Selasa, 13 November 2018 11:45 WIB
pmk

Ekonomi

EOR Bisa Sedot Banyak Minyak di Blok Rokan, Langkah Pertamina Tepat

Redaktur: Redjo Prahananda

MIGAS-Blok Rokan, Riau yang masih dikelola Chevron. Foto: Dok/Riau Pos/JPG

INDOPOS.CO.ID - Rencana Pertamina untuk menerapkan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) di Blok Rokan, Riau mendapat dukungan dan dinilai sangat tepat. “Dengan melihat karakteristik Blok Rokan, maka memang teknologi EOR yang bisa dipakai untuk menahan laju penurunan produksi, terutama di dua lapangan besar yaitu, Duri dan Minas,” ujar Rovicky Dwi Putrohari, ahli geologi di Jakarta, Minggu (5/8/2018).

Kalau tidak pakai EOR, lanjut dia, minyak sulit diambil karena seolah-olah ‘lengket’ di bebatuan. “Dengan menggunakan EOR, maka kekentalan minyak bisa diturunkan, sehingga lebih mudah dialirkan, “ tandas Rovicky.

Chevron sendiri, sebelumnya juga mempergunakan teknologi tersebut. Karena itulah, peralatan dan teknologi EOR pun saat ini sudah terpasang dan terinstal di blok terbesar di tanah air itu. Dengan begitu, ketika nanti Pertamina mulai mengelola sejak 2021, maka BUMN itu tinggal menjalankan saja.

Dalam konteks itulah, Rovicky meminta semua pihak untuk tidak meragukan kompetensi Pertamina terkait penerapan teknologi EOR di Blok Rokan. Apalagi selama ini, Pertamina juga sudah sangat berpengalaman menerapkan teknologi tersebut di beberapa lapangan. Pengalaman tersebut bisa menjadi bekal bagi Pertamina ketika nanti mengelola Blok Rokan. “Yang penting Pertamina harus memperhitungkan bahwa karakteristik Blok Rokan bisa jadi berbeda dibandingkan lapangan lain yang sudah mereka kelola, baik secara geologi maupun jenis minyak,” kata dia.

Pertamina memang sudah menerapkan teknologi EOR, baik melalui metode uap air panas atau steamflood maupun injeksi air atau waterflood di 16 lapangan alih kelola. Ini antara lain di sumur eksplorasi Kumis-2 di Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Pertamina mulai mengelola lapangan tersebut pada 2014, setelah sebelumnya dikelola Chevron. Di lapangan tersebut, teknologi EOR yang dipakai Pertamina adalah metode steamflood. Sementara untuk metode warterflooding, Pertamina menerapkan di Pangkalan Susu Field, tepatnya di Struktur Gebang.

Selain itu, melalui Pertamina Upstream Technology Center (UTC), Pertamina juga mengembangkan teknologi tersebut. Di antaranya Pengujian Viskositas Lapangan Bantayan, Formulasi Surfaktan SLS untuk Lapangan Rantau, Pre Feasibility Study CO2 EOR Lapangan Sukowati dan Lapangan Tambun, Pre Feasibility Study Steamflood Lapangan Batang, Implementasi software EOR predictive modeling, dan pengadaan Lab EOR Tahap 2.

Kedua metode yang sudah dipakai Pertamina, yaitu waterflooding dan steamflooding, lanjut Rovicky, memang akan diterapkan di Blok Rokan nanti. Untuk jenis minyak yang kental, berat, dan mengandung lilin, yang dipakai adalah steamflooding. Sedangkan untuk yang tidak terlalu kental tetapi masih ‘tersembunyi’ di pori-pori bebatuan, maka yang dipakai adalah metode waterflooding.

Sebelumnya, Plt Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, pihaknya akan menggunakan EOR untuk memperoleh lebih banyak minyak di Blok Rokan. "Unconventional, kita akan pakai EOR. Di Blok Rokan ini sudah dilakukan, nah kita akan lanjutkan. Kita akan meningkatkan bisa doble capacity. Kalau mau tambah produksi lagi pakai EOR. Lalu ada 7.000 titik eksplorasi," ujarnya.

Dengan mengelola Blok Rokan, Nicke yakin akan meningkatkan produksi hulu Pertamina dan akan mengurangi impor minyak, sehingga bisa menghemat devisa sekitar USD 4 miliar per tahun, serta menurunkan biaya produksi hilir secara jangka panjang. (adl/aro/chi/jpnn)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #blok-rokan #riau #pertamina #blok-minyak-terbesar 

Berita Terkait

Motor Listrik Nasional Mulai Diproduksi 2019

Ekonomi

Diprediksi Pertamina Defisit Rp 40 Triliun

Nasional

Subsidi BBM-Elpiji Membengkak

Nasional

IKLAN