Rabu, 26 September 2018 03:28 WIB
pmk

Politik

Orkestra Politik PKS Berlanggam Cawapres Prabowo

Redaktur: Ali Rahman

Pengamat Politik dari Indikator Politik Indonesia Burhanudin Muhtadi saat ditemui di Kawasan Gambir, Jakarta, Kamis (2/8/2018). Foto: Jaa Rizka Pradana/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Ditengah hiruk pikuk pembahasan cawapres Prabowo Subianto, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengancam akan meninggalkan koalisinya. Alasannya, demi sebuah status jabatan 'pendamping' Prabowo dalam ajang Pilpres 2019.

Opsi abstain sempat diutarakan oleh Direktur Pencapresan DPP PKS, Suhud Aliyudin pada Rabu (1/8/2018). Diabaikannya rekomendasi Ijtima Ulama oleh Prabowo Subianto ditengarai sebagai alasannya.

Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi memiliki pandangan tersendiri tentang hal ini. "Itu bagian dari gertak sambal untuk menaikkan posisi tawar PKS," katanya saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/8/2018).

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia ini menilai, PKS bak memainkan orkestra dalam penentuan Cawapres Prabowo.

Menurut Burhanudin, konduktor orkestra ini sangat terlihat jelas sehingga, ada yang memiliki tone keras dan lembut. Peran tone keras, katanya, diambil alih oleh Suhud yang disebutnya sebagai pemain perkusi.

"Tapi di sisi lain, ada orang seperti Mardani Ali Sera yang memainkan alat musik seperti piano yang jauh lebih lembut kemudian memakai bahasa yang bersayap kurang to the point, terlalu halus, itu bagian dari orkestra," jelasnya.

Selain dua nama di atas, tambah Burhanudin, sangat mungkin terdapat tokoh-tokoh PKS lainnya yang memainkan alat musik lainnya dalam orkestra ini.

"Tetapi ujungnya, baik Pak Suhud, Mardani Ali Sera, Tifatul Sembiring, HNW pada dasarnya sedang memainkan langgam musik yang sama yaitu untuk menaikkan bargaining positioning PKS terutama di mata Gerinda sebagai partai yang punya keleluasaan untuk menentukan siapa capres cawapres," tutupnya. (jaa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #burhanuddin-muhtadi #pks #prabowo-subianto #suhud-aliyudin 

Berita Terkait

IKLAN