Jumat, 19 Oktober 2018 08:48 WIB
pmk

Opini

Ambil Habib Salim, Atau Deadlock

Redaktur:

Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Pendaftaran pilpres tinggal empat hari lagi. Jika tidak diperpanjang. PKS makin PeDe. Percaya diri. Setelah surut perjuangan untuk dapat jatah cawapres Prabowo, kini ada angin segar. Ijtima' Ulama beri rekomendasi Habib Salim Segaf. Rekomendasi nyawapres. Ketua Dewan Syura PKS ini dapat dukungan ulama. Tepatnya, Ulama Ijtima' dibawah komando Habib Rizieq. Sesama habaib.

PKS kini tidak sendiri. Ada ulama dan umat di belakangnya. Pressure ke Prabowo makin kuat. "Lo mesti ambil gue. Gak ambil gue, loh tamat. Ditinggalkan ulama dan umat." Begitulah kira-kira semangatnya. Namanya aja "kira-kira".

Prabowo mau ambil? Belum tentu. Masih ada Ustaz Abdussomad (UAS). UAS jadi jalan keluar bagi Prabowo untuk menghindari pressure PKS. Memilih UAS, Prabowo akomodir rekomendasi Ijtima' Ulama. Sebab, UAS juga direkomendasi Ijtima' Ulama sebagai cawapres. UAS mau?

Ada dua pendapat soal mau tidaknya UAS. Namanya juga politik. "Tidak mau" bisa ditafsirkan "mau". Atau sebaliknya. Bergantung juru tafsir. Bergantung juga siapa pemain dan kepentingan di belakang juru tafsir itu.

Ada dua kelompok kekuatan yang sedang mengejar UAS. Pertama, kelompok yang ingin UAS mundur. Sehingga, hanya Habib Salim yang berpeluang menikmati hasil rekomendasi Ijtima. Kok menikmati? Salah ya? Perlu diperhalus, "dapat amanah". Kata ini yang mungkin lebih tepat. Tak ada pilihan bagi Prabowo kecuali mengambil Habib Salim Segaf sebagai cawapres. Itupun jika Prabowo konsisten terhadao janji politiknya saat pidato di acara pembukaan Ijtima'. Dalam beberapa kali wawancara TV, Prabowo belum beri sinyal itu.

Kedua, kelompok yang ingin UAS maju. Kelompok ini menganggap UAS punya efek kejut. Bisa menambah suara Prabowo yang stagnan.

Dua kelompok ini terus bergerilya, bersaing dan adu kuat untuk mendapatkan empati dan simpati UAS. Kali ini, UAS yang kerepotan. Merasa dipressure. Berada diantara dua keinginan kelompok yang bersaing. Terima, dianggap ambisi dan bersaing dengan PKS. Apalagi sejumlah tokoh dari kelompok ini minta UAS segera buat pernyataan menolak. Kalau nolak rekomendasi, mengecewakan harapan kelompok yang ingin UAS maju.

Masing-masing kelompok klaim sudah dapat info dari UAS.. UAS mau! Siap! Pasti terima! Kata kelompok yang ingin UAS maju. Meyakinkan. UAS nolak! Gak mau! Emoh! Kata kelompok yang ingin Habib Salim maju.

Masing-masing kelompok membangun dan mengembangkan argumentasinya. Logis atau tidak logis, itu nomor dua belas. Yang penting ada argumen. Kemas sedemikian rupa, agar meyakinkan. Lebih meyakinkan lagi jika ditambah kalimat: "ini dari sumber A1. Semakin mantabs.

Satu hal yang orang lupa, bahwa Prabowo-Habib Salim atau Prabowo-UAS belum terukur elektabilitasnya. Mana yang lebih kuat diantara keduanya dari data survei. Ini nampaknya tidak dihitung sama sekali. Hanya kira-kira. Duga-duga. Mau bertarung di pilpres kok duga-duga. Bagaimana mau menang bro?

Kelompok Habib Salim mengandalkan mesin PKS. Harus diakui, srlain PDIP, hanya PKS yang punya mesin politik yang solid. Tapi, berapa besar jumlah suara PKS dalam prosentase suara nasional? Ini juga mesti jadi analisis tersendiri.

