telah habis di pulau yang disinggahi.

"Kita masih menunggu jatah untuk kami. Katanya baru beberapa pulau yang disinggahi. Belum sampai ke (Pulau) Sailus. Sepanjang stok belum sampai, harga akan sangat mahal," keluhnya. Tidak hanya di pulau, kelangkaan juga dirasakan warga di daratan. Halija, warga Labbakkang mendapati gas 3 kg dengan harga Rp 20.000.

Sementara Kasi Perdagangan Pangkep, Muhammad Yusri meminta masyarakat kepulauan untuk bersabar. Stok elpiji yang dikirim sementara dalam perjalanan. Menurutnya, stok yang baru ini seharusnya cukup memenuhi kebutuhan warga sehingga bisa menormalisasi harga yang naik saat ini.

Di Wajo, warga mengeluh karena sulitnya mendapatkan elpiji ukuran 3 kg. Menurut warga Belawa, Rahmawati, anggota keluarganya sudah dua hari terakhir ini kesulitan mendapatkan elpiji. "Kalau di pangkalan, elpiji 3 kg cuma sehari sudah habis. Banyak warga mengeluh karena kita tidak kebagian," ujarnya.

Karena stok langka, harga di tingkat eceran pun melonjak. Jika berhasil mendapatkan elpiji 3 kg, harganya pasti antara Rp 20.000 hingga Rp 23.000. Padahal harga di tingkat eceran normalnya Rp 16.000.

"Kalau harga naik, biar mi. Yang penting tidak langka," tuturnya. Kepala Bagian Perekonomian Wajo, Andi Musdalifah Z, jika melihat kuota elpiji 3 kg di Wajo yang mengalami penambahan, seharusnya tidak terjadi kelangkaan. Pada 2017, lanjutnya, jatah Wajo sebanyak 11.007 metrik ton lalu ditambah menjadi 11.307 metrik ton pada 2018 ini. Penambahan jatah ini membuat Wajo kini di peringkat ketiga sebagai daerah dengan kuota terbesar setelah Makassar dan Pinrang.

"Penambahan ini atas permintaan kita kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, pada Februari 2017 lalu," sebutnya. Karena itu, dia menduga ada peningkatan konsumsi di luar ketentuan sehingga membuat elpiji lebih cepat habis. "Sekarang ini pemakaian elpiji bukan hanya rumah tangga. Tetapi banyak juga digunakan oleh petani untuk pompanisasi dan usaha laundry," ungkapnya.

Di Sinjai, harga elpiji 3 kg juga melonjak dari biasanya. Warga Lappa, Sinjai Utara, Syamsia, 30, mengaku baru saja membeli elpiji dengan harga Rp 25.000 per tabung. "Di pangkalan hanya sampai pukul 12.00 wita, tabung sudah habis. Pengecer juga memainkan karena stoknya terbatas, mau tidak mau kami harus beli," bebernya.

Sayangnya, Sekkab Sinjai, Akbar Mukmin tidak merespons pertanyaan dari FAJAR. Begitu juga dengan Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan SDA Sinjai, Andi Tenri Rawe. (sakinah fitriadi/imam rahmanto/sirajuddin/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #harga-elpiji 

Berita Terkait

IKLAN