Minggu, 18 November 2018 11:58 WIB
pmk

Headline

Ekses Gempa Bisa Dihitung Sekejap

Redaktur:

RATA DENGAN TANAH-Marsan, warga Dusun Ranjok Utara, Desa Dopang, Kecamatan Gunung Sari Lombok Barat mengangkut televisi miliknya setelah rumahnya yang hancur akibat gempa 7.0 SR, Minggu malam (5/8). SIRTU/LOMBOK POST

INDOPOS.CO.ID - Bencana gempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa hari terakhir membuat Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) harus lebih waspada. Salah satunya dengan meningkatkan kemampuan dalam memonitoring gempa. Ini perlu dilakukan untuk meminimalisasi kejadian serupa terulang.

BMKG sudah  menambah jumlah sensor gempa. Dengan  merapatkan jaringan seismograf hingga perluasan penyebaran informasi. “ Target kami bisa menciptakan sistem informasi gempa dan informasi peringatan tsnami yang cepat dan akurat,” ujar Kepala Bidang Mitogasi BMKG Daryono kepada INDOPOS, Selasa (7/8).

Tercatat, hingga saat ini sudah terpasang 170 sensor gempa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Untuk mengurangi dampak gempa, menurutnya BMKG menargetkan penambahan sedikitnya 1000 sensor gempa.

Daryono mengungkapkan, beberapa penelitian perihal gempa terus dilakukan oleh BMKG. Seperti penelitian pemetaan guncangan akibat gempa (PSHA, DSHA) dan kajian pemetaan efek tanah setempat yang bertujuan untuk mengetahui respon gempa di berbagai tempat. Selain itu juga dilakukan penelitian terkait pemetaan percepatan tanah, akurasi penelitian pusat gempa hingga yang berkaitan bangunan.

“ Ini untuk meng-assesmen keamanan wilayah,” ungkapnya.

Menurut Daryono, implementasi dari hasil penelitian diserahkan sepenuhnya kepada semua pengguna. Seperti PT Angkasa Pura, PT PLN, PU dan beberapa pengembang properti. Pun demikian,  Daryono mengakui, hingga saat ini belum ada riset geologi dan jaringan seismografi bawah laut. Padahal, riset ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan akurasi ketepatan dan kecepatan informasi terkait gempa dan tsunami.

“ Sebaiknya pemerintah mendorong dan memfasilitasi monitoring  di bawah laut,” katanya.

Namun demikian, Daryono menegaskan, selama ini informasi gempa dan potensi tsunami yang diberikan BMKG kepada masyarakat sudah tepat dan cepat. Karena, data dan informasi yang diperoleh BMKG berdasarkan modeling. Salah satu ketepatan dan kearutan data modeling adalah gempa yang terjadi di Lombok.

“ Gempa Lombok kami buktikan dengan menerapkan modeling. Dengan status waspada tsunami setinggi 0,5 Meter. Kami buktikan dengan mengukur permukaan air laut, adanya tsunami di Lombok, Sumbawa dan sekitar Bali,” terangnya.

Daryono menyebutkan, untuk mendukung modeling tsunami BMKG memiliki database skenario tsunami sebanyak 16500. Jadi dengan kekuatan gempa yang muncul, menurut Daryono bisa diperkirakan potensi-potensi tsunami turunannya.

“ Dalam hitungan menit saja kami sudah bisa menentukan dampak dari gempa itu,” ucapnya.

Ia menambahkan, dari sekian penelitian yang dilakukan oleh BMKG beberapa hasilnya digunakan sebagai rujukan pembangunan kawasan aman gempa. Seperti assemen tsunami yang diterapkan di pembangunan Bandara Udara di Kulon Progo, DIY dan beberapa bendungan-bendungan besar di Indonesia.

“ Jadi semua informasi dari survei kita serahkan kepada perencana pembangunan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, penelitian untuk pembangunan rumah dan kawasan tahan gempa masih sangat sedikit. Oleh karena itu pemerintah harus secara serius menggalakkan riset tersebut.

“ Masalah utama bencana gempa ya pada aplikasi struktur rumah tahan gempa. Selama ini kita sudah memberikan informasi dasar membuat struktur rumah tahan gempa. Pekerjaan Rumah (PR) pemerintah bagaimana mengimplementasikannya,” ujarnya.

Ia menuturkan, tidak mudah untuk melakukan sosialisasi dan training kepada masyarakat luas tentang rumah tahan gempa. Namun demikian, pemerintah sercara bertahap harus memberikan pembelajaran dan training kepada kontraktor, pembuat rumah dan masyarakat luas.

“ Yang minim adalah mengaplikasi hasil penelitian rumah tahan gempa. Padahal beberapa peneliti sudah mengembangkan rumah tahan gempa,” katanya. (nas)


TOPIK BERITA TERKAIT: #gempa-lombok #gempa-bumi 

Berita Terkait

Tanah Labil, Rawan Gempa Bumi

Megapolitan

Kota Palu Terbanyak Korban Meninggal Gempa Sulteng

Headline

Pascagempa Sulteng 4 Daerah Masih Terisolasi

Headline

Yang Tersisa dari Musibah Tsunami di Sulawesi Tengah

Nasional

BNI Bangun 400 Huntara di Daerah Bencana

Nusantara

IKLAN