Sabtu, 15 Desember 2018 07:19 WIB

Politik

PBNU: Terima Kasih Jokowi

Redaktur:

FOTO: Ismail Pohan/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beserta seluruh warga nahdliyin menyambut gembira Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin dipilih Jokowi sebagai calon wakil presiden (cawapres).  Ketua PBNU Kiai Aqil Siradj beserta jajarannya mengaku bahagia serta bersyukur atas pilihan Jokowi tersebut.

"Terimakasih kepada Presiden Jokowi. Saya terimakasih atas kepercayaannya dan amanahnya kepada Kyai Ma'ruf Amin. Semua warga nahdiyin menyambut gembira pilihan Bapak Jokowi ini," ucap Aqil dalam jumpa persnya di Kantor PBNU Jakarta, Kamis (9/8/2018) malam.

Awalnya Aqil tidak menyangka Jokowi bakal memilih Kiai Ma'ruf. Lantaran sejak pagi, nama Mahfud MD hampir dapat dipastikan menjadi pendampingnya. "Allah menunjukkan kebesarannya. Qadla dan Qadarnya, kewenangan Allah tidak ada yang bisa menghalangi. Beliau mendapat amanat dari Allah dan rakyat Indonesia dan Pak Jokowi," katanya.

Aqil lantas menyebut Kiai Ma'ruf sangat ideal dalam berbagai bidang keilmuan mulai dari ilmu-ilmu keislaman hingga bidang ekonomi. Selain itu, Kiai Ma'ruf  juga dinilai sebagai orang yang bersih.

"Beliau sangat ideal. Beliau juga memiliki nilai-nilai untuk menegakkan keadilan. Saya yakin Kiai Ma'ruf mampu menegakan hukum, ulama yang bersih dari masalah-masalah yang biasanya selama ini biasa menyangkut tokoh-tokoh nasional," urainya.

Tak lupa, PBNU juga mengucap terimakasih pada partai politik yang telah mengusung Jokowi - KH. Ma'ruf Amin.

"Kepada parpol koalisi yang tadi rapat berkumpul dengan Pak Jokowi, kami ucapkan terimakasih. Semua setuju, semua tandatangan, tidak ada yang ketinggalan mendukung Pak Jokowi memilih Kiai Ma'ruf sebagai cawapres," tukasnya.

Joko Widodo akhirnya mengumumkan pencalonannya kembali sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024, Kamis (9/8/2018) di Restoran Pelataran Menteng.

"Setelah merenung dan mendengar masukan dari para ulama, ketua umum partai koalisi kerja, dan seluruh relawan di tanah air, dan tentunya dari masyarakat luas, maka dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim saya kembali memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden periode 2019-2024," kata Jokowi.

Dia mengatakan, majunya dia kembali merupakan tanggung jawab besar untuk meneruskan cita-cita perjuangan demi melanjutkan pembangunan yang merata di periode keduanya.

Selain itu, Jokowi juga secara resmi mengumumkan KH  Ma'ruf Amin sebagai cawapres  yang mendampinginya.

"Setelah melalui perenungan yang mendalam, dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan keputusan sangat  penting. Saya memutuskan dan dapat persetujuan dari partai koalisi kerja yang akan dampingi saya. Saya memilih Prof DR KH Ma’ruf Amin," katanya.

Jokowi menjelaskan, alasan dirinya memilih KH Ma'ruf, merupakan sosok yang dikenal religius. Ma'ruf juga memiliki latar belakang jabatan seperti anggota DPR RI, Wantimpres, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia.

"Kami Nasionalis-Relijius. Sembilan partai koalisi Indonesia kerja telah tanda tangan secara utuh. Besok (Jumat hari ini) jam 9 pagi, kami akan mendaftarkan ke KPU. berangkat dari gedung juang 45 menuju KPU beserta para Ketua Umum, Sekjen dan seluruh relawan," tukasnya.

Pengumuman nama Ma’ruf Amin sempat mengejutkan. Karena sebelumnya tersiar kabar, Mahfud MD yang akan menjadi pendamping Jokowi. Bahkan, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu sudah datang ke lokasi deklarasi mengenakan baju putih, sama seperti yang dikenakan Jokowi. Belakangan, namanya pun diganti.

Terdapat penyebab terkait batalnya mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD diduetkan sebagai cawapres Jokowi 'dilast minute'. Diduga lantaran Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak setuju.

