Jumat, 21 September 2018 03:08 WIB
pmk

Nusantara

Cerita Staf Kelurahan Penataban Sebelum Wilujeng Dibawa Penculik

Redaktur:

SYOK-Lurah Penataban Wilujeng Esti Utami dikunjungi koleganya di Polsek Giri, Banyuwangi, Rabu pagi (1/ FREDY RIZKI/RADAR BANYUWANGI/jpg

INDOPOS.CO.ID - INSIDEN penculikan yang menimpa Lurah Penataban Wilujeng Esti Utami membuat gempar staf kelurahan dan masyarakat setempat. Wilujeng yang sempat tidak memberi kabar sejak Selasa sire (31/8),  ditemukan oleh warga di Desa Kebondalem, Bangorejo dalam kondisi terikat dan dipenuhi beberapa luka.

Beruntung Wilujeng masih bisa kembali dalam kondisi selamat dan bisa kembali di rumah dinasnya di samping Kantor Kelurahan Penataban. Jawa Pos Radar Banyuwangi yang tiba di kantor Kelurahan Penataban kemarin pagi (1/8) melihat ada banyak orang yang berkunjung ke ruangan Bu Lurah.

Meski baru menjadi korban penculikan dan penganiayaan, Wilujeng langsung masuk ke kantor. Dengan dijaga petugas dari Polsek Giri dan Koramil Kalipuro, Wilujeng menerima bebeberapa orang yang datang untuk mengunjunginya. Selain teman-teman dari kelurahan sekitar, ada juga petugas dari Dinas Kesehatan dan Kecamatan Giri yang terlihat menyalami dan memeluk perempuan yang masih terlihat shock tersebut.

Atminah, salah seorang pegawai dari balai penyuluh pertanian Giri mengaku terkejut mendengar kabar Lurah Penataban yang diculik. Dia pun berusaha melihat kondisi Wilujeng secara langsung dengan mendatangi kantor kelurahan. Rupanya kabar tersebut benar. Begitu sampai kantor kelurahan, sudah ramai orang. “Beruntung Bu Lurah selamat. Kalau dengar ceritanya saya jadi ngeri. Kok bisa sampai dibegitukan, diikat dan dipukuli. Padahal orangnya baik. Kalau begini saya jadi khawatir,” tutur wanita paruh baya itu.

Tak lama setelah dikunjungi teman-temanya, Wilujeng kemudian dijemput oleh Satreskrim Polres Banyuwangi untuk kepentingan penyelidikan. Kasi Pemerintahan Kelurahan Penataban Sutrisno mengatakan,  selama dibawa oleh penculik, Wilujeng mengalami beberapa penganiayaan. Kedua tangan dan kakinya diikat. Lalu kepalanya ditutup dengan tas kresek. Kemudian beberapa kali dada dan kepalanya dipukul oleh pelaku. Bahkan Wilujeng juga sempat ditodong dengan pistol yang sebelumnya sempat diletupkan oleh pelaku.

 ”Setelah ibu dikira mati, lalu dia dibuang ke sungai oleh oknum LSM yang namanya Dion itu. Sekitar dua jam Bu lurah minta tolong. Sempat ada orang mau menolong tapi ragu. Lalu orang itu pergi dan kembali lagi, lalu ibu dibawa ke Koramil Bangorejo,” kata Sutrisno.

Atmimah mengungkapkan  tidak ada satu pun petugas kelurahan yang tahu saat Wilujeng dibawa oleh pelaku. Sebab,  pada Selasa siang sekitar pukul 10.00,  Wilujeng pamitan akan pergi mengurus berkas kepegawaian ke BKD. Dia dan staf lainya pun mengira Wilujeng sedang ada tugas di luar.

Rupanya Wilujeng tidak kembali ke kantor hingga pukul 16.00. Sutrisno pun sempat meneleponya, tetapi yang bersangkutan hanya mengatakan jika dirinya sedang di luar. ”Jam setengah satu sempat saya telepon karena waktunya ceklok kok belum ada. Katanya sedang di luar,” ujar Atminah.

Pukul 16.00 Atmimah menelepon lagi.  Katanya masih di luar.  ”Jadi kita tinggal pulang. Nah, malam hari kita lembur di kantor, saya lihat motornya ibu ada di depan rumah dinas. Saya pikir dia sudah di dalam rumah. Tapi waktu saya periksa ke rumahnya hanya ada anaknya saja, dia juga bilang kalau ibunya belum pulang,” kata Sutrisno.

Sekitar pukul 23.00, Sutrisno mendapat  telepon dari Camat Glagah, Astorik. Dia diminta memastikan apakah benar Lurah Penataban sedang diculik. Karena ada pesan broadcast dari WhatsApp yang mengatakan jika Lurah Penataban ditemukan meninggal di Desa Kebondalem Bangorejo.

Karena khawatir, Sutrisno pun mengajak beberapa orang untuk pergi ke rumah tinggal Wilujeng di daerah perumahan Spring Garden, Kelurahan Sobo. Sampai di sana Sutrisno juga tidak menemukannya.      

Setelah menunggu beberapa jam, Sutrisno akhirnya kembali ke kelurahan setelah dikabari jika Wilujeng sedang dibawa kembali dari Bangorejo oleh kapolsek Giri AKP Jodana Gunadi. “Setiap malam Selasa dan malam Rabu kita ini lembur pelayanan. Saya heran saat melihat E Kinerja kok ibu belum ceklok. Ternyata memang benar kalau ibu jadi korban penculikan. Katanya oknum LSM bernama Dion. Tapi saya sendiri tidak kenal,” jelasnya.

Sementara itu, dari penuturan salah seorang pedagang kopi, Isnaini yang berjualan di samping kantor kelurahan, dirinya melihat Wilujeng dijemput dua orang berbadan tegap pada hari Selasa. Satu orang masuk ke dalam kantor, sedangkan yang satu lagi menunggu di mobil.

”Penjemputannya sekitar pukul 22.00. Bu Lurah sempat pesan kopi untuk tamunya itu. Tapi belum sempat dihabiskan mereka sudah pergi. Saya tidak tahu merek mobilnya, bentuknya mirip-mirip Avanza warnanya gelap,’’ kata Isnaini. (*/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #penculikan #kriminal 

Berita Terkait

Sepekan Dua Tewas, Pelajar Bogor Buat Sajam untuk Tawuran

Megapolitan

Polri Tahan Lima Tersangka Pelaku Human Trafficking

Nasional

Duh, Oknum PNS Ini Embat HP

Nusantara

Pegawai BNI Kuras ATM Nasabah

Banten Raya

Polisi AS Tembak Mati Mahasiswa

Internasional

IKLAN