Selasa, 20 November 2018 05:20 WIB
pmk

Headline

Jokowi Dinilai Provokator

Redaktur:

Presiden Joko Widodo. Foto: jawapos.com

INDOPOS.CO.ID - Pernyataan Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat koordinasi relawan pemenang Jokowi pada Pilpres 2019 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Sabtu (4/8/2018) menuai banyak kecaman publik.

Namun hal itu dibantah oleh pihak Istana maupun para pendukungnya. Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV KSP Ali Mochtar Ngabalin misalnya.  Ia menegaskan, Jokowi selalu mengajarkan kesantunan dalam kesehariannya.

"Jadi tidak benar bahwa ucapan berantem itu diartikan bentrok fisik.  Beliau (Jokowi) saja kalau nunjuk pakai ibu jari, tidak telunjuk. Itulah kesopanan beliau sebagai orang Jawa," kata Ngabalin dalam bincangnya melalui sambungan telepon kepada INDOPOS,  Minggu (5/8/2018).

Ngabalin pun menegaskan,  pidato politik Jokowi dengan para relawan di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu siang (4/8) adalah bagian dari arahan atau motivasi agar para pendukungnya tetap berjalan pada aturan yang benar.

"Kalau ada ujaran kebencian, fitnah, tetap diklarifikasi. Tak perlu dibalas dengan ujaran kebencian lagi atau adu domba. Dan itulah yang diimbau Pak Jokowi kepada kami para pendukungnya," tukasnya.

Namun bagaimana dengan kata jangan takut kalau diajak berantem juga berani? Ngabalin secara tegas menyatakan, itu ucapan yang sangat bagus diucapkan oleh seorang pemimpin.

"Kalau pintar berdiskusi dan berdiplomasi, kita diajarkan untuk menjaga punya pendirian. Yakni bagaimana kalian para relawan tidak boleh lari kalau digertak.  Berdiri dan hadapi mereka. Kalo mereka hebat, kalian harus lebih hebat.  Jadi Sudah benar itu sebagai itu ucapan seorang pimpinan untuk memberikan motivasi kepada anak buahnya," pungkasnya.

Ketua Umum Relawan Jokowi Sahabat Rakyat Indonesia (SRI) Sukriansyah S. Latief juga angkat bicara.

Menurut Uki, sapaan akrab Sukriansyah S Latief, apa yang dikatakan Presiden Jokowi harus dimaknai utuh dan selengkapnya dan tidak dipenggal serta diplintir dengan tujuan melakukan provokasi dan penyesatan informasi ke publik.

“Kalau dicermati secara lengkap, justru pilihan kata atau diksi dari Presiden Jokowi mengajak para relawannya untuk menghindari violence. Semangatnya justru anti kekerasan. Namun juga menyemangati relawannya untuk tidak jadi penakut. Jadi bukan mengajak berantem,” tegas Uki saat dihubungi wartawan, Minggu (5/8).

Uki menjelaskan, di pertemuan relawan yang sebenarnya tertutup tersebut, dengan jelas Presiden Jokowi menyatakan jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani.

“Ini menjelaskan Pak Jokowi mengajak relawannya untuk tidak tinggal diam menghadapi serangan fitnah dan hoaks yang semakin gencar dilakukan di medsos. Fitnah, hoaks dan fake news (berita menyesatkan) harus kita lawan,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni. Menurutnya, ucapan Jokowi terhadap para pendukungnya bukanlah ajakan menyuruh pendukungnya berkelahi.

"Itu terlalu dibesar-besarkan. Kami tidak pernah merasa Pak Jokowi memprovokasi kami untuk berantem. Berita Ini sengaja dipelintir oleh lawan politik," ucap Raja saat dihubungi INDOPOS.

Ia menegaskan,  pernyataan Jokowi pada saat pertemuan relawan banyak yang dipotong dan dicabut dari konteksnya sehingga yang ditampilkan di publik.

"Jadi karena pelintiran itu seolah-oleh Pak Jokowi memprovokasi agar terjadi benturan di akar rumput," cetusnya.

Raja meminta pernyataan Jokowi disimak secara seksama. Menurutnya, Jokowi justru menegaskan agar relawan Jokowi jangan saling mencela dan menjelekkan dalam kampanye. Jokowi juga melarang pendukungnya untuk berinisiatif melakukan kekerasan.

"Namun sebagai bentuk defensif, mempertahankan diri, bila ada yang melakukan kekerasan, pendukung Jokowi harus berani melawan. Tapi, sekali lagi, sifarnya defensif bukan ofensif," ujar Toni.

Dia menyinggung terminologi 'the last resort' dalam studi Hubungan Internasional. Toni menjelaskan bahwa tindakan militeristik mungkin dilakukan sebagai alternatif terakhir yang mesti diambil bila alternatif damai tidak bisa dilakukan lagi.

"Jadi tidak benar Pak Jokowi menganjurkan pendukungnya untuk berkelahi dengan pendukung lain. Sekali lagi, di tahun politik ini, jangan main fitnah dengan mempelintir pernyataan yang membuat gaduh masyarakat," tegasnya.

