Rabu, 14 November 2018 06:36 WIB
pmk

Headline

Pegang Ijtima Ulama

Redaktur:

Foto: Charlie Lopulua/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID -  Kabar mengejutkan datang dari koalisi partai politik pengusung Prabowo Subianto jelang penutupan pendaftaran calon presiden dan wakil presiden pada Jumat (10/8/2018). Aroma perpecahan mulai tercium. Bukan tidak mungkin, aroma perpecahan ini mengubah arah konstelasi pilpres 2019. 

Presiden Partai Keadilan sejahtera (PKS) Sohibul Iman menegaskan bahwa pembentukan poros ketiga masih sangat mungkin terjadi.  Mengingat tiga hari penutupan pendaftaran capres dan cawapres,  partai koalisi belum menemui titik terang.

"Pak Prabowo sudah punya bola. Cuma bola nya belum dilempar-lempar juga. Jadi kalau ditanya apakah mungkin ada poros ketiga, mungkin saja itu terjadi," kata Sohibul kepada wartawan usai menggelar Rapat Istimewa Majelis Syuro DPP PKS di Kantor DPP PKS,  Jakarta,  Selasa (7/8/2018) malam.

Tanpa ragu-ragu,  Sohibul pun mengaku bahwa poros ketiga bisa terbentuk antara PKS,  PAN dan PKB. "Yang masih mungkin adalah bersama PAN dan PKB. Tetapi kan PKB sampai saat ini masih ada di dalam pemerintahan (kubu Jokowi), dan kita lihat saja pada realitas politik nantinya bagaimana, " ucapnya.

Kendati demikian, pembicaraan antara PKS dan PKB masih terbangun.  Lantas, apakah munculnya nama Agus Harimurti Yudhoyono dan Anies Baswedan ditengarai sebagai pemicu pecahnya gabungan partai yang dinamai ‘Koalisi Umat’ ini ? Sohibul pun menjawab bahwa PKS masih berpegang pada rekomendasi Ijtima Ulama.

"Ya kita tidak mau berandai-andai. Yang pasti pegangan kami saat ini adalah rekomendasi Ijtima Ulama yang memutuskan Habib Salim Segaf Aljufri dan Ustad Abdul Somad," ucapnya.

Sohibul mengatakan, jika kedua nama di atas tidak dipilih,  PKS akan tetap mempertahankan nama kader lainnya yang masuk dalam sembilan nama sesuai putusan Majelis Syuro pada awal tahun ini. Antara lain, mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher), Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, mantan Presiden PKS Anis Matta, Irwan Prayitno, Presiden PKS saat ini Sohibul Iman, Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri, mantan Menkominfo Tifatul Sembiring, Muzzamil Yusuf, dan Mardani Ali Sera.

"Taruhlah pertanyaan Anda (wartawan) tidak memilih Ustad Salim dan juga  Ustad Somad maka di situlah kembali akan muncul capres-cawapres lain dari sembilan nama dan itu menjadi hidup. Dan tidak lagi mengerucut pada nama Habib Salim Segaf," jawabnya.

Dalam rapat istimewa Majelis Syuro DPP PKS ini,  Sohibul menjelaskan telah dihasilkan tiga keputusan. Pertama adalah PKS akan terus memperjuangkan aspirasi masyarakat Indonesia yang menginginkan adanya perubahan kepemimpinan nasional secara demokratis dan konstitusional pada pemilihan presiden Republik Indonesia 2019.

"Yang kedua,  kami mengapresiasi dan mengawal hasil rekomendasi Ijtima ulama  GNPF ulama yang telah menetapkan 2 pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Republik Indonesia untuk periode 2019 - 2024,  yakni Habib Salim Segaf Aljufri dan Ustad Abdul Somad," tukasnya.

Lalu keputusan ketiga adalah musyawarah Majelis Syuro memberikan mandat kepada dewan pimpinan tingkat pusat atau DPTP yang merupakan badan pekerja majelis Syura untuk membangun komunikasi dalam rangka pembentukan koalisi pilpres 2019 bersama para mitra koalisi. "Nanti DPTP inilah yang akan membangun komunikasi koalisi untuk Pilpres,"  jelasnya.

Siapa saja anggota DPTP?  Sohibul pun menyebut delapan nama.

"Ada Ketua Majelis Syuro Ustadz Salim Segaf Aljufri selaku Ketua (DPTP) dan wakilnya adalah Bapak Hidayat Nur Wahid. Ada pula Sekretaris Majelis Syuro Bapak Untung Wahono,  Ketua dewan syariah pusat Pak Surahman Hidayat,  Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Bapak Suharna Surapranata.  Ada saya selaku presiden PKS Muhammad Sohibul Iman,  Sekjen Pak Mustafa Kamal dan kedelapan adalah  bendahara umum yaitu bapak Mahfudz Abdurrahman," tutup Sohibul.

Sementara di tempat yang sama,  Aboebakar Alhabsyi menegaskan bahwa poros ketiga mungkin saja terjadi. Namun dia mengaku PKS tidak akan bergabung ke Jokowi.

"Ya enggak mungkin lah. Kan tadi sudah disebutkan bahwa kami ingin ada perubahan kepemimpinan nasional," singkatnya.

Sementara,  Sekjen PAN Eddy Soeparno ketika dihubungi terkait poros ketiga dengan PKS hanya menjawab belum mendengar rencana itu. "Saya belum dengar Mas,"  singkatnya kepada INDOPOS.

Di tempat berbeda,  Sekjen Partai Bulan Bintang (PBB) Afriansyah Fery Noer ketika dihubungi INDOPOS mengaku siap bergabung dalam poros ketiga jika PKS tetap mempertahankan nama cawapres berdasarkan rekomendasi Ijtima Ulama.

"Kami PBB berpegang teguh pada hasil Mukernas yang memutuskan Pak Yusril Ihza Mahendra sebagai capres-cawapres atau rekomendasi Ijtima Ulama. Dan jika ada poros ketiga demi hal itu,  kami siap bergabung," jelasnya.

Meski begitu,  Afriansyah mengakui bahwa PBB sifatnya hanya sebagai pengikut dari koalisi partai-partai yang memiliki kursi di DPR RI.

"Kami sangat sadar tidak memiliki suara di DPR. Jadi kami hanha mengikuti koalisi yang mendukung Ijtima Ulama. Dan kami pastikan PBB tidak ke koalisi Jokowi," pungkasnya.  (dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #ijtima-ulama #pan #pkb #pks #prabowo-subianto #partai-gerindra 

Berita Terkait

Caleg PAN Perjuangkan Ekonomi Warga

Politik

PAN Segera Umumkan Pengganti Taufik

Nasional

Tak Cerminkan Sikap Pahlawan

Politik

Merah Putih di Bendera PKB Dipersoalkan

Headline

Jangan sampai Melakukan Kesalahan Fatal

Politik

IKLAN