Senin, 24 September 2018 05:20 WIB
pmk

Kesehatan

Pegal Dianggap Biasa, Berisiko Kelumpuhan

Redaktur:

EDUKASI-Suasana acara Media Breafing "One Day Stand Up, Next Day Go Home” di Hotel Atlet Century, Jakarta Pusat, Jumat (3/8) lalu. Foto: ZULHAIDAH BAHAR/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Seringkali orang abai saat mengalami pegal pada bagian tubuh. Saat beraktivitas berlebihan, pegal pada bagian leher sering terasa.

Misalnya, terlalu lama di depan komputer, menyetir, dan durasi panjang berolahraga sering menyebabkan kondisi kram pada leher. Sering dianggap sepele, nyatanya kram dibagian leher bisa menyebabkan kelumpuhan.

"Dalam hal seperti ini, jangan memilih operasi. Leher ini bagian tubuh yang sangat vital. Karena di dalamnya terdapat nyawa dan sum-sum. Salah operasi bisa menyebabkan kematian,” jelas dr M Sofyanto, SpBS dari National Hospital, Surabaya, dalam acara Media Breafing "One Day Stand Up, Next Day Go Home” di Hotel Atlet Century, Jakarta Pusat, Jumat (3/8) lalu.

Dia pun menjelaskan, tata laksana operasi leher kecetir yang disebut dengan spondylosis cervical (SC) atau istilah awamnya kecetit leher. Dia mengatakan, struktur tulang leher manusia terdiri dari tujuh ruas. 

Diantara satu ruas dengan lainnya ada bantalan yang disebut dengan discus. Fungsi dari discus itu agar leher bisa bergerak secara leluasa, menengok kekanan kiri, mendongak dengan smoth, dan sebagainya. 

Sehingga, penderita yang mengalami SC tersebut, discus-nya mengalami kerusakan. "Jenis kerusakan itu sendiri bisa sekedar aus atau bahkan pecah. Kerusakan itu bisa disebabkan banyak hal, bisa faktor usia, kecelakaan, karena jenis pekerjaan tertentu,  juga olahraga. Pecahan discus tersebut kemudian menyembul keluar dari “tempat tinggalnya”," ulasnya.

Yang seringkali menyebabkan masalah adalah, karena di tengah ruas batang leher itu terdapat sum-sum yang berasal dari otak menuju tulang ekor. "Sum-sum itu sendiri fisiknya menyerupai tabung sebesar batang jempol yang berisi sel saraf dan cairan merupakan sentral dari semua fungsi yang ada dalam tubuh manusia. Mulai dari nafas, tangan, seksual, kencing, menggerakan kaki, dan lain sebagainya," terangnya.

Karena discus itu rusak dan menyembul menekan sum-sum yang ada di sana. “Karena sum-sumnya terjepit, maka fungsi tubuh menjadi bermasalah,” imbuhnya.

Tapi seringkali "alarm" adanya kerusakan terabaikan. Dia menjelaskan, beban leher manusia itu hanya sekitar 3,5 kilogram, sehingga sekalipun terjadi kerusakan orang tidak merasakan sesuatu. 

"Paling cuma terasa pegal-pegal pada pundak. Tapi pada tahap yang lebih serius, tiba-tiba lengan mengecil atau tidak bisa menulis. Orang tidak sadar bahwa itu sebenarnya tanda sudah terjadi kerusakan pada discus," paparnya.

Untuk menangani SC, sekarang sudah ada teknologi kedokteran canggih yang berfungsi sebagai pengganti discus yang rusak tersebut. Alat pengganti tersebut disebut dengan cervical mobile prosthesis (CMP).

Sementara teknik operasinya disebut dengan anterior micro discectomy (AMD). Caranya, dilakukan sayatan dua centimenter di leher bagian depan bersebelahan dengan batang tenggorokan. 

Selanjutnya dengan microskop khususdiscus yang sudah rusak ada diantara ruas tulang  batang leher tersebut di lkeluarkan sampai tidak ada lagi yang menekan sum-sum. Setelah discus dikeluarkan baru kemudian CMP dimasukkan sebagai  penggantinya.

"Karena sayatan kecil, keesokan harinya pasien sudah bisa pulang dan langsung beraktivitas seperti sediakala. Leher pum sudah bebas digerakan,” tutur Sofyan.

Salah satu pasien SC adalah Susi, 55 tahun. Dia pernah mengalami kecelakaan pada 2010 di Bali dan baru mendapat operasi pada 2015 di Surabaya.

Setelah mengalami kecelakaan, dia merasakan sakit pada bagian punggung. Sakitnya luar biasa, sampai dia merasa putus asa dan ingin bunuh diri.

"Saya dilindas motor di Bali. Lalu setelah pulih dari luka kecelakaan, saya mulai merasakan sakit luar biasa pada bagian punggung," ceritanya diacara yang sama.

Lalu dia pun mencoba melakukan pengecekan dan ditemukan adanya pembengkakan pada bagian leher. "Lalu saya diarahkan untuk operasi. Katanya kalau saya dioperasi, kemungkinan sembuh 99,9 persen. Sisanya diserahkan kepada Tuhan. Karena dokter yakin, akhirnya saya coba dan akhirnya sembuh," ungkapnya. (cr3)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Lawan Stigma dengan Lari Marathon

Lifestyle

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

IKLAN