Selasa, 20 November 2018 01:07 WIB
pmk

Nusantara

Cerita Mengharukan Seorang Ayah Diajak Anak Nonton MotoGP sebelum Gempa Lombok

Redaktur:

Warga Dusun Loang Sawaq Desa Bentek Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara yang kini tinggal di gubuk-gubuk darurat (imel/jpc)

INDOPOS.CO.ID - Cerita mengharukan dituturkan seorang ayah bernama Suparto yang menjadi korban gempa Lombok. Ia teringat anaknya yang mengajaknya melihat pertandingan MotoGp di televisi sesaat sebelum terjadi gempa pada Minggu malam (5/8/2018).

"Pak, liat Zarco ayo pak, liat MotoGp," ujar Suparto mengenang ucapan anaknya, beberapa menit sebelum gempa terjadi.

Suparto, sebelumnya hendak keluar sebentar dari rumah sesaat sebelum gempa. Namun, saat anaknya yang berusia 4 tahun mengajaknya menonton MotoGP di televisi, ia memutuskan untuk menemani anaknya menonton televisi di dalam rumah.

Baru beberapa menit ayah dan anak itu asyik menonton televisi. Gempa berkekuatan 7 skala richter terjadi. Saat itu juga listrik padam, dan ia pun langsung lari sambil menggendong anaknya tatkala bangunan rumahnya mulai runtuh.

"Malam itu, suara reruntuhan rumah ditambah angin sangat kencang menjadi sangat mengerikan," tutur Suparto di depan gubuk-gubuk tempat tinggal sementara yang dibangun warga secara mandiri, di Lombok, Kamis (9/8/2018).

"Saya gak tahu mbak. Kalau malam itu saya jadi pergi. Saya gak bisa bayangin bagaimana anak saya dan keluarga saya," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia melanjutkan, saking besarnya guncangan tersebut. Suparto mengaku sampai tak bisa berlari, karena dia selalu terjatuh lantaran bumi terus bergoyang hebat. Namun dengan susah payah akhirnya dia tiba di sebuah tanah lapang, lalu mengucap istighfar bersama warga lain sambil merasakan gempa yang tak kunjung berhenti.

Anak-anak menangis kencang tak mau lepas dari ibunya. Ada orang tua sudah sangat sepuh hanya berdiam di dekat reruntuhan, dan tak mampu menggapai tanah lapang, hingga akhirnya dibantu beberapa warga, dan selamat.

Kini, rumah mereka rata dengan tanah. Habis sehabis-habisnya. Mungkin hanya beberapa bantal, selimut, dan pakaian saja yang masih bisa digunakan usai gempa.

"Rata semuanya, kita sudah gak punya apa-apa lagi, kecuali keluarga, dan puing-puing yang bisa kita jadikan tempat tinggal sementara," ujar lelaki berusia 35 tahun itu.

Mereka bangun gubuk-gubuk kecil berukuran sekitar 5x5 meter dari puing-puing sisa rumah mereka yang sudah rubuh. Menumpang di kebun warga yang tinggal di kota, berharap suatu saat tak diusir. Satu gubuk ada 4-5 keluarga, yang artinya ada sekitar 15 orang tinggal disitu.

Mirisnya, desa tempat Suparto tinggal yaitu di Dusun Loang Sawaq Desa Bentek Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara ini masih sangat minim bantuan. Belum tersentuh dengan maksimal karena memang aksesnya yang jauh dari kota.

Warga lain yaitu Murdiyono juga sempat bercerita bahwa mereka hanya makan mie instan yang dikirim oleh beberapa relawan yang lewat. Bukan masalah mie instannya, tapi dalam beberapa hari terakhir sejak gempa mereka hanya menyantap 2 bungkus mie untuk dibagi kepada setiap 1 keluarga.

Oleh karena itu, Murdiyono, Suparto dan beberapa warga lain yang sedang bercerita ini berharap agar ada sedikit bantuan yang mencukupi. Selama ini, mereka berjuang dengan makanan yang mereka ambil dari pohon seperti contohnya kelapa.

"Kami mengerti, dampak gempa ini meluas, dan pasti masih terfokus dibawah (di kota), jadi kami memahami, tapi kami juga berharap ada bantuan yang cukup ke depannya, minimal air dan pangan," pungkas Suparto. (iml/JPC/ind)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #gempa-lombok #gempa-ntb 

Berita Terkait

CBA Minta Pemerintah Tidak PHP Korban Gempa Lombok

Nasional

Gelar Acara Mewah, PHP Korban Gempa

Nasional

Kemensos Kehabisan Dana untuk Lombok

Headline

200 Unit Rumah Tahan Gempa Dibangun di Lombok

Nasional

Gerindra Pertanyakan Kelanjutan Bantuan Gempa Lombok

Nasional

IKLAN