Rabu, 15 Agustus 2018 06:27 WIB
pmk

makanmakan

Nostalgia dengan Makanan Tahun 70’an

Redaktur:

Laksa.

INDOPOS.CO.ID - Letaknya yang tak begitu jauh dari ibukota ini juga semakin berkembang pesat. Termasuk soal pertumbuhan usaha di bidang kuliner. Ada banyak gerai, restoran dan café juga bisa menjadi destinasi wisata menarik yang bisa kamu cicipi. Kalau kamu kebetulan mampir atau bertempat tinggal di kota ini, kamu tentunya  tak boleh melewatkan kesempatan untuk mencoba tempat wisata kuliner yang sudah melekat dengan tempat ini, yaitu kuliner Laksa Tangerang.

Laksa merupakan kuliner yang tidak hanya gurih namun juga asli Tangerang yang layak Anda coba. Laksa bukan hanya menjadi makanan khas beberapa kota di Indonesia saja, tetapi juga dikenal menjadi makanan khas di Singapura dan Malaysia. Akan tetapi laksa Tangerang berbeda dengan laksa yang berada di kota lain. Tapi siapa sangka makanan khas rakyat di zaman kejepit alias sulit itu masih banyak belum dikenal orang. 

Padahal, riwayat laksa Tangerang cukup panjang dan getir. Rido, salah seorang pedagang di Kawasan Kuliner Laksa Tangerang, mengatakan, sejarah laksa Tangerang dimulai saat zaman sulit. Saat itu masa panen padi, akan tetapi tidak ada makanan dan banyak orang kelaparan.Akhirnya, beras yang ada digiling menjadi tepung, lalu diolah menjadi laksa. Dengan sajian ala kadarnya, laksa yang sudah jadi dibagikan kepada seluruh warga yang sedang menderita kelaparan. Bahaya mati kelaparan pun akhirnya bisa terhindarkan. 

Sejak itu warga tetap membuat laksa sebagai makanan, bahkan hingga saat ini. Kata laksa sendiri, menurut Rido, diambil dari kata China. “Saya sendiri termasuk generasi penerus dari keluarga saya yang menjual laksa Tangerang,” kata Rido, saat berbincang dengan INDOPOS, di Kawasan Kuliner Laksa Tangerang, Sebtu (4/8/2018). 

Sejak peristiwa historis itu, mulai muncul pedagang laksa keliling di Kota Tangerang. Orang tua Rido termasuk generasi awal dari para pedagang laksa yang berdagang keliling Kota Tangerang. “Dagang laksa ini sudah dilakukan secara turun menurun, sampai sekarang,” ucapnya.

Aktivitas berdagang ala kaki lima itu sudah ada dari tahun 70’an, lalu diteruskan Rido tahun 90’an. Baru pada tahun 2010, atas prakarsa Pemerintah Kota Tangerang, akhirnya para pedagang laksa yang tersebar dan mangkal di sejumlah wilayah dilokalisasi di satu Kawasan Kuliner Laksa Tangerang, tepatnya berada di Jalan Muhammad Yamin, Babakan, Kecamatan Tangerang. 

Tempat ini sengaja dipilih karena menjadi awal sejarah laksa Tangerang yang khas dan sangat strategis dari segi aksesnya. Kepala Bidang Pariwisata Kota Tangerang Rizal Ridallah mengatakan, Kawasan Kuliner Laksa Tangerang menampung 14 pedagang laksa di Kota Tangerang, dari yang sebelumnya terpencar menjadi satu. 

“Melalui Kawasan Kuliner Laksa itu, kami ingin mengenalkan dan mempromosikan makanan khas Kota Tangerang kepada masyarakat luas. Bukan hanya di luar Kota Tangerang, tapi di luar negeri,” katanya. 

Hingga kini pengunjung kawasan wisata kuliner itu sudah mencapai ribuan orang per hari dan mencapai ribuan lebih pengunjung saat hari libur Sabtu- Minggu dan hari-hari besar nasional lainnya. 

“Kepada para pengunjung, kami juga telah menyiapkan sarana wifi gratis, dan area parkir motor serta mobil yang cukup luas sehingga tidak perlu takut berkunjung ke kawasan wisata kuliner ini,” ungkapnya.

Makanan yang disajikan juga selalu mengutamakan kesegaran, kebersihan, dan keamanan pengunjung. “Untuk kebersihan dan keamanan laksa, kami juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan yang selalu mengawasi sajian laksanya. Jadi, bisa dipastikan aman untuk dikonsumsi keluarga,” sebutnya. 

Sementara itu, Rido menjelaskan, laksa yang dijual dan bahan-bahan yang digunakannya dalam membuat laksa tidak ada yang menggunakan pengawet. “Laksanya kami buat sendiri dari beras yang digiling menjadi tepung alus, lalu dibuat adonan pakai air panas, dan dicetak lalu dikukus serta dicetak lagi. Daya tahan laksa ini hanya 24 jam,” ungkap Rido.

Proses pembuatannya laksa memakan waktu empat jam. Dalam sehari, mulai Senin-Jumat, Rido bisa membuat atau menghabiskan satu bakul laksa (satu bakul 12 liter beras, bisa untuk 200 porsi). 

“Kalau Sabtu, bisa dua bakul dan Minggu tiga bakul. Libur nasional, bisa dua bakul laksa. Itu dibuat sendiri. Prosesnya hampir enam jam. Lima liter beras bisa untuk memenuhi laksa 50 porsi,” ucapnya. 

Untuk bumbu, bahan yang digunakan juga alami, mulai dari kunyit, jahe, lengkuas, sereh, bawang putih, bawang merah, kemiri, penyedap, garam, dan cabai, semua digiling jadi satu. “Itu untuk penyajian kuahnya. Kuah laksa ini sama juga, hanya tahan 24 jam. 

Tidak lebih. Kami di sini punya tiga rasa, pakai ayam, ati ampela, dan telur. Ayam dan ati ampelanya dari ayam kampung,” paparnya. Dalam sehari, Senin-Jumat, Rido bisa memotong 25 ekor ayam kampung hidup, Sabtu 30 ekor, dan Minggu 50 ekor ayam. 

Pemasok ayam kampungnya sendiri sudah langganan selama puluhan tahun. “Kalau ayam, pakai ayam kampung yang dibakar, kemudian ditumis, diungkep dengan kuah hingga meresap. Begitu pun dengan telur ayam, kami pakai telur ayam negeri dan ati ampela,” tuturnya.

Jika anda tertarik mencicipi laksa yang menjadi ikon wisata kuliner Tangerang ini, kamu bisa meluncur ke kawasan kuliner dekat dengan LP wanita Tangerang yang buka mulai pukul tujuh pagi hingga 10 malam. Jadi tak perlu khawatir kalau kamu kelaparan di pagi hari ataupun malam hari, kamu bisa  dengan mudah mendapatkan laksa enak di kawasan ini. (cr3)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kuliner #indoposmakan-makan 

Berita Terkait

Nikmatnya Tongseng Kambing

makanmakan

Nikmatnya Tongseng Kambing

makanmakan

Galantin, Hidangan Bistik yang Merakyat

makanmakan

Galantin, Hidangan Bistik yang Merakyat

makanmakan

IKLAN