Minggu, 18 November 2018 09:47 WIB
pmk

Hukum

Setelah Pailit Kakak Adik Ini Dihadapkan Kasus Dugaan Penggelapan Uang

Redaktur: Ali Rahman

Foto : Istimewa

INDOPOS.CO.ID - Sidang kelima dugaan kasus penipuan dan penggelapan uang kakak beradik Yuliasiane Sulistiawaty dan Rudi Susiawan berlanjut dengan agenda pemeriksaan empat saksi dari salah satu bank swasta di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Dalam persidangan ini, majelis hakim menanyakan kepada keempat saksi itu terkait alasan mereka melaporkan kasus ini ke dalam ranah pidana. Salah seorang saksi, Gerard Sitompul, yang juga menjadi pelapor dalam kasus ini, mengaku tidak tahu menahu tentang tindak pidana yang dalam kasus yang dilaporkan.

Kepada majelis hakim, Gerrard mengungkapkan jika dirinya hanya diserahi kuasa dari jajaran petinggi bank itu untuk melaporkan Yulia dan Rudi. "Saya hanya diserahi kuasa dari Bank untuk melapor ke kepolisian, tindak pidanya sendiri saya tidak tahu. Berjalannya waktu saya baru tahu kalau laporan saya pidana atas penggelapan," kata Gerrad dalam sidang di PN Jakpus, Rabu (8/8/2018).

Salah seorang anggota hakim pun mencecarnya guna mengetahui lebih detail tentang penggelapan yang dimaksud. Kepada Gerrard, ia bertanya apakah Yulia merupakan bagian dari internal bank tersebut, sehingga tindakannya dapat diduga sebagai penggelapan.

"Bukan, terdakwa bukan dari pihak internal Bank dan saya tidak tahu penggelapannya soal apa," tambah Gerrard.

Sementara, saksi lainnya yang merupakan Account Officer sebuah bank swasta cabang Mangga Dua, Steven, menegaskan jika pelaporan ini dibuat karena terdakwa melakukan penunggakan utang. Penegasan ini diungkapkannya ketika majelis hakim menanyakan kepadanya terkait hal itu. "Bukan (penggelapan, red), karena tunggakan," kata Steven.

Selain itu, dalam pengadilan juga terungkap fakta bahwa Yulia tidak mengatasnamakan korporasi ketika menjadi penjamin kredit yang diajukan Rudi.

Pengacara terdakwa, Mangapul pun sangat meyakini jika pelaporan yang dilakukan bank swasta sangat tidak tepat dan salah alamat. Menurutnya merujuk pada persidangan telah jelas yang dipermasalahkan mengenai utang-piutang, bukan pidana.

"Katakanlah di mekanisme bank ada yang namanya supply change, tapi ini jelas tunggakan, hutang bunyinya tadi di persidangan. Fakta itu bunyinya utang, jadi masuk perdata," jelas Mangapul.

Ia menegaskan jika kliennya merupakan korban dalam kasus ini. "Di sinilah nanti objektifitas hakim diuji. Dia mau mengarahkan ke mana," tambah pria berdarah Batak ini.

Diketahui, kasus yang mendera kakak beradik ini berawal dari proses pengajuan kredit sebanyak dua kali dengan nominal Rp 27 miliar yang dilakukan oleh Rudi kepada bank swasta cabang Mangga Dua. Usai pengajuan dan pengembalian yang pertama selesai, dalam pinjaman kedua, Yulia menjadi penjamin dari kredit yang diajukan Rudi.

Namun bank itu menganggap Rudi masih memiliki tunggakan sebesar Rp 14 miliar. Hal ini disebutkan dalam Surat Dakwaan bernomor perkara: PDM-114/JKTPS/05/2018 yang dikeluarkan Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat.

Padahal dalam putusan Pengadilan Niaga, PT SKW telah dinyatakan pailit lantaran dianggap tidak dapat membayar utang-utangnya. Masalah pailit ini, kata Mangapul, terjadi akibat kliennya telah ditipu ketika menjual saham perusahaan miliknya melalui mekanisme Initial Public Offering (IPO), atau penawaran saham perdana.

"Jadi klien kami ingin mengembangkan bisni perusahaannya. Malangnya justru tertipu," tambah Mangapul.

Dampak dari penipuan dan status pailit ini adalah aset-aset pengambilan secara paksa oleh pihak berwenang. Mangapul menyebutkan sejumlah gudang dan 88 toko milik Yulia yang 'dirampas' begitu saja. "Sementara majelis hakim pengadilan niaga telah menerbitkan putusan perdamaian atau homologasi," jelas Mangapul. (jaa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #penipuan-dan-penggelapan-uang #gerard-sitompul #yuliasiane-sulistiawaty-dan-rudi-susiawan 

Berita Terkait

IKLAN