Minggu, 23 September 2018 05:46 WIB
pmk

Ekonomi

Dorong Startup Ramai-Ramai Melantai di Bursa

Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Meski perusahaan rintisan atau startup terus bertumbuhan di Indonesia, tapi yang melantai di bursa baru sedikit. Padahal pihak BEI mempermudah persyaratan bagi perusahaan startup untuk go public. Namun hingga saat ini baru dua perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Yakni,  PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) dan Perusahaan distribusi digital, M Cash Integrasi (MCI). 

”Pada tahun ini rencananya akan bertambah satu lagi perusahaan startup yang akan IPO atau go publik. Kami optimistis nantinya akan banyak startup yang go public," ujar Program Director BEI (IDX) Irmawati Amran, Senin (7/8). Perusahaan yang akan melantai di bursa yakni Passpod.  yang Bergerak dibidang penyediaan perangkat untuk wifi. "Ini perusahaan binaan dari IDX," jelas Irmawati.

Ia menambahkan saat ini ada 40 perusahaan rintisan yang dibina IDX. Mereka bergerak dibidang  e-commerce, digital marketing, fintech dan sebagainya. "Kita ada tempatnya yakni  di Bapindo, lantai 16. Dibantu sama Bank Mandiri," jelas Irmawati.

 Menurutnya dengan melakukan initial public offering (IPO) atau go publik banyak keuntungan yang didapat. Misalnya secara finansial dan juga kepercayaan atau gengsi perusahan juga naik. "Jadi kami selalu mendorong perusahaan startup untuk IPO. Pengembangan tidak harus untung. Tapi proyeksi untung, bisa dicatatkan ke bursa.  Aset minimal Rp 5 miliar," jelas Irmawati.

Ia menambahkan, pihaknya juga ada MoU dengan Bekraf. Untuk sama-sama membina  startup. Hingga bisa IPO."Kita cari startup yang punya potensi yang besar, kalau kita lihat potensi market besar kita bina. Selain itu,  foundernya juga harus punya ambisi yang bagus," jelas Irmawati.

Disinggung mengapa perusahaan besar seperti Gojek, belum go publik, Irmawati mengatakan mereka mungkin sedang mencari waktu saja. "Saya lihat trennya di luar negeri,  kalau tidak akuisisi yah go publik. Untuk Go Jek sudah ada  pembicaraan dengan BEI. Kami sih inginya perusahaan startup yang sudah besar IPO," pungkas Irmawati.  

Dikatakan, BEI sebenarnya mempermudah perusahaan starup untuk go public. Di antaranya perusahaan yang belum mendapatkan keuntungan boleh mencatatkan saham di BEI. Tetapi, perusahaan tersebut harus mampu menyatakan proyeksi keuntungan dua tahun ke depan. Kemudanan tersebut guna mendorong perusahaan-perusahaan startup mau mencatatkan saham mereka atau IPO di Bursa Efek Indonesia.

Adapun syarat untuk start up yaitu cukup mencatatkan intangible assets atau aset tak berwujud Rp 5,1 miliar. Irmawati menyarankan generasi muda untuk ikut dalam program pendidikan inkubator milik BEI. Program tersebut berisi cara membuat perusahaan, cara membuat proyeksi, cara mengatur keuangan, dan diperkenalkan kepada investor.

Sementara itu, dua perusahaan yang sudah go publik, sahamnya bergerak dinamis. Kioson merupakan perusahaan teknologi penyedia jasa online-to-offline (O2O). Dalam aksi korporasi pada (5/10/2017)  perseroan melepas saham ke publik sebanyak 150 juta saham atau sekitar 23,07 persen dari total modal. Itu  ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan IPO.

Harga saham KIOS ditawarkan senilai Rp 300 per saham. Dengan demikian, perseroan meraih dana IPO sebesar Rp 45 miliar. Sementara perusahaan distribusi digital, M Cash Integrasi (MCI) menetapkan harga penawaran perdana saham alias initial public offering (IPO) sebesar Rp 1.385 per saham.

Dengan harga IPO tersebut, anak usaha PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN) ditaksir dapat mengumpulkan dana sebesar Rp 300 miliar. Dalam debut perdananya, M Cash menawarkan 216 juta saham atau setara 25 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Lantas bagaimana kinerja perusahaan tersebut? PT Kioson Komersial Indonesia (Kioson) berhasil membukukan laba sebesar Rp 4,76 miliar hingga semester pertama 2018 berbanding terbalik dengan periode sama tahun lalu yang mengalami kerugian sebesar Rp 5,88 miliar.

Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), startup ini berhasil meraih pendapatan sebesar Rp1,27 triliun sepanjang semester pertama 2018. Capaian ini melonjak dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 47,7 miliar. Pendapatan dari Kioson sepanjang semester pertama 2018 ditopang oleh produk digital sebesar Rp1,2 triliun, e-commerce (Rp5,38 miliar), Payment Point Online Bank (PPOB) sebesar Rp 647 miliar.

Penjualan yang melebihi 10 persen  pada semester pertama 2018 adalah dari Kudo Teknologi Indonesia. Kioson di 2018 merancang lima strategi utama yang akan dijalankan. Yakni, penambahan jumlah mitra, penambahan jumlah produk dan layanan, inovasi layanan konsumen di chanel online dan offline, peningkatan jumlah pengguna dan improvisasi teknologi.

Sedangkan PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp 45,05 miliar di semester pertama 2018 melesat 11,7 kali dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 3,79 miliar. Dikutip dari keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), M Cash sepanjang semester pertama 2018 berhasil meraih pendapatan Rp1,839 triliun naik 287,5 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp474,86 miliar.

Laba usaha yang diraih sepanjang semester pertama 2018 sebesar Rp 43,9 miliar terbang dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 4,07 miliar. M Cash berhasil meningkatkan saluran distribusi dan sinergi dengan semua portfolio yang diakuisisinya sehingga kinerja operasional kinclong di pertengahan tahun.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Satrio Utomo mengatakan, walaupun saham perusahaan rintisan itu bergerak dinamis,  masih belum masuk radar fund manager. "Mereka masih melihat market size perusahaan tersebut. Nilai saham naik turun, itu biasa. Sehingga masih kurang dilirik. Berbeda misalnya kalau starup yang sekarang. Seperti Traveloka, Gojek atau Tokopedia. Mungkin investor akan banyak yang tertarik memborong saham," pungkasnya. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #bursa-efek-indonesia 

Berita Terkait

IKLAN