Rabu, 14 November 2018 08:44 WIB
pmk

Nusantara

Buronan Kasus Kredit Fiktif BRI Ditangkap Kejati Jambi

Redaktur: Redjo Prahananda

Asintel Kejati Jambi Dedie Tri Haryadi (kedua dari kiri).

INDOPOS.CO.ID - Tim Kejagung dan Kejati Jambi berhasil menangkap buronan (DPO) kasus kredit fiktif senilai Rp 10 milyar di BRI Unit Kayu Aro, Edi Warman bin Nasir di Padang, Sumatera Barat, Senin (6/8/2018). DPO Kejaksaan Negeri (Kejari) Sungai penuh ini sudah menjadi buron sejak tahun 2014 lalu.

Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi (Asintel Kejati) Jambi, Dedie Tri Haryadi mengatakan hampir lima tahun lalu, Edi Warman melarikan dirinya dinyatakan bersalah oleh putusan kasasi Makamah Agung (MA) dan yang bersangkutan melanggar pasal 49 ayat2b UU No 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No 7 tahun 1992 tentang perbankan.

“Setelah MA memutuskan yang bersangkutan bersalah, Edi langsung melarikan diri. Maka Kejati Jambi segera menetapkan yang bersangkutan sebagai DPO sejak lima tahun lalu. Dan hari kami sudah berhasil menangkap mantan Kepala BRI Unit Kayu Aro yang tersangkut kasus kredit fiktif senilai Rp 10 miliar lebih ini,” kata Dedie kepada INDOPOS, Senin (6/8/2018).

Dedie menjelaskan bahwa pihaknya akan membawa yang bersangkutan kembali ke Kejati Jambi untuk diproses lebih lanjut. “Setelah penangkapan ini, kami akan membawa Edi ke Kejati untuk menjalani proses lanjutan,” tegas Dedie.

Untuk diketahui Edi Warman merupakan mantan Kepala BRI Unit Kayu Aro periode November 2009 s/d 31 Desember 2009. Dalam kasus ini, yang bersangkutan telah memberikan persetujuan dan pemberian kredit kepada 366 debitur Kupedes di BRI Unit Kayu dengan tidak sesuai prosedur yang berlaku. Bahkan Edi juga telah membuat pencatatan palsu dalam pembukuan, dalam dokumen laporan kegiatan usaha, dalam transaksi dan rekening bank.

Padahal 366 debitur ini tidak pernah mengurus pinjamannya di BRI Unit Kayu Aro dan pinjaman tersebut diurus oleh perantara (calo) yang menyiapkan persyaratan administrasi yang kemudian juga diketahui sebagai pemakai uang pinjaman. Namun karena memang debitur tidak memakai uang yang mencapai Rp 10.140.393.370 tersebut, akhirnya pinjaman ini pun menjadi kredit macet.

Sedangkan kesalahan Edi, yang saat itu menjabat sebagai Mantri BRI Unit Kayu Aro tidak pernah mendatangi, mewancarai dan mengecek lokasi serta dokumen analisa kredit tersebut.

Edi sempat divonis bebas oleh Pengadilan Negeri Sungai larema dianggap perbuatannya tidak melanggar aturan yang ada. Namun pihak Kejari Sungai Penuh melakukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia dan akhirnya edi dianggap bersalah. Namun sebelum sempat dieksekusi, yang bersangkutan malah buron. (gin)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kasus-kredit-fiktif-bri #edi-warman-bin-nasir #dedie-tri-haryadi 

Berita Terkait

IKLAN