Jumat, 17 Agustus 2018 05:53 WIB
pmk

Opini

Pesona si Hitam Pahit pada Festival Kopi Papua

Redaktur: Ali Rahman

oleh: Muhammad Nur, BPTP Papua

Kekayaan alam yang dimiliki Papua menjadi daya tarik bagi setiap wisatawan domestik maupun mancanegara. Salah satunya kopi. Berangkat dari hal itu Bank Indonesia perwakilan Papua menggelar Festival Kopi Papua.

Kegiatan ini berlangsung selama 3-4 Agustus 2018. Gelaran festival perdana di ujung timur Indonesia ini, mengusung konsep #kopipapuakitorangpuandalan. Event ini menghadirkan berbagai olahan kopi dari berbagai daerah wilayah Papua seperti Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Paniai, Nabire, Timika dan Yahukimo.

Selain itu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Provinsi papua dan  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di bawah mendiseminasikan hasil olahan kopi dan sagu pada event tersebut.Festival kopi papua di buka secara resmi oleh Pejabat Gubernur Papua Mayor Purn. Soedarmo bersama Ketua Dewan kopi Nasional, Anton Apriantono, Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano.

Festival kopi-kopi Papua ini pertama kali dilaksanakan di Papua. Festival Kopi Papua diharapkan menjadi pemicu pengembangan kopi Papua secara umum. Selama ini, pertumbuhan ekonomi Papua berasal dari tambang seperti di Freeport tetapi juga memiliki binaan kopi.

Pertumbuhan ekonomi cukup tinggi namun juga kemiskinan juga termasuk paling tinggi. Sedangkan pada umumnya 70 persen persen penduduk Papua lapangan pekerjaannya bersal dari pertanian jadi perlu terobosan baru salah satunya kopi dan sagu ini diharapkan menjadi sumber pendapatan baru di papua.

Menurut Wali Kota Jayapura pihak instansi pemerintah daerah diwajibkan menggunakan makanan khas papua pada setiap eventnya. Festival Kopi Papua melibatkan 11 petani kopi papua seperti maksimus lani dari wamena di sektor hulu sedangkan di sektor hilir 14 kopi kedai Papua yang ada dijayapura seperti piter tan yang sudah malang melintang sebagai pemilik kedai kopi dan sekolah barrista.

Anton Aprintono sebagai Ketua Dewan Kopi Nasional dan mantan Menteri Pertanian Kabinet Indonesia Bersatu menuturkan bahwa ini momentum yang sangat penting bangkitnya kopi papua sehingga menimbulkan efek yang banyak dan membawa keuntungan sehingga petani lebih semangat untuk berusahatani dan meningkatkan produksi didukung oleh inovasi teknologi dari pihak pemerintah khususnya dari kementerian pertanian penelitan pembangunan melalui Balai pengkajian teknologi pertanian Papua. Dulunya berbagai jenis kopi terpendam dan sekarang naik di permukaan yang luar biasa.

BPTP Balitbangtan Papua mendiseminasikan olahan kopi Arabika asal Okbibab Pegunugan Bintang racikan tim pameran secara sederhana agar mudah diadopsi masyarakat khusunya loka papua dalam membuka suatu usaha olahan kopi. Selain itu inovasi teknologi pengolahan hasil lsainnya  pun di gelar yaitu olahan bahan dasar sagu seperti gula cair dan kembang goyang sagu dengan berbagai macam rasa seperti kembang goyang sagu oroginal,mocha dan wijen yang cukup menarik minat pengunjung selain kopi.

Potensi pengembangankopi olahan dan kopi spesial di dalam negeri masih sangat baik mengingat konsumsi kopi masayarakat indonesia rata rata 1,1kg perkapita/tahun. Jumlah itu jauh dibawah negara negara pengimpor kopi seperti USA 4,3 kg, Jepang 3,4kg, Austria7,6kg, Belgia 8,0kg, Norwegia 10,6 dan Finlandia 11,4 kg perkapita/tahun.

Indonesia adalah penghasil kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia dengan produksi rata-rata 639 ribu ton/tahun atau sekitar 8 persen dari produksi kopi dunia. Komposisi produksi kopi Indonesia adalah 72,84 persen jenis robusta dan 27,16 persen Arabika.

Propinsi Papua memang sudah lama terkenal menjadi salah satu penghasil kopi terbaik. Sayangnya untuk memeperoleh biji biji kopi tersebut pada umumnya berada pada wilayah ketinggian seperti Kabupaten Jayawijaya, Pegunungan Bintang dan Paniai.

Luas areal perkebunan kopi papua sekitar  10.227 Ha dengan rata rata produksi 650-700 ton/Ha pertahun. Kopi papua mulai dikenal msyarakat seperti di Wamena  karena sesuai dengan agroekosistem ketinggian mulai dari 700 - 1500 dpl selain itu menurut penuturan masyarakkat yang pernah mencicipi kopi Arabika Wamena bahwa memang rasa dan aromanya yang khas dilidah begitu pun dengan kadar asamanya mendekati nol.

Hal inilah yang membuat para pendatang yang setiap datang ke kedai ataupun cafe di Papua ingin mencicipi si hitam pahit nan nikmat. Plt Gubernur Papua, Mayor Jenderal (purn) Soedarmo menuturkan kalau bukan sekarang kita naikkan kopi Papua kapan lagi kini saatnya kita bangkit mandiri dan sejahtera untuk membangun perkebunan kopi Papua baik dalam segi luasan lahan maupun produksi sehingga hasil akhir yang diperoleh mampu meningkatkan pendapatan pekebun kopi dan mampu membiayai hidupnya hanya dengan tanam kopi mari tanam kopi petik olah dan jual.

Ini merupakan cita-cita selama menjabat dan menginginkan adanya perubahan terkait pertumbuhan ekonomi. Maka yang kita bisa andalkan untuk jangka waktu dekat mencoba dan mengembangkan lagi dua komoditas unggulan yaitu sagu dan kopi. Kopi papua tidak kalah dari berbagai daerah termasuk kopi dari luar negeri dan bila dibandingkan dengan kopi papua kita tak kalah dari segi rasa dan aroma dari daerah lainnya.

Upaya untuk mengembangkan kopi sudah dilaksanakan seperti pembibitan kopi saat ini sudah dikembangkan diberbagai daerah seperti wamena dan oksibil. Untuk mengembangkan kopi papua disamping meningkatkan kesejahteraan dan juga mengurangi kriminal, kenapa  apabila masyarakat bisa berubah menjadi penggemar kopi yang tadinya minum minuman keras berubah menjadi peminum kopi dan mengurangi kecanduan Narkoba.

Jika Kedai kopi di papua banyak diharapkan mampu mengurangi hal tersebut dan diharapkan berlanjut dan apapun makanannya minumannya Kopi Papua. (*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #muhammad-nur #bptp-papua 

Berita Terkait

IKLAN