Minggu, 23 September 2018 05:34 WIB
pmk

Politik

Cawapres Prabowo Sudah Mengerucut Dua Nama

Redaktur: Redjo Prahananda

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

INDOPOS.CO.ID - Jika seminggu sebelumnya dinyatakan calon wakil presiden (Cawapres) Prabowo ada tiga nama, kali ini, jelang tiga hari penutupan pendaftaran nama wakil mantan Danjen itu sudah mengkerucut pada dua nama.

Siapa itu? Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani dengan nada bercanda, bahwa dua nama itu adalah orang Indonesia.

"Namanya orang Indonesia. Pokoknya dua nama yang kita kerucutkan," ungkap Murzani kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (6/8/2018).

Dirinya menjelaskan, bahwa dua nama itu hasil pembicaraan di internal Gerindra.  "Pembicaraan sampai dengan tadi malam wakil presiden yang akan mendampingi Pak Prabowo sudah mulai mengerucut dua nama, dan kita sedang terus bicarakan dengan partai-partai koalisi," ucapnya.

Untuk itu, Wakil Ketua MPR RI ini meminta Parpol koalisinya agar sedikit bersabar. "Di akhir, tanggalnya belum bisa kita pastikan mudah-mudahan bisa lebih capat. Tetapi tentu saja pembicaraan ini harus sabar, harus telaten, dan kita harus memiliki kesabaran untuk mendengar dari semua (pihak)," ujarnya.

Meski begitu, lanjut Muzani, pihaknya akan memutuskan calon wakil presiden pada akhir pendaftaran Pilpres 2019. "Mungkin kita akan mengambil keputusan wapres di akhir," katanya.

Menanggapi hal itu, Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mengharapkan dua nama itu adalah hasil Ijtima Ulama.

"Ya pastinya kami berharap Pak Prabowo mau menghormati keputusan Ijtima Ulama yang mengusulkan dua nama bakal cawapres, antara Habib Salim Segaf Aljufri dan Ustad Abdul Somad," kata Mardani kepada INDOPOS.

Dirinya mengaku bahwa putusan Ijtima adalah yang terbaik. Persoalan elektabilitas, baginya bisa digenjot jika sudah ditetapkan.

"Keputusan ulama pastinya sudah didasari pemikiran matang serta dengan doa. Nah, karena dua nama cawapres itu muncul tiba-tiba pastinya belum masuk penelitian lembaga survei. Dan kami PKS yakin dan mampu menggenjot elektabilitas baik UAS maupun Habib Salim," yakinnya.

Dirinya pun memberikan contoh bukti bahwa kerja PKS dan Gerindra selama di Pilkada ataupun mampu bangkit mengalahkan prediksi lembaga survei.

"Coba liat aja di Pilkada Jabar dan Jateng, paslon yang diusung oleh Gerindra dan PKS mampu meraih suara tinggi. Pasangan Asyik di Jabar dan Sudirman Said-Ida yang cuma diprediksi meraih delapan persen, ternyata naik drastis. Ini bukti bahwa elektabilitas bisa kami genjot, dan pastinya juga atas doa dan bantuan ulama," ucapnya.

Lebih lanjut, dirinya hanya mengingatkan kepada PAN dan Demokrat agar memberikan Kesempatan kepada PKS agar bisa menempatkan kadernya menjadi cawapres.

"Di Pilpres 2004 dan 2009, kami sukses menangkan SBY. Di 2014, kami dorong Prabowo-Hatta, bolehlah kami berharap kali ini di 2019 giliran PKS," imbuhnya menambahkan.

Mengenai elektabilitas, ternyata pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta Syarwi Pangi Chaniago memandang bahwa dua nama cawapres hasil Ijtima Ulama pada Minggu ( 29/7/2018) bisa ikut membantu Prabowo mengalahkan Jokowi.

"Paket mana yang dikeluarkan sebagai hasil rekomendasi dari Ijtima’ ulama GNPF yakni Salim Segaf Al-Jufri dan Ustad Abdul Somad (UAS) adalah dua nama yang punya basis massa dan dukungan kuat di akar rumput. Dan saya yakin bisa mengalahkan Jokowi," ujarnya kepada INDOPOS.