"Sebetulnya parpol koalisi Jokowi telah sepakat dengan Mahfud MD sebagai cawapres Jokowi. Namun, di menit-menit terakhir Ketum PDIP dan PKB menolaknya," ungkap politisi Partai NasDem yang enggan disebutkan namanya saat dihubungi INDOPOS, Kamis (9/8) malam.

Alhasil, sambungnya, lantaran ada pihak yang tidak setuju dan dikhawatirkan bisa terjadi perpecahan dalam tubuh koalisi, maka akhirnya dibahas kembali dan mengambil jalan tengah. "Maka disepakatilah Maruf Amin bukan Mahfud MD," tandasnya.

Dikonfirmasikan, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PKB, Dita Indah Sari membenarkan bila partainya menolak Mahfud MD sebagai cawapres Jokowi. "Semua orang boleh dicalonkan dan mengajukan diri, sah-sah saja. Tapi kita harus menghitung cawapres mana yang akan memberikan manfaat semaksimal mungkin untuk Pak Jokowi," kata Dita saat dihubungi, Kamis (9/8).

Menurutnya, Mahfud MD bukan mewakili parpol. Sehingga akan lebih sulit mendapatkan dukungan dari parpol-parpol, terutama yang ada di koalisi. Lalu, Mahfud MD juga tak bisa disebut mewakili kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan unsur mayoritas dari umat Islam di Indonesia.

"Sehingga Pak Mahfud ini karakternya lebih akademisi, profesional. Manfaat politik yang bisa didapat Jokowi jadi minimal, kalau merekrut Pak Mahfud, baik secara politik maupun kultural keumatan. Itulah kenapa kami PKB tentu lebih menganggap Pak Jokowi mendapatkan manfaat lebih besar," paparnya.

Namun terpisah, Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) justru membantah hal tersebut. Menurutnya, PKB tidak pernah menyatakan menerima dan menolak nama lain yang masuk sebagai nominasi cawapres Jokowi.

"Semua (nama cawapres, red) ada di kantong presiden," tandasnya, Kamis (9/8).

Wakil Ketua MPR RI itu membeberkan, pada pertemuannya kemarin dengan Jokowi di Istana Bogor, Rabu (11/7),  masih ada 10 nama cawapres yang dikantongi oleh Jokowi sehingga belum bisa dipastikan siapa cawapres yang dipilihnya.

"Masih banyak nama (cawapres) masih lebih dari 10 nama yang muncul," pungkasnya.

Dia juga mengaku, kemunculan nama Mahfud setelah Presiden Jokowi dan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri bertemu di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, Minggu malam (8/7). Dalam pertemuan itu disebut-sebut Megawati  merestui mantan Mahfud sebagai pendamping Jokowi di pilpres 2019.

Diamini Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PDIP, Eriko Sotarduga. Menurutnya, ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri tidak mengintervensi pemilihan cawapres pendamping Jokowi. Apabila nama Mahfud diganti menjadi Maruf Amin akibat Megawati, hal itu merupakan persepsi keliru di masyarakat.

"Banyak persepsi di masyarakat ini yang perlu diluruskan walaupun katakan sebagai presiden, Jokowi adalah kader PDIP yang terbaik, saya melihat sendiri belum pernah ibu ketua umum itu mencampuri atau mengintervensi," kata Eriko saat dihubungi, Kamis (9/8).

Kendati demikian, dia tak mengelak bila Megawati tentu akan memberikan usulan jika Jokowi memintanya. Hal itu karena, Megawati sebagai Ketua Umum PDIP yang dituakan atas pengalamannya dalam memimpin di masa lalu. "Beliau senior, Bu Mega pernah menjalani sebagai cawapres sebelumnya. Memberikan masukan, ya itu yang selama ini. Itu kita tangkap dalam komunikasi," lanjutnya.

Komunikasi antara Jokowi dan Megawati, kata Eriko, cukup intens. Namun, keduanya diklaim masih memenuhi rambu-rambu yang ada. "Pak presiden tentu harus dihormati, nah sebagai ketum partai, Ibu Mega yang berperan. Dalam hal ini masing-masing menjalankan tugasnya sesuai dengan rambu-rambu yang ada," kilahnya.