Diketahui,  Presiden Joko Widodo meminta barisan relawan pendukungnya tidak mencari musuh. Namun harus siap bila harus terlibat dalam perkelahian.

Permintaan Jokowi itu disampaikannya dalam pertemuan besar dalam rapat umum dengan barisan relawan di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu siang (4/8).

“Jangan membangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah. Tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang lain. Tapi kalau diajak berantem juga berani," kata Jokowi disambut tepuk tangan peserta rapat.

Pernyataan ini pun mendapat kritikan banyak pihak.

Wakil Ketua Komisi II DPR-RI Mardani Ali Sera meminta agar publik tak salah mengartikan pernyataan orang nomor satu di bangsa ini. Buat Mardani, pernyataan Jokowi itu bukan pada fisik, karena dalam politik perang tak harus ada gesekan fisik atau pertumpahan darah.

“Tentu maksud Pak Jokowi bukan berantem fisik ya. Karena politik itu perang tanpa pertumpahan darah, tanpa kelahi fisik,” kata Mardani kepada INDOPOS.

Buat Ketua DPP PKS itu, pihaknya lebih mengutamakan perang politik tanpa ada pertumpahan darah. Dirinya mengakui, mereka lebih mengutamakan gerakan politik yang sesuai dengan konstitusi dan menjaga adab lebih diutamakan dalam menghadapi Pemilu dan Pilpres 2019.

“Kami gerakan #2019GantiPresiden selalu menjaga adab, menjauhi kelahi dan kekerasan fisik. Plus Peraturan KPU juga mensyaratkan semua kampanye berlangsung damai dan aman,” ucap akademisi Universitas Mercu Buana itu.

Mantan Sekjen Projo (Pro Jokowi), Guntur Siregar menegaskan bahwa imbuan Presiden agar pendukungnya siap berkelahi bisa membuat situasi politik semakin gaduh

Menurutnya,  pernyataan itu terkesan provokasi. "Tidak sepantasnya seorang presiden ucapkan pernyataan itu," tegas Guntur Siregar dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan.

Kata Guntur, Presiden tampak tak ingin Pilpres 2019 berlangsung aman dan damai.

"Bukannya mencairkan suasana menjelang pilpres tetapi malah kesannya provokasi rakyat biar terjadi benturan antar pendukung," tukasnya.

Kritikan juga datang dari Wasekjen DPP Partai Demokrat Andi Arief yang menganggap Jokowi telah memberi anjuran untuk perang sipil kepada pendukungnya.

“Jokowi sebagai presiden di depan relawan secara eksplisit menganjurkan perang sipil. Saya sangat prihatin dengan anjuran itu,” ujarnya dalam akun Twitter @AndiArief_.

Andi kemudian menjelaskan mengenai perang sipil yang dimaksudnya. Baginya, pernyataan Jokowi itu akan membuat pihak-pihak yang bukan relawan mempersiapkan segala sesuatu atas ancaman kekerasan serius seorang presiden lewat pendukungnya.

“Kalau sampai ada satu saja korban jatuh karena kekerasan atas perintah Presiden Jokowi, bukan tidak mungkin akan ada reaksi balik yang membahayakan hubungan antar warga negara,” jelasnya.

Menurutnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian harus segera menangkap Presiden Jokowi karena sudah memerintahkan kekerasan yang bisa mengarah perang sipil.

“Ini lebih berbahaya ketimbang terorisme,” tegasnya.

Kecaman juga datang dari praktisi hukum Munarman. Menurutnya, Jokowi bak pemimpin kelompok yang suka melakjkna kekerasan.

"Itu pernyataan lebih mencerminkan karakter dan watak pimpinan gangster, pimpinan mafia dan bukan pimpinan negara," tegas praktisi hukum Munarman kepada INDOPOS.

Munarman yang juga juru bicara Front Pembela Islam (FPI) meminta rakyat Indonesia tidak terpancing atas pernyataan itu.  "Itu bentuk provokasi. Rakyat tidak boleh terpancing. Kita butuh pemimpin yang tegas terhadap asing dengan bukan rakyat sendiri," cetusnya menambahkan.

Panglima Laskar Pembela Islam (LPI)  Maman Suryadi ikut angkat bicara mengecam pernyataan Jokowi.

Ia menegaskan peryataan untuk siap-siap berkelahi akan mengancam keutuhan NKRI. Akan menimbulkan konflik horisontal.  "Ini tidak mencerminkan seorang pemimpin, tegasnya kepada INDOPOS.

Lebih lanjut,  kata Maman,  seruan itu juga menunjukkan bahwa Jokowi tidak menjunjung demokrasi.

"Saya juga heran apa ini bentuk kepanikan dan kegelisahan karena tidak siap kalah. Seharusnya seorang pemimpin itu berjiwa besar, tegas tidak cengeng.  Dan berikan lah pendidikan politik yang baik ke rakyat,  bhkan sebaliknya," pungkasnya. (dil/jpg)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #jokowi #pilpres-2019 

Berita Terkait

IKLAN