Meski begitu, karena Ustad Abdul Somad sudah menyatakan menolak maka, ucapnya, pilihan tinggal Prabowo-Habib Salim Segaf Aljufri.

Tidak hanya berpengalaman di dunia politik dan birokrasi, yakni sebagai Ketua Majelis Syura PKS, mantan menteri Sosial era SBY dan juga pernah menjadi duta besar RI untuk Arab Saudi dan Oman, Habib Salim juga merupakan keturunan Ulama besar Palu, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau lebih dikenal dengan nama “Guru Tua ” pendiri yayasan Al-Khairaat.

Lalu, kata Pangi, Habib Salim juga masih punya garis hubungan sangat dekat dengan Habaib dan juga dekat dengan kiyai NU, dan tokoh Muhammadiyah, cenderung lebih moderat dan mampu berkomunikasi dengan semua kelompok dan kekuatan Islam mana pun.

"Oleh karena itu, penerimaan (akseptabel) terhadap sosok ini cukup luas sehingga upaya menyatukan kekuatan Islam yang menjadi agenda politik dikalangan umat Islam akan menemukan momentum yang tepat dan kian nyata," yakinnya.

Rekomendasi dari ulama yang tergabung dalam GNPF ini, katanya, menjadi pertimbangan yang sangat penting bagi Prabowo, jika ingin memenangkan pilpres 2019 dengan dukungan kuat dari kalangan Islam dibandingkan dengan mengambil nama lain dari kalangan nasionalis seperti AHY (Agus Harimurti Yudhoyono)

"Bagaimana pun juga nama AHY masih sulit representasi (afialiasi) mengambil suara ulama. Representasi Ulama faktor determinan menentukan yang enggak bisa dipandang remeh dalam kemenangan, disaat menguatnya sintemen popolisme Islam," tukasnya.

Selain itu, ujarnya, Prabowo-AHY dinilai kombinasi yang kurang menjual dan kurang tepat, karena sama-sama militer, sama-sama nasionalis, ceruk segmen Prabowo-AHY juga sama irisannya.

"Kita bisa bayangkan dan mudah memprediksi (forecast) simulasi pertarungan peta lama misalnya Prabowo-AHY berhadapan dengan Jokowi-Mahfud MD. Sebaliknya akan keras benturan pertarungan dan sulit diprediksi apabila Prabowo-Salim Segaf head to head dengan Jokowi-Ma'ruf Amin ataupun dengan TGB atau Mahfud MD," bebernya menambahkan.

Pangi berpendapat Prabowo harus mengambil Habib Salim Segaf karena saat ini ada upaya serius dari poros Jokowi untuk merangkul kalangan Islam dengan pendekatan intensif kapada para Ulama, Santri, Cendikiawan Muslim dan Ormas Islam.

Jokowi ingin mengambil posisi tidak berseberangan dengan kekuatan Islam, sehingga perlahan tapi pasti Jokowi sudah berhasil memperluas basis dukungannya yang tidak hanya dari kalangan ceruk segmentasi nasionalis.

Jika ini tidak dibaca dengan cermat oleh kubu Prabowo maka peluang Jokowi untuk kembali memenangkan pilpres semakin terbuka lebar

"Oleh karena itu, dari beberapa pertimbangan di atas maka kombinasi Nasionalis-Religius sepertinya akan menghiasi persaingan dan kompetisi dalam pilpres 2019 mendatang. Pasangan Prabowo-Salim Segaf Al-Jufri akan menjadi lawan tanding yang sebanding, cukup keras dan sengit ujung kompetisinya. Artinya cukup merepotkan dan menyulitkan ruang gerak Jokowi dan pasangannya," tandasnya.

Sementara itu, pengamat politik Said Salahudin memprediksi dua nama cawapres yang dimaksud oleh Sekjen Gerindra adalah Habib Salim Segaf Aljufri dan AHY.

"Saya kira nama itu antara Habib Salim mewakili PKS dan AHY mewakili keinginan Demokrat," kata Said kepada INDOPOS.