Sudah Jahit Baju

Terpisah, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD mengaku telah menyiapkan segala kelengkapan untuk menjadi calon wakil presiden mendampingi Jokowi. Termasuk untuk mengukur baju yang akan dikenakan pada saat nama pakar hukum tata negara itu dideklarasikan. Hal tersebut atas perintah Menteri Sekretaris Negara (Mensekneg), Pratikno dan Sekretarus Kabinet, Pramono Anung yang juga elit PDIP.

Mahfud MD mengatakan, sebenarnya kebersamaan dirinya dengan Jokowi dalam menata Indonesia bukan hal baru. Lantaran mereka berdua sudah sering membicarakan hal-hal tersebut.

Oleh sebab itu, kata Mahfud, saat dirinya diminta oleh Mensekneg,  Pratikno dan Sekretaris Kabinet, Pramono Anung untuk menyiapkan diri termasuk ukur baju untuk dikenakan saat deklarasi, ia pun melaksanakannya.

"Tadi kemudian dipanggil untuk menyerahkan CV oleh Pak Pramono Anung sekaligus siapkan baju," aku Mahfud.

Alhasil, kata Mahfud, segala persiapan untuk maju sebagai cawapres dipersiapkannya. Seperti surat keterangan tidak pernah menjadi terpidana di Pengadilan Negeri (PN) Sleman.

"Iya, Saya tanggal 8 Agustus telah mengajukan permohonan ke PN Sleman," tukasnya.

Tapi rupanya, sambung Mahfud, Jokowi memilih nama lain. Jokowi memilih Ketum MUI, Maruf Amin. "Saya juga sempat menunggu di Restoran Tesate, Jakarta, dimana dekat lokasi Pak Maruf Amin dideklarasikan oleh Pak Jokowi bersama para ketua umum parpol koalisi," ucap Mahfud.

Tapi, masih menuruf Mahfud, kemudian dirinya langsung bergeser, pindah ke lokasi lain karena ada keperluan lain yang lebih penting.

"Saya mau rapat di kantor," kata Mahfud yang datang beserta rombongan.

Disinggung bagaimana perasaannya? Mahfud mengaku, tidak kecewa dengan keputusan Jokowi dan sembilan partai koalisi pendukungnya. "Saya tidak kecewa, kaget saja, karena sudah diminta mempersiapkan diri, bahkan sudah agak detail," kata Mahfud.

Dia juga menambahkan, hal yang dialaminya ini biasa di dalam politik, itu tidak apa-apa. "Kita harus lebih mengutamakan keselamatan negara ini daripada sekadar nama Mahfud, nama Ma'ruf Amin atau nama lain," imbuhnya.

Sekali lagi Mahfud menegaskan, dirinya menerima keputusan tersebut. Ia menilai, proses yang berjalan sangat konstitusional. "Kita mendukung, negara ini harus terus berjalan," tukasnya.

Sementara, Relawan Pro-Jokowi (Projo) menyambut positif pengumuman pasangan Jokowi - KH.Ma'ruf Amin yang diajukan sebagai Capres dan Cawapres dalam Pilpres 2019.

Ketua Projo Budi Arie Setiadi mengatakan, sejak awal Projo tetap solid dan militan untuk mendukung Jokowi siapapun wapres-nya.

"Jadi, dengan di tetapkannya pasangan Jokowi- Ma'ruf Amin, kita tetap konsisten , bergerak bersama, militan untuk memenangkan pasangan ini pada Pilpres 2019," ujar Budi Arie Setiadi kepada INDOPOS, Kamis (9/8).

Budi mengaku percaya, bahwa pria kelahiran Solo itu banyak mempertimbangan alasan memilih kyai Ma'ruf sebagai pendampingnya.

"Kami yakin jika pasangan ini dipilih rakyat dalam Pilpres 2019 mendatang akan membawa kesejukan bagi kita semua. Harga persatuan Indonesia sangat mahal," jelas Budi.

Setelah ini, Budi akan mengerahkan anak buahnya untuk melakukan sosialisasi dan konsolidasi. Projo akan bergerak ke akar rumput, desa- desa untuk memenangkan pasangan ini.

"Kita akan turun ke bawah untuk meyakinkan rakyat bahwa Jokowi Ma'ruf Amin adalah yg terbaik buat Indonesia saat ini," pungkas Budi. (jaa/nug/aen)


TOPIK BERITA TERKAIT: #pilpres-2019 #siapa-penantang-jokowi 

Berita Terkait

DPD PAN Tanah Bumbu Dukung Jokowi

Politik

Diduga Ada Pelanggaran Kampanye

Nasional

IKLAN