Kelompok yang ingin UAS maju mengandaikan popularitas UAS. Seolah kalau populer itu menang. Almarhum Kiyai Haji Zainuddin MZ sangat populer. Bahkan punya julukan da'i sejuta umat., Buat partai? Gak laku.

Popularitas memang penting, tapi untuk sampai pada level elektabilitas, atau dipilih, ada tangga akseptabilitas. Prosesnya; dikenal, disukai, lalu dipilih. Dikenal, belum tentu dipilih. Bahkan disukai, belum tentu juga dipilih. Dia bagus kalau ceramah. Menyentuh hati. Pas dengan kehidupan sekarang. "Gue banget". Cocok jadi ustaz/mubaligh/da'i/kiyai . Tidak cocok jadi cawapres. Sayang kalau dunia dakwah dia tinggalin hanya untuk nyawapres  Nah... Ini contoh disuka, tapi gak dipilih. Semua mesti terukur oleh data survei. Bukan sekedar modal semangat, asumsi dan kira-kira.

Disinilah partai biasanya jeli. Tim Prabowo pasti telah menghitung. Punya kalkulasi politiknya sendiri. Dan sampai tulisan ini diturunkan belum ada info valid Prabowo mau UAS. Sebelumnya, Prabowo nolak cawapres dari PKS. Termasuk Habib Salim. Bisa berubah? Tak ada yang tak bisa berubah

Kelemahan pendukung, relawan dan tim hore pada umumnya adalah punya berlimpah semangat dan ekspektasi (yang kadang-kadang over dosis), tapi tanpa memiliki data pendukung yang memadai. Apalagi kalau sudah bawa-bawa ayat dan hadis. Seolah Tuhan siap memenangkannya. Tak jarang, ayat dan hadis yang dikutip tak tepat. Bicara politik, kutipan ayatnya tentang takdir dan doa. Gak nyambung. Akhirnya ada yang bilang: survei Rico Marbun, Eep Syaefullah dan Deny J.A lebih akurat dari pada ayat. Salah! Ayat selalu akurat. Tapi ayat yang mana dulu yang dikutip? Pas tidak? Kalau ada ayat gak akurat, bukan ayatnya. Tapi salah ambil ayatnya.

Pendukung seringkali menggunakan variable suka dan tidak suka. Like and dislike. Bukan pertimbangan kalah atau menang. Apalagi jika masuk unsur kekuatan kelompok kepentingan. Makin bias. Lebih bias lagi kalau melibatkan unsur donatur. Keadaan ini seringkali terjadi pada kerumunan yang tidak memiliki kredibilitas politik, tapi diberi ruang untuk menentukan keputusan-keputusan politik. Hasilnya seringkali fatal.

Dari semua keadaan ini, Prabowo dan UAS sama-sama terjebak dalam tekanan. Ijtima' Ulama yang semula diharapkan jadi solusi, tapi malah jadi masalah baru buat Prabowo. Masalah bagi UAS? Bergantung. Tanyakan pada UAS. Jangan tanya pada tafsir dua kelompok di atas.

Jika UAS nolak, tak ada pilihan bagi Prabowo untuk tidak ambil Habib Salim Segaf. Prabowo mau? Sudah berubah pikiran? Ada data survei baru?

Jika Prabowo tidak mau, koalisi akan deadlock. Rekomendasi ulama tak dianggap. Diabaikan karena dianggap tak bermutu. Wajah ulama dipermalukan. Terutama Habib Rizieq. Prabowo ambil AHY? Sangat berisiko. Prabowo kehilangan PKS dengan semua mesin politiknya. Juga kehilangan dukungan ulama dan umat. Akibatnya bisa fatal buat Prabowo. Ambil Budi Gunawan atau Puan Maharani? Nama-nama ini kabarnya juga ada dalam daftar alternatif cawapres Prabowo. Bisa lebih fatal lagi. Menurut ulama. Benarkah?

Jakarta, 7/8/2018


TOPIK BERITA TERKAIT: #tony-rosyid 

Berita Terkait

Mengkritisi Setahun Anies di Jakarta

Opini

Ratna Sarumpaet, Rekayasa Siapa?

Opini

Dicaci, Prabowo Berpeluang Jadi

Opini

Prabowo, Korban Yang Disiapkan?

Opini

Ratna Sarumpaet, Antara Dusta dan Ancaman

Opini

IKLAN