Jumat, 19 Oktober 2018 08:50 WIB
pmk

Nasional

Chawang Jadi Ikon, Selama Berkeliling Lampu Dimatikan

Redaktur:

SHOW-Keeper di Jurong Bird Park menunjukkan burung kesayangannya. M. IZZUL MUTHO/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - SELAIN Singapore Zoo dan River Safari, tempat wisata lainnya di Singapura yang dinaungi Wildlife Reserver Singapore (WRS) adalah Night Safari dan Jurong Bird Park. Seperti apa?

M. IZZUL MUTHO, Jurong

PUKUL 21.15 waktu setempat. Meski malam semakin merayap, Night Safari masih ramai. Wajar, tempat wisata seluas 35 hektare itu memang buka pada malam hari. Anteran pengunjung terlihat berbaris sebelum jam buka di tempat yang terdapat 100 jenis hewan itu. Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga banyak. Mereka tentunya harus bayar dulu sebelum masuk, SGD 47 untuk dewasa dan SGD 31 untuk anak-anak.

Setiap malam hari, tempat yang sayang untuk tidak dikunjungi jika ke Singapura ini, buka mulai pukul 19.30 hingga 24.00 atau untuk waktu Jakarta, pukul 18.30-23.00 WIB.

INDOPOS sebenarnya sudah berada di area yang menyambung dengan objek wisata lainnya, Singapore Zoo, pukul 18.20. Setelah makan sembari istirahat sekitar satu jam di Ulu-Ulu Safari Restaurant, tempat makan di Night Safari yang tak jauh dari pintu masuk, dan ke Rainforest Lumina, baru ke Night Safari.

’’Buka pertama pada 26 Mei 1994,’’ kata Senior Manager Corprate Communications Wildlife Reserves Singapore Natt Haniff.

Natt tidak ikut dalam tur malam itu. Yang mendampingi adalah Nur Muhammad, warga Singapura yang dulu pernah menjadi staf di Night Safari, yang kini memilih sebagai volunteer di tempat yang sama.

’’Nanti yang menemani, memandu Nur,’’ ujar Senior Executive Corporate Communications Wildlife Reserves Singapura Loo Jin Xiang sembari memperkenalkan Nur, Selasa (7/8) malam. JX, panggilan akrab Loo Jin Xiang, dan seorang rekannya, sebelumnya memandu berkeliling di Rainforest Lumina, yang berada di kawasan Singapore Zoo, yang beberapa waktu belakangan ini baru dibuka malam hari.

Sebelum berkeliling, Nur menunjukkan jalur di peta yang nanti akan dilalui. Tidak semua area dilalui. Untuk pengunjung, bisa jalan kaki atau naik tram. Butuh waktu tempuh sekitar 40 menit jika naik tram. Itu langsung, tidak berhenti di sejumlah titik yang ada hewannya. ’’Naik tram, gratis,’’ ucap Nur yang pada siang hari bekerja di tempat lain tersebut. Malam itu, INDOPOS dan rombongan naik buggy, yang muat delapan orang, termasuk sopir. Untuk pengunjung, jika ingin naik buggy harus merogoh kocek SGD 138. Baik tram maupun bunggy, lampunya tidak dinyalakan. ’’Kalau ambil gambar, jangan pakai flash. Ini supaya tidak menarik perhatian hewan,’’ ungkapnya.

Sembari menyetir, Nur menjelaskan sejumlah hewan yang menghuni Night Safari. Di beberapa lokasi, menyempatkan berhenti, tapi tidak turun dari buggy. Dibantu cahaya lampu listrik, asal tidak ngumpet, hewan yang berada di sisi kanan dan kiri jalur yang dilalui, terlihat jelas.

Antara jalan dan lokasi hewan ada yang diberi pembatas berupa lekukan yang diberi air agar hewan tidak bisa melompat ke jalan. Ini untuk hewan yang berbahaya. Bahkan, diberi pagar kaca tinggi di lokasi harimau. Sedangkan untuk tempat hewan-hewan yang tidak berbahaya, tidak ada pembatas. Tak jarang ada hewan yang melintas jalur yang dilalui pengunjung. Seperti rusa yang di antaranya didatangkan dari Indonesia. Malam itu, terlihat sekelompok rusa. 

’’Selama ini tidak ada kejadian hewan dengan pengunjung,’’ imbuh Nur yang sudah enam tahun bergabung di Night Safari.

Jika Singapore Zoo punya ikon orang utan dan River Safari panda, ikon Night Safari adalah gajah. Tiba di lokasi gajah, sekitar pukul 22.00, INDOPOS dan rombongan berhenti sekitar 15 menit. Turun dari buggy. ’’Silakan yang mau ngasih makan gajah,’’ ajak Nur. Sejurus kemudian, seorang keeper, penjaga gajah, datang membawa wadah yang di dalamnya ada makanannya. Di antaranya pisang. Di sebelah kiri jalan yang dilalui, gajahnya betina, termasuk yang kecil. Sedangkan di sebelah kanan jalan, ada dua gajah yang ditempatkan terpisah, jantan semua. Salah satunya bernama chawang. Satunya lagi, wira.

’’Gajah ada enam, termasuk baby. Empat betina dan dua jantan. Chawang didatangkan dari Malaysia. Arti nama itu adalah sungai,’’ terang Nur yang sebagai volunteer masuk kerjanya hanya dua hari dalam seminggu.

Pria yang mengaku punya datuk di Kendal, Jawa Tengah, itu menjelaskan, setiap gajah diberi nama. Selain chawang, ada yang namanya Neha, artinya cinta. Ada juga yang bernama Jamila. Setiap hari sebanyak 100-120 kg makanan harus disediakan untuk gajah tersebut. Selain pisang dan semangka, ada buah-buahan lain dan rerumputan.

’’Chawang ibaratnya ketuanya. Usianya 42 tahun. Jadi ikon tempat ini. Dia dipisah tempatnya sama pejantan satunya, karena bisa berantem. Dia cukup sensitif. Makanya kita tidak berhenti di lokasi chawang,’’ imbuh Nur sembari meneruskan perjalanan naik buggy setelah selesai memberi makan empat gajah betina.

Selain Night Safari yang terletak di Mandai, Singapura, pengunjung dapat menikmati aneka burung di Jurong Bird Park. Tempatnya di Jurong, beda lokasi dengan River Safari, Singapore Zoo, dan Night Safari. Perjalanan menggunakan naik kendaraan sekitar 30 menit. Buka kali pertama pada 1971. Sudah tua, seusia WRS yang tahun ini sudah 45 tahun.

’’Tiket masuk SGD 30 untuk dewasa dan SGD 20 untuk anak-anak. Buka setiap hari, mulai pukul 08.30-18.00. Luasnya 20, 2 hektare,’’ ujar Natt.

Di tempat ini ada 3.500 burung dari 400 spesies. Para pengunjung bisa jalan kaki atau naik tram untuk melihat beragam burung. Sejumlah pertunjukan juga disuguhkan. ’’Juga ada air terjun buatan,’’ imbuh Natt. Sejak dibuka, air terjun dengan ketinggian 100 kaki itu sudah ada.(*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #singapore-zoo 

Berita Terkait

Makan Pagi Bersama Indah, Anita, dan Kansa

Internasional

IKLAN