Sabtu, 17 November 2018 06:16 WIB
pmk

Kesehatan

Mengabaikan Sakit Tulang Leher Bisa Mengakibatkan Kematian

Redaktur: Ali Rahman

dr. Sofyanto, SpBS

INDOPOS.CO.ID - Sakit kepala mungkin hanya penyakit ringan, akan tetapi jika penderita yang mengalami ini terlalu mengabaikan bisa menyebabkan kelumpuhan. Dalam acara media breafing “One Day Stand Up, Next Day Go Home” bersama dokter ahli syaraf memberikan beberapa  penjelasan mengenai keluhan penyakit leher.

Kalau berbicara tentang leher, pasti sudah menjadi bagian yang paling sensitif untuk semua organ tubuh. Karena semua penyakit yang terdapat di tubuh, bersumber pada leher. “Salah-salah operasi bagian leher, bisa menyebabkan kematian. Apalagi yang tidak mengetahui teknik tersebut. Leher itu sumber sumsum dan nyawa,” ucap dr. Sofyanto, SpBS di Jakarta, Jumat (3/8/2018)

Spondylosis Cervical (SC) atau yang lebih popular dengan nama Spondilosis Leher (terjepit saraf tulang leher), misalnya, gejala awalnya ringan hanya kesemutan, namun penderita dapat mengalami kelumpuhan. Hal ini terjadi akibat sumsum saraf leher terjepit bantalan sendi leher yang lepas atau tertekan oleh pengapuran. Dari gejala ringan, keluhan semakin berat berupa nyeri leher, bahu, belikat, tangan, jari bahkan melemah hingga tak mampu menulis, pegang gelas bisa jatuh.

Sofyan menguraikan, struktur tulang leher manusia terdiri dari tujuh ruas. Di antara satu ruas dengan lainnya ada bantalan yang disebut discus. Discus sendiri fungsi utamanya agar leher bisa bergerak secara leluasa, menengok kekanan kiri, mendongak dengan smoth dan sebagainya.

Yang terjadi pada penderita SC, discus yang lebarnya 1,4 cm dengan tebal 0,5 mm mengalami kerusakan. Jenis kerusakan sendiri bisa sekadar aus atau bahkan pecah. Kerusakan itu bisa diakibatkan banyak hal, bisa faktor usia, kecelakaan, karena jenis pekerjaan tertentu juga olahraga. Pecahan discus tersebut kemudian menyembul keluar dari “tempatnya tinggalnya”.

Yang menjadi masalah di tengah ruas batang leher itu terdapat sumsum berasal dari otak menuju tulang ekor. Sumsum sendiri fisiknya menyerupai tabung sebesar batang jempol yang berisi sel saraf dan cairan merupakan sentral dari semua fungsi yang ada dalam tubuh manusia. Mulai fungsi nafas, tangan, seksual, kencing, menggerakan kaki dan lainnya.

"Jika dibiarkan berlanjut menjadi gangguan buang air, tidak dapat menahan air seni dan bahkan gangguan seksual," tambahnya.

Karena discus itu rusak dan menyembul menekan sumsum yang ada disana. “Karena sumsumnya terjepit, maka fungsi tubuh menjadi bermasalah,” jelas dr. Sofyan.

Untuk menangani SC ini sekarang ada teknologi kedokteran canggih yang berfungsi sebagai pengganti discus yang rusak tersebut.  Alat penganti tersebut disebut dengan cervical mobile prostesis (CMP).

Teknik Operasi ini sudah diterapkan sejak 2008, akan tetapi banyak masyarakat tidak mengetahuinya. Sehingga dalam seminar ini, diharapkan akan semakin banyak pasien yang berobat ke kami tanpa perlu keluar negeri.

Teknik operasinya disebut dengan anterior micro disectomy (AMD). Caranya dilakukan sayatan 2 cm di leher bagian depan bersebelahan dengan batang tenggorok. Selanjutnya dengan microskop khusus discus yang sudah rusak yang ada diantara ruas tulang batang leher tersebut dikeluarkan sampai tidak ada lagi yang menekan sumsum. Setelah discus dikeluarakan baru kemudian CMP dimasukkan sebagai pengantinya.

“Karena sayatan sangat kecil, keesokan harinya pasien sudah bisa pulang dan langsung beraktivitas seperti sediakala, dan leher sudah bebeas digerakkan,” jelas Sofyan yang mengembangkan teknik ini pada tahun 2008 sepulang belajar dari Perancis.

Teknik AMD ini beda sekali dengan teknologi lama. Kalau cara lama, tulang discus yang rusak dibersihkan kemudian antara satu ruas dengan ruas berikutnya dimatikan dengan cara dipasang plat dan di-mur. Setelah operasi pasien tidak boleh bergerak sekitar 2-3 bulan dengan cara diberi alat penyangga.

“Dampaknya, pasien tidak nyaman bahkan kadang kesakitan karena otot kaku akibat tidak digerakkan dalam jangka waktu lama,” timpal dr. Sofyan yang praktik di National Hospital Surabaya.

Dalam kesempatan yang sama, ada banyak pasien yang mengalami sakit punggung, ketika dibawa kerumah sakit lain justru yang dioperasi hanya punggungnya. Padahal awal mulanya bersumber pada tulang leher yang terjepit.

Sehingga, pada seminar mengenai Spondilosis leher yang diadakan oleh Brain&Spine Community (BSC) ini merupakan rangkaian informasi dari media breafing yang didukung oleh RS Bedah Surabaya.

Dalam BSC, para mantan pasien dapat berkomunikasi secara langsung dan saling mendukung satu sama lain, seraya memberikan edukasi melalui pemberian informasi yang benar dan tepat guna kepada masyarakat luas. (cr-3)


TOPIK BERITA TERKAIT: #sakit-tulang-leher #spondylosis-cervical #spondilosis-leher 

Berita Terkait

IKLAN