Sabtu, 17 November 2018 04:08 WIB
pmk

Headline

PAN Ngotot Zulhas Cawapres

Redaktur:

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan berbincang hangat dengan pendiri PAN, Amien Rais, saat menutup Rakernas III, Rabu (23/8) di Bandung-Jawa Barat.

INDOPOS.CO.ID - Partai Amanat Nasional (PAN) menyatakan komitmennya untuk mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Namun partai berlambang matahari terbit ini tetap menginginkan agar ketua umumnya, Zulkifli Hasan yang menjadi pendamping Prabowo sebagai cawapres. Jika tidak disetujui parpol koalisi, maka PAN akan bersikeras agar cawapres bukan tokoh parpol, termasuk Habib Salim Segaf Aljufri. PAN cenderung lebih memilih Ustad Abdul Somad (UAS).  

"Untuk Capres Insya Allah arah kita ke Prabowo. Cuma cawapres kita masih berharap Bang Zul (Zulkifli Hasan) sebagaimana hasil dari Rakernas 2017 lalu," kata Ketua DPP PAN Yandri Susanto, kepada INDOPOS, Senin (6/8).

Yandri menjelaskan, sampai detik ini,  PAN masih berkomitmen berada di koalisi Prabowo. Hanya saja dirinya mengakui, untuk nama cawapres masih diperbincangkan dengan tiga partai koalisi lainnya,  Gerindra,  PKS dan Demokrat.

Namun Yandri menegaskan, jika ternyata Zulhas tidak juga didukung oleh Demokrat dan PKS,  maka PAN akan bersikeras agar tidak ada kader dari kedua partai itu yang dipilih oleh Prabowo.

"Kalau memang Pak Zulhas tidak dipilih,  maka yang menjadi win-win solution adalah tidak ada nama AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) ataupun Pak Salim Segaf Aljufri. Harus non parpol. Dan pilihan terbaik bagi PAN adalah Ustad Abdul Somad (UAS), " tegasnya.

Namun di tempat terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PAN, Ahmad Yohan memberikan pernyataan cukup mengejutkan. Ia mengaku, partainya bisa saja pada akhirnya nanti mendukung Jokowi. Hal tersebut akan terlihat dari hasil rakernas PAN yang awalnya akan digelar 6-7 Agustus, tapi ditunda.

"Insya Allah PAN akan ambil keputusan yang terbaik untuk bangsa dan seluruh masyarakat," ungkapnya kepada wartawan, Senin (6/8).

Dia menuturkan, PAN menunda rakernas atas permintaan pengurus DPW tingkat kota, kabupaten dan provinsi. Dalam rakernas itu, pengurus daerah akan mengungkap pandangan politiknya di pilpres 2019, apakah akan mendukung Jokowi atau Prabowo.

Yohan bahkan tak membantah ada perdebatan di internal PAN antara mendukung Jokowi atau Prabowo. Termasuk Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais yang sejak awal ngotot tak ingin partai yang didirikannya mendukung incumbent.

"Ini menjadi arus besar yang tengah berkembang di PAN. Namun, semua masih didiskusikan. Rakernas tempat kami memastikan semuanya. Ini yang sedang kita bangun dan kuatkan. Mari bersama kita tunggu rakernas," jelas Yohan.

Yohan menegaskan, belum dapat dipastikan, kapan Rrakernas PAN akan digelar. Namun, soal peluang PAN dukung Jokowi atau Prabowo, peluang bersikap ke arah mana sama besar. "Masih sama-sama berpeluang," tegas Yohan.

Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan menampiknya. Dia menyatakan, penundaan rakernas tersebut dilakukan untuk memberi kesempatan daerah mempersiapkan aspirasinya menjelang rakernas.

Kendati demikian, Ketua MPR RI itu meminta seluruh DPW mengirimkan keputusan rapat pleno dalam amplop tertutup ke DPP PAN paling lambat pada hari ini, Senin (6/8).

 

Lebih lanjut, Zulkifli mengungkapkan, penundaan dilakukan sampai ada informasi selanjutnya. Mantan Menteri Kehutanan itu telah menginstruksikan seluruh pimpinan partai di tingkat provinsi bersiap menghadiri rakernas yang dalam waktu dekat akan diselenggarakan. "Seluruh DPW harus senantiasa siap," tandasnya.

Sebelumnya, PAN masih galau untuk mengusung capres dan cawapres pada pilpres 2019 mendatang. Alhasil, Partai yang dinakhodai Zulkifli Hasan itu menunda rapat kerja nasional (rakerna) yang agendanya terkait hal tersebut.

Bagi pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli,  ia melihat ada unsur kegamangan dari PAN. Sehingga harus menunda pelaksanaan Rakernas.

"Tidak dipungkiri PAN masih belum ada kepuasan dari pertemuan antar koalisi Prabowo. Jadi karena belum ada titik temu itulah Zulkifli selaku pimpinan partai harus menunda Rakernas," ucap Lili kepada INDOPOS, Senin (7/8).

Apakah PAN bisa pindah koalisi? "Nah,  inilah yang saya maksud dengan kegamangan PAN. Di satu sisi,  daripada Zulkifli tak bisa jadi cawapresnya Prabowo, maka mereka lebih baik mendukung incumbent yang memang dalam empat tahun ini berkoalisi di pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla," ujarnya.

Tapi di sisi lain,  ucapnya,  Amien Rais selaku pendiri PAN masih kekeh ingin berada di barisan Prabowo.

Tetapi jika ingin tetap berada di koalisi Prabowo,  maka solusi terbaik,  lanjutnya, cawapresnya bukanlah orang partai, baik dari PAN,  Demokrat maupun PKS.

"Ya memang cara terbaik adalah tidak ada orang partai di cawapresnya Prabowo.  Tapi siapa orangnya,  pastinya harus yang memiliki elektabilitas tinggi,"  terangnya tanpa mau menyebut nama. (dil/aen)


TOPIK BERITA TERKAIT: #pilpres-2019 #pan #siapa-penantang-jokowi 

Berita Terkait

IKLAN