Dirinya pun mencoba melakukan analisa itung-itungan politik siapa kira-kira yang berpeluang bisa memperoleh suara signifikan membantu Prabowo mengalahkan kubu Jokowi.

Said menjelaskan, setidaknya ada tiga faktor yang bisa dimajukan untuk memperbandingkan antara AHY dan Habib Salim. Pertama, dilihat dari latar belakang kedaerahan, Kedua, usia. Ketiga, latar belakang agama.

Walaupun lahir di Jawa, Habib Salim merupakan tokoh dari luar Pulau Jawa. Dia berasal dari Pulau Sulawesi seperti halnya Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Sementara AHY adalah orang Jawa tulen.

Didalam suatu pemilihan langsung, asal daerah seorang kandidat secara praktis masih sering dijadikan sebagai dasar pertimbangan oleh pemilih dalam memberikan suara. "Disinilah Habib Salim bisa memetik poin. Pemilih dari luar Pulau Jawa bisa ia pengaruhi. Ini soal yang lumayan penting," ujarnya.

Sebagai contoh, pada Pilpres 2014, pasangan Joko Widodo (Jokowi) - JK, menang di Sulawesi Tenggara (Sultra). Padahal, provinsi tersebut merupakan salah satu lumbung suara terbesar PAN yang mengusung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Gubernur Sultra pada saat itu merupakan Ketua PAN disana. Mayoritas kepala daerah dan wakil kepala di kabupaten/kota di provinsi itu juga dijabat oleh para tokoh lokal PAN disana.

Nah, mengapa Prabowo-Hatta bisa keok di Sultra sedangkan cawapresnya adalah Ketua Umum PAN? Kata Said, menurut masyarakat disana, salah satu penyebabnya adalah karena pemilih di Sultra lebih mementingkan faktor JK sebagai seorang tokoh dari Indonesia bagian timur dan latar belakang kedaerahannya sebagai orang Sulawesi.

"Oleh sebab itu, jika Habib Salim yang dipilih untuk mendampingi Prabowo, maka dia berpeluang untuk menambah suara bagi Prabowo di sejumlah provinsi yang ada di Pulau Sulawesi dan provinsi-provinsi lain di wilayah Indonesia bagian Timur," terangnya.

Di daerah asalnya Sulawesi Tengah (Sulteng), misalnya, Habib Salim berpeluang untuk membalas kekalahan Prabowo atas Jokowi di provinsi tersebut. Sebab, pada Pilpres 2014, Jokowi mengungguli Prabowo di provinsi tersebut.

Latar belakang daerah Habib Salim itu, ucap Said, tidak bisa disamai oleh AHY. Sebab jika Prabowo memilih AHY, pemilih di Pulau Jawa sudah diwakili oleh diri Prabowo sendiri yang juga berasal dari Jawa.

"Artinya, dilihat dari faktor kedaerahan, Habib Salim cenderung lebih menjanjikan bagi Prabowo dibandingkan dengan AHY. Duet Prabowo - Habib Salim mengombinasikan unsur Jawa dan Non-Jawa, sedangkan jika Prabowo berpasangan dengan AHY, terkesan menjadi Jawa sentris," tuturnya.

Sementara jika Habib Salim dibandingkan dengan AHY dari peluang keduanya meraup suara pemilih berdasarkan faktor usia, maka AHY tampaknya akan mendapatkan perhatian lebih dari pemilih muda dibandingkan dengan Habib Salim.

Pemilih milenial sebagai pemilih potensial AHY yang jumlahnya menurut Badan Pusat Statistik (BPS) sekitar 35 juta orang boleh jadi akan lebih tertarik untuk memberikan suaranya kepada AHY ketimbang Habib Salim.

"Walaupun tidak mungkin semua pemilih milenial akan memilih AHY, tetapi lewat jargon calon pemimpin masa depan, AHY bisa saja akan juga disukai oleh sebagian pemilih senior. Jadi suara dari pemilih muda bisa ia caplok, pemilih non-milenial pun bisa ia pengaruhi," ujarnya.

