Jumat, 21 September 2018 09:19 WIB
pmk

Nasional

Gelar Kirab Satu Negeri, Ansor Jawab Tiga Masalah Besar Bangsa

Redaktur: Redjo Prahananda

INDOPOS.CO.ID - Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor baru saja menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas), 3 sampai 8 Agustus 2018.

Dalam rakornas dengan peserta Pimpinan Wilayah GP Ansor dan Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Banser seluruh Indonesia tersebut mengemuka beberapa topik terkait dengan situasi terkini, terutama dinamika di tahun politik.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, di tahun politik sekarang bangsa Indonesia ternyata saja masih terkungkung dalam tiga masalah besar, antaralain; masalah konsensus nasional, klaim keagamaan, dan masalah mayoritas lebih memilih diam.

Menurut Gus Yaqut, sapaan akrabnya, kelompok-kelompok meragukan konsensus nasional justru sekarang ini kian masih. Mereka mempertanyakan NKRI, Pancasila, UUD 1945. Mereka ingin mengganti ideologi dan dasar negara, misal, seperti yang dilakukan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Pemerintah memang telah membubarkan HKTI, tapi bukan berarti ancaman sirna. Tapi, justru berbahaya karena mereka menjadi sulit teridentifikasi. Karena, pemerintah cuma fokus pada langkah pembubaran saja.

“Kami sudah ingatkan, pemerintah jangan buru-buru membubarkan kalau belum disiapkan jaring pengaman” tegas Gus Yaqut, dalam pernyataannya usai Rakornas GP Ansor, Senin (6/8).

“Begitu juga dengan Jamaah Ansoru Daulah (JAD). Tapi saya belum mendengar langkah pemerintah pasca-pembubaran JAD. Tanpa jarimh pengaman, jelas bisa menimbulkan bahaya,” imbuh Gua Yaqut, didamping Waketum M. Haerul Amri, Sekjen Abdul Rochman, dan Kasatkornas Banser Alfa Isnaeni.

Masalah kedua, lanjut Gus Yaqut, klaim keagamaan. Menurut dia, terdapat sekelompok kecil masyarakat merasa paling benar dari sisi pemahaman agama. “Kalau tidak seperti mereka, mereka menganggap golongan tersebut salah, bahkan cenderung sesat.”

“Mereka menganggap golongan tersebut dianggap musuh dan harus diperangi. Realitas ini masih terlihat di tahun politik sekarang. Menurut saya, kondisi ini dipakai dalam kontestasi politik pemilihan presiden 2019.”

Masalah ketiga fenomena diam mayoritas atas situasi ini. "Sebagau mayoritas, kami memiliki kekuatan lebih untuk menghadapi kaum minoritas ingin merongrong NKRI. Saya berharap masyarakat jangan diam lagi menghadapi persoalan bangsa.”

“Jumlah ini besar daripada mereka. Ayo, jangan takut, bersama kita hadapi mereka. Apalagi mereka tidak punya jejak sejarah dalam mendirikan negara ini," tegas Gus Yaqut.

Sebab itu, lanjut dia, Ansor dan Banser bertekad tetap menjaga Indonesia dengan kebhinekaan. Bagi Ansor dan Banser, menjaga Indonesia sama dengan menjaga warisan kiai-kiai NU yang ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa, bersama dengan kelompok lainnya.

Dalam kaitannya dengan masalah tersebut, GP Ansor menggagas kegiatan “Kirab Satu Negeri” pada pertengahan September mendatang. Kegiatan ini semoga bisa menjadi trigger atau pintu masuk untuk memberi pemahaman kepada masyarakat Indonesia memiliki tiga masalah besar tersebut.

“Tujuan Kirab Satu Negeri salah satunya adalah untuk menyampaikan bahwa negeri yang kita cintai ini memiliki tiga masalah besar tersebut. Kalau diam saja, saya pastikan tidak perlu menunggu sampai tahun 2030 seperti disampaikan Pak Prabowo, dalam waktu tidak terlalu lama Indonesia benar-benar bisa bubar. Tentu kami tidak ingin NKRI bubar,” ucap Gus Yaqut.

Dia menerangkan, Kirab Satu Negeri akan diberangkatkan dari lima titik terluar Indonesia. Masing-masing titik nanti akan menghadirkan tokoh bangsa untuk mengingatkan arti pentinh persatuan dan kesatuan bangsa, serta kewajiban menjaga Indonesia dari segala rong-rongan. (rej)


TOPIK BERITA TERKAIT: #gp-ansor #yaqut-cholil-qoumas 

Berita Terkait

IKLAN