Selasa, 20 November 2018 06:56 WIB
pmk

Headline

Ubah Pola Pikir, Pemerintah Wajib Riset Geologi Laut dan Jaringan Seismograf Bawah Laut

Redaktur:

SISA HARTA- Nur Hasanah, warga Dusun Ranjok Utara, Desa Dopang, Kecamatan Gunung Sari Lombok Barat mengangkut berang-barang dalam rumahnya yang hancur akibat gempa 7.0 SR, Minggu malam (5/8). SIRTU/LOMBOK POST

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah Indonesia sebaiknya mengubah pola pikir dalam menghadapi ‘kepungan’ potensi gempa. Selama ini riset-riset gempa tak banyak beranjak. Kalaupun ada riset, itu tidak menjadi fokus utama institusi dan hasil usaha para peneliti dengan menggalang kerjasama dengan mitra luar negeri. Pemerintah harus melakukan riset geologi laut. Tujuannya, agar bisa mengetahui potensi tsunami jika terjadi gempa. Selain itu, perlu dibuat jaringan seismograph bawah laut.

“Bagaimana mungkin negara yang dikepung gempa dan gunung api sepertinya tak peduli? Kita baru terkejut kalau bencana itu datang,” kata Hery Harjono, ahli Ilmu Pengetahuan Kebumian, dalam siaran persnya, yang diterima INDOPOS, Senin (6/8).

Mantan Kapus Puslit Geoteknologi LIPI ini berpendapat, dari sisi geologi, pada dasarnya tidak ada yg aneh dari dua gempa Lombok yang datang hampir berurutan dalam beberapa hari ini.  Tahun 1979 Lombok dan Bali Utara digoncang gempa. Bahkan saat itu diikuti tsunami. Tahun 1992 gempa dan tsunami dahsyat menghantam Flores.

Kenapa gempa muncul disana? “Kalau kita cermati, di utara Flores hingga Lombok terdapat patahan atau sesar yg memanjang sejak dari Flores hingga Lombok. Patahan ini sebagai respons terhadap desakan Kontinen Australia,” kata Deputi Kepala LIPI Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian tahun 2006-2011 ini.

 Patahan yang disebut Flores Thrust atau Patahan Naik Flores ini menurut dia, berada di bawah laut. Kenampakannya dari rekaman seismik refleksi (alat untuk melihat anatomi kerak bumi) sangat jelas. Dari ujung timur Laut Flores, tampak dasar laut terpatahkan, dimana bagian utara menyusup ke bawah. 

Patahan itu dapat diikuti dengan jelas hingga Lombok. Di utara Bali, deformasi melemah atau tidak sekuat di bagian Lombok. “Kebetulan tahun 1981, saya ikut Ekspedisi Marine Geology - Rama 12 yang memetakan patahan ini. Ekspedisi dengan menggunakan kapal riset R/V Thomas Washington ini dipimpin oleh Prof. Eli  Silver dari University of California Santa Cruz,” kata Hery.

Data gempa, baik lokasi gempa maupun focal mechanism (mekanisme pusat gempa) ke dua gempa, menurut Hery, jelas berhubungan dengan keberadaan Flores Thrust.

Lantas apa yang penting (harus) dilakukan? Menurut Hery, sejatinya baru Sumatera yang kita ketahui tentang kegempaannya. Selebihnya tak banyak kita ketahui. Jawa pun hanya sedikit yg kita ketahui.

“Saya kira, kita perlu mempelajari deformasi yg terjadi di sepanjang Flores Thrust. Problemnya, letaknya ada  di bawah laut. Apa boleh buat. Kita perlu memetakan patahan itu lebih detil. Untuk itu perlu membuat jaringan (temporary)  OBS (Ocean Bottom Seismograph) untuk memetakan pola gempa, dan tentu saja kapal riset untuk memetakan anatomi patahan,” tambah Hery.

Studi deformasi dg menggunakan GPS amat perlu. “Kita beruntung ada beberapa pulau di utara NTB dan NTT yg memungkin kita menempatkan GPS,” pungkasnya.

Hal senada diungkapkan Deputi Bidang Ilmu Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Zainal Arifin. Untuk mengatasi bencana gempa yang mengepung wilayah Indonesia, menurut Zainal, pemerintah harus melakukan riset geologi laut. Tujuannya, agar bisa mengetahui potensi tsunami jika terjadi gempa. Selain itu, perlu dibuat jaringan seismograph bawah laut.

“ Ini agar kita bisa mempelajari perilaku kerak bumi. Dengan demikian kita dapat memitigasi bencana gempa,” jelas Zainal kepada INDOPOS, Senin (6/8).

Zainal mengungkapkan, pada setiap bencana alam gempa bumi, tidak sedikit menimbulkan korban material yang besar. Dari kerusakan permukiman hingga sarana fasilitas umum. Berkaca dari setiap kasus bencana gempa bumi menurutnya, pemerintah harus bisa menyiapkan kebijakan dalam penataan ruang dan bangunan tahan gempa.

“ Bisa saja rumah menggunakan bahan yang ringan. Tapi perlu dilakukan riset untuk menentukan kebijakan ruang dan bangunan tahan gempa,” katanya.

Hal yang sama diungkapkan Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto. Ia mengatakan, gempa yang terjadi di Lombok adalah peritiwa perulangan. Gempa serupa yang disebabkan oleh sesar Flores ini terjadi pada 26 tahun yang silam. “ Waktu itu gempa dan tsunami maumere tahun 1992,” bebernya.