Namun demikian, katanya, Habib Salim tentu juga punya peluang untuk menggaet pemilih muda, terutama dari kalangan santri pondok-pondok pesantren.

Perbandingan ketiga, jika dilihat dari 'backgound' pemilih berdasarkan latar belakang agama, Habib Salim tampaknya lebih unggul dari AHY.

Sebagai orang yang memiliki nasab dengan Nabi Muhammad SAW, berlatar pendidikan doktor dari perguruan tinggi di Madinah, cucu dari seorang ulama ternama pendiri Al-Khairat, serta didukung oleh gerakan Islam politik semisal Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Habib Salim berpeluang besar untuk menggaet suara pemilih muslim.

Walaupun tidak semua pemilih muslim pasti akan memberikan suaranya kepada Habib Salim, tetapi dengan berbagai latar belakang keagamaannya itu dia jelas lebih unggul dari AHY dari aspek tersebut.

"Dari setidaknya tiga faktor perbandingan diatas itulah saya cenderung mengatakan Habib Salim dan AHY relatif berimbang. Nah tinggal bagaimana kecermatan Prabowo dalam memilih di antara dua orang itu," selorohnya.

Lalu, bagaimana dengan PAN? Kata Said,
walaupun selama ini PAN tidak cukup konsisten dalam mengusulkan nama cawapres, tetapi tidak mustahil pada acara Rapat kerja nasional (Rakernas) partai itu nantinya PAN justru membuat kejutan dengan memunculkan nama baru calon pendamping Prabowo.

"Nama Anies Baswedan atau Gatot Nurmantyo mungkin saja akan dimajukan sebagai kandidat resmi yang diusulkan oleh PAN. Dua nama itu bisa saja diajukan oleh PAN dalam rangka mencari jalan tengah, sekaligus untuk memecah kebuntuan dari persaingan ketat antara Habib Salim dan AHY yang sangat berat untuk diputuskan oleh Prabowo," jelas direktur eksekutif Sigma Indonesia ini.

Latar belakang Anies dan Gatot yang bukan berasal dari kader parpol manapun cukup argumentatif untuk bisa dijadikan sebagai alasan oleh PAN untuk menawarkan keduanya.

"Jadi bisa saja PAN akan bilang kepada parpol-parpol calon mitra koalisinya: Sudahlah, kita ambil saja tokoh alternatif yang tidak berasal dari PKS, Demokrat, dan juga dari PAN sendiri agar cawapres Prabowo bisa lebih cepat diputuskan," jelasnya.

Jika benar PAN akan menawarkan dua nama itu, maka bagi Gerindra nama Anies sepertinya akan lebih disukai ketimbang Gatot. Sebab, relasi politik antara Anies dan Gerindra sudah terbangun sejak partai itu mengusung Anies di Pilkada DKI Jakarta 2017.

PKS mungkin juga akan lebih tertarik dengan Anies ketimbang Gatot dengan alasan yang mirip dengan Gerindra.

"Tetapi sekali lagi, ini adalah prediksi jika PAN memang mengusulkan nama Anies atau Gatot, dan usulan itu dianggap menjadi solusi bersama oleh parpol-parpol koalisi dalam menentukan cawapres Prabowo," ucapnya.

Tetapi jika kondisi itu benar-benar terjadi, maka Demokrat, lanjut Said, akan lebih condong setuju kepada Gatot Nurmantyo. Sebab, sebagai orang yang pernah menjadi anak buahnya, SBY lebih mengenal dan cenderung lebih mempercayai Gatot ketimbang Anies.

"Karena tidak menemui titik temu, maka nama Gatot mungkin saja diusulkan oleh PAN dan PKS karena di kubu petahana saat ini saya dengar kabar bahwa nama Moeldoko kembali menguat untuk dipasangkan dengan Jokowi. Agar ada perang bintang antara Gatot dan Moeldoko yang sama-sama bintang empat. Sedangkan Prabowo cuma bintang tiga," bebernya menambahkan. (dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #cawapres-prabowo #partai-gerindra 

Berita Terkait

IKLAN