Sabtu, 22 September 2018 10:14 WIB
pmk

Ekonomi

Banyak Pekerja Belum Memilih Sertifikat Profesi

Redaktur: Ali Rahman

TIM dari ajar.id dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) tengah memberikan pemaparan mengenai program sertifikasi profesi perhotelan dan restoran di Jakarta, Rabu (8/8/2018).

INDOPOS.CO.ID - Saat ini, masih banyak pekerja di Indonesia belum memilih sertifikat profesi untuk menunjang karier mereka. Padahal keberadan sertifikasi sangat berpengaruh bagi masa depan para pekerja.

Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Sumarna Abdurrahman mengatakan, saat ini ada sekitar 280 ribu orang yang telah mengambil jenjang sertifikasi di berbagai bidang. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 persen merupakan sertifikasi untuk jenjang perhotelan.

"Angka untuk jenjang perhotelan termasuk yang paling tinggi bila dibandingkan dengan sekitar 100 jenjang sertifikasi keluaran lembaga independen yang ditunjuk pemerintah," ujar Sumarna di Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Sumarna menyebutkan tingginya animo dunia perhotelan untuk mengikuti program sertifikasi karena ada dorongan dari perusahaan-perusahaan perhotelan, khususnya dari hotel-hotel dengan peringkat bintang tiga ke atas untuk meningkatkan kualitas dan layanan hotel.

Para pelaku usaha perhotelan umumnya memiliki perencanaan yang tersusun sehingga memiliki kepastian dalam jenjang karier. Bahkan para perusahaan perhotelan banyak yang membiayai karyawannya untuk mengambil program sertifikasi.

"Khusus untuk perhotelan dan restoran bintang tiga ke atas, mereka juga memiliki program sertifikasi yang dibuat oleh internal perusahaan dengan mengacu pada program BNSP," katanya.

Adapun, dalam menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) khusus untuk program sertifikasi di dunia perhotelan kurikulum pendidikan serta bobot uji kompetensinya telah disamakan di 10 negara ASEAN.

"Panduan uji kompetensi tersebut diadopsi dari layanan perhotelan di Indonesia. Sementara Indonesia sendiri dalam menyusun layanan perhotelan mengadopsi dari Australia. Jadi diakui atau tidak untuk standarisasi sertifikasi perhotelan dan restoran yang ada di Asean banyak mengadopsi sistem yang ada di Australia," sebutnya.

Saat ini yang perlu dilakukan BNSP adalah meningkatkan sumber daya manusia (SDM) untuk kalangan pelaku perhotelan kelas menengah ke bawah. Harus diakui bahwa tingkat okupasi hotel untuk kelas menengah ke bawah jumlahnya meningkat seiring meningkatnya pelaku bisnis hotel kelas tersebut. Bahkan yang saat ini trend juga bisnis penginapan vila dan motel.

Sementara, Chairman ajar.id, Ikin Solikin menilai rendahnya pekerja profisi untuk meningkatkan kualitas SDM merupakan sebuah tantangan yang harus segera mendapat perhatian. "Selama ini pekerja profesi merasa kesulitan untuk mendapatkan informasi ketika hendak mengikuti seleksi profesi dari bidangnya," sebutnya.

Melalui laman ajar.id, pihaknya memberi kesempatan kepada masyakat untuk belajar (try out) mengikuti proses seleksi sebelum benar-benar mengikuti uji sertifikasi. Saat ini yang dilayani baru pelatihan untuk sertifikasi perhotelan. Ke depannya targetnya seluruh profesi yang menggunakan sertifikasi bisa mengikuti proses pembelajaran dan try out di ajar.id.

Ikin menyebutkan proses try out di ajar.id dilakukan dengan dua tahap. Pertama calon perserta seleksi mengikuti pembelajaran di laman ajar.id dalam beberapa hari yang ditentukan. Kemudian proses pembelajaran dilakuka secara tatap muka antara dua sampai tiga hari, tergantung program sertifkasi yang akan diambilnya.

Ikin mengklaim ajar.id merupakan situs pertama di Indonesia yang memberikan pembelajan khusus bagi masyarakat yang hendak mengambil jenjang sertifikasi keahlian. (dai)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #ajarid #ikin-solikin #badan-nasional-sertifikasi-profesi #sumarna-abdurrahman 

Berita Terkait

IKLAN