Dengan kekuatan gempa 7.0 SR, menurut Eko, bisa terjadi perulangan dalam kurun waktu 30 hingga 50 tahun kemudian. Dengan catatan gempa disebabkan oleh pergerakan segmen yang sama. Pasalnya, pergerakan sesar yang sama, akan memungkinkan terjadi pergerakan bagian sesar atau segmen yang berbeda.

“ Kalau di Lombok kemarin, segmen yang bergerak sepertinya ujung barat Flores. Sementara pada tahun 1992 lalu yang bergerak segmen ujung timur sesar,” terangnya.

Ia menyebutkan, ada ribuan sesar di wilayah Indonesia baik di darat maupun laut. Namun sangat sedikit yang sudah diidentifikasi dan diketahui serta dipahami perilakunya. Seperti, salah satunya Sesar Flores. Sesar ini, menurutnya termasuk yang sudah diketahui keberadaannya meskipun belum detil.

“ Perilaku sesar Flores ini belum bisa dipahami,” ucapnya.

Ia menerangkan, Sesar Flores dalam istilah geologi disebut back-arc thrust atau sesar naik busur belakang yang memanjang di dalam laut dari utara pulau Flores hingga laut utara Lombok. Beberapa orang bahkan menduga bahwa sesar ini memanjang sampai laut di utara Pulau Jawa. Bidang sesar ini, masih ujar Eko miring ke arah Selatan hingga kedalaman beberapa KM, sehingga bagian bawah bidang sesar ini boleh jadi berada di bawah pulau-pulau Nusa Tenggara termasuk pulau Lombok.

“ Jadi yang digambarkan oleh BMKG sebagai pusat gempa yg berada di daratan pulau Lombok (episenter) adalah proyeksi vertikal dari sebuah titik di kedalaman bumi (hiposenter) dimana bidang sesar  (katakan) Flores. Pergerakan dimulai sebelum menyebar menjadi pergerakan bidang sesar. Melepaskan energi yang berubah menjadi energi gelombang gempa di permukaan bumi. Pergerakan bidang inilah yang menjadi sumber gelombang gempa,” bebernya.

Untuk mengantisipasi dampak gempa yang lebih luas, dikatakan Eko, pemerintah harus lebih masif melakukan kampanye perlunya setiap rumah. Bahkan setiap bagian di rumah untuk memiliki ruang aman. Ruang ini boleh sekedar perabot seperti meja atau tempat tidur yang diperkuat, sehingga bisa menjadi tempat untuk berlindung dari runtuhnya bangunan atau jatuhnya perabot saat gempa terjadi.

“Ruang ini bisa juga berupa ruang yang sengaja diperkuat supaya tidak roboh pada saat diguncang gempa, sehingga dapat dijadikan tempat berlindung,” ujarnya.

Ia mengatakan, masyarakat Indonesia sebagian besar telah memiliki rumah. Tetapi rumah tersebut tidak tahan terhadap guncangan gempa. Dengan alasan tersebut, menurutnya mustahil masyarakat bisa memperbaiki rumah mereka menjadi rumah tahan gempa. Karena, disebabkan faktor biaya.

“Jadi yang efektif itu, bagaimana mengkampanyekan ruang aman. Karena cara ini mudah, murah namun strategis secara nasional untuk mengurangi korban akibat gempa bumi,” katanya.

Pendapat lain diungkapkan Pengamat Manajemen Konstruksi dari Universitas Pelita Harapan Manlian Ronald A Simanjuntak. Menurut dia, bangunan yang aman bukanlah yang kaku. ”Kokoh di sini bukan yang kaku. Harus dinamis terhadap beban, seperti lentur mengikuti ayunan getaran” ucapnya, Senin (6/8).

Dikatakan, sudah banyak penelitian mengenai gedung-gedung tinggi lebih dari empat lantai yang tahan gempa. Kontruksi atas dan bawah sudah memiliki kajian. Namun yang diabaikan justru kontruksi bangunan berlantai kurang dari empat. Akibatnya sering didapati rumah-rumah penduduk yang roboh.

”Perlu dipelajari karakter gempanya sehingga ada kajian. Mungkin pemerintah menggandeng akademisi mempelajari karakter perwilayah sehingga memiliki formula bangunan tahan gempa sendiri,” tuturnya.

Ronald juga menghimbau agar pemerintah daerah memiliki menejemen penanggulangan bencana. Contohnya saja penataan ruang daerah baik yang rawan ataupun aman terhadap bencana. Pemda juga perlu membuat peraturan dan standar penanggulangan bencana yang mungkin berbeda di setiap wilayah.

”Harus ada sosialisasi berkala kepada masyarakat tentang materi manajemen penanggulangan bencana. Serta mengoptimalkan tim penanggulangan bencana yang mengikutsertakan masyarakat lokal,” tuturnya. (nas/esa/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #gempa-lombok #gempa-di-ntb #tsunami #gempa-bumi 

Berita Terkait

Tanah Labil, Rawan Gempa Bumi

Megapolitan

Wow, Ada ”Tsunami” di Karawang

Ekonomi

Kota Palu Terbanyak Korban Meninggal Gempa Sulteng

Headline

Pascagempa Sulteng 4 Daerah Masih Terisolasi

Headline

Yang Tersisa dari Musibah Tsunami di Sulawesi Tengah

Nasional

BNI Bangun 400 Huntara di Daerah Bencana

Nusantara

IKLAN